Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Air Mata Santri ketika Lulus dari Pesantren dan Mulai Menghadapi Dunia

Ketika santri lulus pesantren/SMA, ada setidaknya 3 point rumit yang harus dihadapi kalau dia bukan 'anak orang kaya' :

1. Mau cari kerja, bingung kerja apa. Mereka gak punya skill mumpuni ketika lulus dari pondok. Sarjana universitas pun banyak yang nganggur, apalagi cuma sekedar santri lulusan pesantren. 

2. Mau lanjut kuliah, bingung gak ada biaya. Sudah gak ada biaya, dia gak punya informasi tentang dunia perkuliahan. Dipesantren gak pernah pegang HP, informasi dari santri lain atau pengajar juga barangkali terbatas.
_____

Kuliah jurusan agama : 

Barangkali ada nama universitas yang menawarkan beasiswa seperti LIPIA, UIM, dan univ lain di saudi. Tapi, gak semua bisa ada rezeki untuk kuliah disana. 

LIPIA yang harus berkompetisi tes masuk dengan ribuan calon mahasiswa. Sedangkan tidak semua santri Lulusan pesantren punya kapatisas baik untuk lolos di tes tersebut.

UIM yang masa menunggunya lama, terlebih banyak juga santri yang gak ngerti dan gak faham bagaimana cara daftar di website tersebut.  

Gimana dengan Univ-univ saudi lainnya yang kasih beasiswa ? Kendalanya lagi-lagi, mereka masih belum faham karena minimnya informasi di dapatkan ketika masih dipesantren.  
_______

Kuliah jurusan umum : 

Mereka gak punya biaya untuk menunjang kehidupan perkuliahan. Kos, makan, praktek, UKT dan lain sebagainya, DARI MANA DUITNYA ?

Informasi tentang KIP, LPDP, BPI dan lainnya mungkin juga belum sampai karena minimnya akses informasi tersebut ketika dipondok. 

Kalaupun sampai informasinya, cara dapatinnya gak mudah dan belum tentu bisa untuk didapati. 

Kuliah sambil kerja bisa jadi solusi. Tapi kembali lagi, "cari kerja gak semudah itu." Apalagi cuma santri yang gak punya skill apa-apa. 

_____

Banyak santri yang sudah jenuh maksimal dikekang bertahun-tahun dalam pesantren, jadi ketika megang handphone dan dunia berasa terbuka untuknya, fokus pertama mereka adalah 'hiburan' seperti game, video, film dan lain sebagainya. 

Fikiran tentang impian masa depan langsung seketika tertutup karena asiknya hiburan-hiburan yang baru mereka rasakan setelah lulus dari pesantren. 

Disisi lain, persaingan dunia semakin ketat, ekonomi negara semakin buruk, kezoliman-kezoliman penguasa semakin keji. 

____

Tepuk tangan dan ucapan selamat dari pesantren hanya untuk mereka yang memiliki prestasi dan berhasil masuk ke kampus ternama. 

"Selamat untuk fulan atas diterimanya sebagai mahasiswa kampus A. Selamat untuk fulanah atas diterimanya sebagai mahasiswi kampus B"

"Selamat atas lulusnya fulan di universitas A, B, C" 

Tapi, untuk mereka para santri yang keluar tidak menjadi apa-apa, tidak memiliki kebanggan apa-apa, namanya akan hilang dan dilupakan. 
______

3. Mereka yang lulusan pesantren selalu  mendapat ekspetasi mata lebih dari para masyarakat. 

Ketika standar lulusan pesantren ini tidak sesuai ekspetasi di mata mereka, ada 2 golongan yang biasanya akan berkomentar : 

Golongan 1 : wah kamu lulusan pesantrennya? Percuma kamu mondok lama-lama tapi gak Hafal Qur'an, gak bisa baca kitab, gak bisa bahasa arab, gak bisa khutbah, ceramah dan lain sebagainya. 

Golongan 2 : Lihat kan, percuma kamu pesantren lama-lama. Sekarang susah cari kerja, nganggur, gak bisa ngapa-ngapain. Buang-buang waktu aja dipesantren. 

Akhirnya karena lelahnya hati dan mental menghadapi cacian dan hujatan semacam ini, banyak lulusan pesantren yang membuang jubah pesantrennya dan mulai mendeklarasikan diri kepada dunia seakan menunjukan "jangan ekspetasi lebih lagi dengan saya, lihat saya hanya anak biasa yang berusaha mencari jati diri"

Yang menyakitkannya lagi, mereka yang mulai tidak nyaman dengan lisan dan ekspetasi orang-orang kepadanya, mulai merasa nyaman dengan teman-teman yang menjauhkan dirinya dari Allah dan semua ilmunya dipesantren. 

Mereka yang dulu sangat rajin dipesantren, rajin menghafal, rajin belajar, sangat banyak ibadahnya.

Mulailah mendekati hal-hal yang Allah haramkan, merokok, minum, narkoba, judi online, pelacuran, dan lain sebagainya. 

Meski saya yakin, dalam titik yang sangat jauh ini, mereka selalu berharap dalam hati kecilnya untuk bisa kembali seperti dirinya yang dulu. Berharap ada seseorang yang bisa menerima mereka dengan hangat, untuk menata diri lagi menjadi baik lagi dekat dengan Allah Azza wa Jalla. 
____

Maka, tolong dengan sangat untuk kita orang-orang yang mungkin telah sukses, semangat, bermental baja, pintar, soleh, baik, terkenal, punya jabatan tinggi dan lain sebagainya. 

Jangan sampai lisan kita dan ucapan kita terlalu menyakiti mereka para santri yang baru lulus dari pesantren. 

Karena mereka berbeda dengan pelajar umum, mereka menanggung beban pandangan ekspetasi orang-orang  yang seakan mereka adalah malaikat yang tidak boleh melakukan salah. Juga harus pintar ilmu agama seperti bacaan Qur'an, baca kitab, bahasa arab dan lain sebagainya. 

Dibanding hanya mencaci dan mencibir atas banyaknya kekurangan yang mungkin mereka miliki, alangkah lebih baiknya jika kita turut bantu mengarahkan atau membimbing mereka tanpa harus menyakiti perasaan mereka. 

_____

Tambahan :

Tulisan ini dibuat untuk pengingat bagi 4 pihak : 

1. Lembaga Pesantren : Supaya jangan lupa ikut andil membimbing dan mengarahkan para santrinya tentang bagaimana berkompetisi di dunia luar, dan apa saja yang perlu dipersiapkan. 

2. Orang tua : Agar jangan cuma menuntut prestasi dari sang anak, tapi juga harus bantu memantau dan mempersiapkan apa yang mereka butuhkan untuk berkompetisi di dunia setelah lulus pesantren. 

3. Santri : Jangan terlalu berleha-leha ketika di pesantren dan setelah lulus dari pesantren. Jangan anggep setelah lulus kalian bisa lakuin apa aja. Inget, kalian bukan anak orang kaya! Harus berusaha memperbanyak wawasan dan persiapan untuk menghadapi dunia luar. Ikhtiar semaksimal mungkin, dunia tidak akan lembek kepada kalian. Terakhir, jangan lupa meminta pertolongan Allah dan jangan ragu kepada Allah. 

4. Masyarakat umum : Jangan sampai karena ekspetasi tinggi kepada anak pesantren, lisan dan ucapan menjadi sangat nyakitin untuk mereka. Tetap berusaha jangan sampai orang itu lari dari hidayah Allah karena lisan kita.

Sungguh, hidayah dan takdir adalah milik Allah azza wa jalla. Kita manusia hanya bisa berusaha dan mempersiapkan hati. Akhir skenario tetap Allah yang tau. 


🖊Muhammad Nur Ramadhan

Filosofi Pendirian Yayasan

Mengenai pendirian yayasan

▪️ pelajari betul mengenai filosofi pendirian yayasan

▪️ yayasan bersifat nirlaba

▪️ mendirikan yayasan bukan kendaraan untuk mencari kekayaan, apalagi untuk segelintir orang

▪️ jika ingin mencari kekayaan bukan dengan kendaraan yayasan tapi dengan mendirikan badan usaha yg sifatnya laba seperti PT, dst. atau silakan ber-entrepeneur, bisnis franchise, dst.

Lalu apa tujuan mendirikan yayasan?

silakan baca kembali dengan teliti UU No.28 Tahun 2004 (https://peraturan.bpk.go.id/Home/Details/40703/uu-no-28-tahun-2004), ataupun PP No.2 Tahun 2013 (https://peraturan.bpk.go.id/Details/5333/pp-no-2-tahun-2013) seharusnya pihak yg ingin mendirikan yayasan lebih bersemangat mencari tahu, kemudian silakan konsultasikan dengan ahlinya. Diantara yg kami rekomendasikan:

▪️ Ust. Dr. Abu Zakariya Sutrisno (Pengasuh PP Hubbul Khoir Sukoharjo, Dosen UNS Solo, Alumni S3 KSU Arab Saudi)

https://www.facebook.com/abu.zakariya.sutrisno?mibextid=ZbWKwL

▪️ Tito Hadi Priyatna (Advokat dan Konsultan Hukum)

https://www.facebook.com/titohadi.priyatna?mibextid=ZbWKwL

▪️ Muhammad Arifin Masruri (Konsultan Bisnis dan Keuangan, Pendampingan Manajemen UMKM dan Lembaga Pendidikan)

https://www.facebook.com/muhammadarifinmasruri?mibextid=ZbWKwL

▪️ dll.

Silakan baca2:

▪️ https://www.indonesiana.id/read/146150/memahami-hakikat-yayasan-bagi-pendiri-yayasan#

▪️ https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid0snbxwjB4eVD89tbti3nAVSZ45s1uWcWTcNUidJh5ScLcvvMA4LkXGbHPdzjK2badl&id=1431218871&mibextid=Nif5oz

▪️ https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid05EVX3jU5o5xm7BVWZE8qFwwAxdMY7JVkZUffyRCjTN3XYyhsKRztP2j5nEMqwD88l&id=1410423718&mibextid=Nif5oz

▪️ dll.

Ibnu Musthofa

JALUR, JENJANG, DAN JENIS PENDIDIKAN DI INDONESIA

JALUR, JENJANG, DAN JENIS PENDIDIKAN DI INDONESIA

A. Jalur Pendidikan

1. Pendidikan formal: Pendidikan Diniyah Formal (PDF) Ula/Wustha/Ulya, SD/SMP/SMA, MI/MTs/MA, dll.

2. Pendidikan nonformal: Pendidikan Kesetaraan Pondok Pesantren Salafiyah (PKPPS) tingkat Ula/Wustha/Ulya, Pendidikan Kesetaraan Paket A/B/C, Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Keaksaraan, dll. 

3. Pendidikan Informal: Pendidikan lingkungan keluarga

B. Jenjang Pendidikan

1. Pendidikan Anak Usia Dini: TK/RA/sederajat

2. Pendidikan Dasar: SD/MI/sederajat dan SMP/MTs/sederajat

3. Pendidikan Menengah: SMA/MA/SMK/MAK/sederajat

4. Pendidikan Tinggi: pendidikan diploma, sarjana, magister, spesialis, dan doktor

C. Jenis Pendidikan

1. Pendidikan keagamaan islam

a. Pesantren

1) Sebagai satuan pendidikan: Pengajian kitab kuning/program takhasus, atau Dirasah islamiyah dengan pola pendidikan mu’allimin

2) Sebagai penyelenggara pendidikan: pendidikan diniyah formal (PDF), pendidikan diniyah nonformal, pendidikan umum, pendidikan umum berciri khas islam, pendidikan kejuruan, pendidikan kesetaraan, pendidikan mu’adalah, pendidikan tinggi, dll.

b. Pendidikan diniyah

1) Pendidikan diniyah formal (PDF): PDF Ula/Wustha/Ulya/Ma’had Aly

2) Pendidikan diniyah nonformal: Madrasah diniyah takmiliyah, pendidikan Al-Quran, majelis taklim, dll. 

3) Pendidikan diniyah informal: pendidikan keagamaan islam lingkungan keluarga

2. Pendidikan umum: SD/SMP/SMA, Program Paket A/B/C, dll.

3. Pendidikan umum berciri khas islam: MI/MTs/MA, SDIT/SMPIT/SMAIT, dll.

4. Pendidikan kejuruan: SMK

5. Pendidikan kejuruan berciri khas islam: MAK

6. Pendidikan akademik, profesi, vokasi, khusus, dll. 

Rujukan: UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas, PP No. 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan, PMA No. 13 Tahun 2014 tentang Pendidikan Keagamaan Islam, dll.

Dari informasi di atas dapat dipahami bahwa pemerintah memberikan legitimasi dan perhatian yang sangat besar untuk kemajuan pendidikan islam di tanah air. Pendidikan keagamaan islam dapat diselenggarakan pada semua jalur pendidikan, baik pendidikan formal, nonformal, maupun informal, serta pada semua jenjang baik jenjang pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah, maupun pendidikan tinggi. Khusus untuk pesantren, pemerintah telah melegitimasi untuk dapat menyelenggarakan pendidikan baik sebagai satuan pendidikan maupun penyelenggara pendidikan. Bahkan, istimewanya lagi, pesantren sebagai penyelenggara pendidikan bukan hanya dapat menyelenggarakan pendidikan keagamaan islam tetapi juga dapat menyelenggarakan pendidikan umum, pendidikan kejuruan, pendidikan kesetaraan, pendidikan tinggi, dst.  

Ibnu Musthofa

Guru Bidang Diniyah Mengajar Bidang Umum, Aibkah?

Guru Bidang Diniyah Mengajar Bidang Umum, Aibkah ?

Guru bidang diniyah yg mumpuni mengajar bidang umum (terlebih yang memang pernah kuliah/lulusan bidang umum) tidaklah menurunkan ketsiqahan keilmuannya di bidang diniyah, bahkan terkadang maslahatnya lebih besar, apalagi jika memang dibutuhkan (misalnya lembaga tempat bernaung kekurangan guru bidang umum).
Berikut beberapa contoh asatizah (yg notabene dikenal keilmuan diniyahnya di tanah air, bahkan masing-masing dari mereka punya kajian rutin kitab ulama) yg juga berpengalaman mengajar keilmuan bidang umum.

1. Ust Ammi Nur Baits
(mengajar fisika di yufid edu)
https://youtu.be/6WuXNF5grec

2. Ust Muhammad Abduh Tuasikal (mengajar kimia di yufid edu), bahkan S2 beliau di Arab Saudi masih bidang kimia.
https://youtu.be/OA1Wsog6jnI

Saat ini, selain ambil S3 ekonomi syariah di Univ. Ibnu Khaldun Bogor, beliau sudah lebih dulu ambil S3 manajemen pendidikan di UNY.

3. Ust Noor Akhmad Setiawan, Ph.D. (dosen teknik elektro UGM)
https://m.facebook.com/nasetiawan/about?lst=1818219610%3A1047101720%3A1596783305

4. Ust dr. Raehanul Bahraen, M.Sc., Sp.P.K.
(dosen kedokteran Universitas Mataram)

5. Ust Dr. Andy Octavian Latief (dosen fisika ITB; mengajar fisika & matematika di yufid edu).
https://youtu.be/HqX4LVFhG6Y

https://youtu.be/uzvfg-q83FA

6. Ust Andy Bangkit, Ph.D. rahimahullah (lulusan UI & Univ. Hiroshima Jepang). Semasa hidup beliau mengajar sastra jepang di salah satu universitas di tanah air

7. Dll. masih banyak lagi.

Ditulis 07 agustus 2020 (telah diedit seperlunya)
ibnu musthofa

Mengenal Kata Homonim, Homograf, dan Homofon

*Mengenal kata homonim, homograf, dan homofon*

*Homonim*: kata yg *penulisan dan pengucapannya sama* tetapi maknanya berbeda (tergantung konteks).
Contoh:
Kata *hak* (bisa berarti milik, benar, atau telapak sepatu bagian tumit), *bulan* (bisa berarti satelit alami atau periode waktu 29/30 hari), dll.

*Homograf*: kata yg *penulisannya sama* tetapi *pengucapan dan maknanya berbeda*.
Contoh:
Kata *apel* (pengucapan ditebalkan jika yg dimaksud jenis buah-buahan dan ditipiskan jika yg dimaksud upacara), *tahu* (diucap terpisah *ta-hu* jika yg dimaksud jenis lauk-pauk dan diucap *tau* jika yg dimaksud kenal/mengerti), dll.

*Homofon*: kata yg *pengucapannya sama*, tetapi *penulisan dan maknanya berbeda*.
Contoh:
Kata *sangsi* (berarti ragu-ragu) dan *sanksi* (berarti hukuman), *bank* (lembaga keuangan) dan *bang* (kakak laki-laki), dll.

*Tambahan*:
Dalam bahasa Indonesia, ada banyak kata lain yg pengucapannya juga berbeda dengan penulisannya.
Contoh:
Kata *masyarakat* (dibaca *masarakat*), *syarat* (dibaca *sarat*), *doa* (dibaca *do-'a*), dll.
Dalam bahasa Indonesia juga dikenal proses adopsi dan adaptasi.
(silakan baca: https://ibnu-musthofa.blogspot.com/2019/03/mengenal-proses-peng-indonesia-istilah.html?m=0)
Makanya tidak perlu dikoreksi orang yg menulis kata berikut:
salat, tasyrik, akidah, akhlak, fikih, hadis, selawat, silaturahmi, insyaallah, dll., bahkan itulah penulisan yg baku menurut KBBI.

Semoga ada manfaatnya. Jika ada perbedaan pandangan, tentu hal yg biasa terjadi dlm dunia akademis 😊

*Ibnu Musthofa*

Pembelajaran Jarak Jauh Bukan Hanya Daring

*Pembelajaran Jarak Jauh Bukan Hanya Daring*

Pandemi Corona Virus Disease 2019  (Covid 19) memang melumpuhkan setiap sektor kehidupan, diantaranya adalah pendidikan, namun pendidikan kita tidak boleh lumpuh proses Belajar dan pembelajaran harus tetap berjalan, dan salah satu solusi yang di tawarkan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan adalah dengan Belajar dari Rumah (BDR) dan salah satu pendekatan yang banyak di gunakan oleh satuan pendidikan adalah Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dalam jaringan/online (Daring) yang menggunakan gadget atau laptop serta akses internet.

Permasalahan yang muncul di kalangan orang tua dan masyarakat dalam hal ini banyak orang tua yang keberatan terutama bagi kalangan menengah kebawah dimana mereka masih banyak yang tidak memiliki gadget ataupun laptop, pun belum berhenti disana masalah kuota juga menjadi perdebatan yang sengit dikalangan orang tua peserta didik dan masyarakat.

Disisi lain, berdasarkan Keputusan Bersama 4 (Empat) Menteri, Tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran pada Tahun Ajaran 2020/2021 dan Tahun Akademik 2020/2021 di Masa Pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) Tanggal 15 Juni 2020 menyebutkan bahwa Satuan Pendidikan yang berada di Zona Kuning, Oranye dan Merah, dilarang melakukan proses Pembelajaran Tatap Muka (PTM) di satuan pendidikan dan tetap melanjutkan kegiatan Belajar dari Rumah (BDR).

Hal ini pun tidak bisa dipandang sebelah mata karena di Kabupaten Subang masuk satu dari 22 kabupaten/kota (81 persen) yang Risiko Rendah (Zona Kuning)(pikobar.jabarprov.go.id 22/7/2020). Dalam hal ini, maka kegiatan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) tidak boleh dilaksanakan, dan kita selaku pelaku pendidikan harus memahami dan mencari solusi sehingga Pembelajaran harus tetap berjalan tanpa ekses.

Dalam SE Kemendibud No. 15 Tahun 2020 menjelaskan bahwa Metode dan media Pelaksanaan Belajar dari Rumah (BDR) dilaksanakan dengan *Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang dibagi kedalam dua pendekatan yaitu Daring (Dalam Jaringan) dan Luring (Luar Jaringan).*

Hal ini yang menjadi titik tekan kita selaku pelaku pendidikan dalam menentukan pembelajaran yang akan digunakan di sekolah dengan melihat berbagai *aspek pendukung diantaranya Fasilitas/Akses Belajar Siswa, Fasilitas/Akses orang tua/pendamping, Fasilitas/Akses Guru dan Fasilitas/Akses Sekolah*, aspek tersebutlah yang akan menentukan arah kebijakan pada satuan pendidikan, dan *selaku satuan pendidikan tidak bisa memaksakan hanya dengan satu pendekatan daring saja* yang pada prinsipnya harus menggunakan gadget atau laptop serta jaringan internet dan ini sangat membebani bagi orang tua peserta didik yang berada dalam kalangan menengah kebawah.

Frame yang terbentuk dikalangan orang tua peserta didik dan masyarakat PJJ hanyalah Daring, *padahal ada alternatif lain yakni Luring yang tidak memerlukan gadget atau laptop serta jaringan*, dimana dalam pendekatan Luring peserta didik *bisa belajar menggunakan Radio, Televisi, Modul Belajar Mandiri dan Lembar Kerja, dan alat peraga yang terdapat di lingkungan rumah*. ini merupakan jawaban terbaik dalam “kegalauan” orang tua peserta didik maupun masyarakat.

Secara teknis pendekatan luring tidak terlalu membebani orang tua peserta didik yang harus mempunyai/membeli gadget atau laptop, bisa memanfaatkan sarana yang ada baik itu di lingkungan rumah atau lingkungan sekitar dengan penyelarasan modul pembelajaran dari Guru.

Dari sudut pandang yang berbeda peran serta orang tua peserta didik dalam pembelajaran selama pandemi covid-19, sinergitas antara satuan pendidikan dan orang tua peserta didik tidak kalah pentingnya dalam permasalahan pembelajaran yang kita hadapi selama pademi covid-19. Dengan komunikasi yang baik antara satuan pendidikan dengan orang tua peserta didik dan masyarakat akan teranalisis kendala yang dihadapi selama pembelajaran jarak jauh baik itu secara daring ataupun luring sehingga bisa menjadi dasar menentukan kebijakan dalam satuan pendidikan.

*Jayartih, Penulis adalah Guru di SMPN Tambakdahan Subang*

https://www.tintahijau.com/milenial/opini/21448-opini-pembelajaran-jarak-jauh-bukan-hanya-daring/amp

HARUSKAH ANAKKU RANGKING 1 ?

Di kelasnya terdapat 50 orang murid, setiap kali ujian, anak perempuanku tetap mendapat ranking ke-23. Lambat laun membuat dia mendapatkan nama panggilan dengan nomor ini, dia juga menjadi murid kualitas menengah yang sesungguhnya. Sebagai orangtua, kami merasa nama panggilan ini kurang enak didengar,namun ternyata anak kami  menerimanya dengan senang hati.

Suamiku mengeluhkan ke padaku, setiap kali ada kegiatan di perusahaannya atau pertemuan alumni sekolahnya, setiap orang selalu memuji-muji “Superman cilik” di rumah masing-masing, sedangkan dia hanya bisa menjadi pendengar saja. Anak keluarga orang, bukan saja memiliki nilai sekolah yang menonjol, juga memiliki banyak keahlian khusus. Sedangkan anak kami rangking nomor 23 dan tidak memiliki sesuatu pun untuk ditonjolkan. Dari itu, setiap kali suamiku menonton penampilan anak-anak berbakat luar biasa dalam acara televisi, timbul keirian dalam hatinya sampai matanya begitu bersinar-sinar.

Kemudian ketika dia membaca sebuah berita tentang seorang anak berusia 9 tahun yang masuk perguruan tinggi, dia bertanya dengan hati kepada anak kami: “Anakku, kenapa kamu tidak terlahir sebagai anak dengan kepandaian luar biasa?” Anak kami menjawab: “Itu karena ayah juga bukan seorang ayah dengan kepandaian yang luar biasa”. Suamiku menjadi tidak bisa berkata apa-apa lagi, saya tanpa tertahankan tertawa sendiri.

Pada pertengahan musim, semua sanak keluarga berkumpul bersama untuk merayakannya, sehingga memenuhi satu ruangan besar di sebuah restoran. Topik pembicaraan semua orang perlahan-lahan mulai beralih kepada anak masing-masing. Dalam kemeriahan suasana, anak-anak ditanyakan apakah cita-cita mereka di masa mendatang? Ada yang menjawab akan menjadi pemain piano, bintang film atau politikus, tiada seorang pun yang terlihat takut mengutarakannya di depan orang banyak, bahkan anak perempuan berusia 4½ tahun juga menyatakan bahwa kelak akan menjadi seorang pembawa acara di televisi, semua orang bertepuk tangan mendengarnya.

Anak perempuan kami yang berusia 15 tahun terlihat sangat sibuk sekali sedang membantu anak-anak kecil lainnya makan. Semua orang mendadak teringat kalau hanya dia yang belum mengutarakan cita-citanya kelak. Di bawah desakan orang banyak, akhirnya dia menjawab dengan sungguh-sungguh: Kelak ketika aku dewasa, cita-cita pertamaku adalah menjadi seorang guru TK, memandu anak-anak menyanyi, menari lalu bermain-main. Demi menunjukkan kesopanan, semua orang tetap memberikan pujian, kemudian menanyakan akan cita-cita keduanya. Dia menjawab dengan besar hati: “Saya ingin menjadi seorang ibu, mengenakan kain celemek bergambar Doraemon dan memasak di dapur, kemudian membacakan cerita untuk anak-anakku dan membawa mereka ke teras rumah untuk melihat bintang”. Semua sanak keluarga tertegun dibuatnya, saling pandang tanpa tahu akan berkata apa lagi. Raut muka suamiku menjadi canggung sekali.

Sepulangnya kami kembali ke rumah, suamiku mengeluhkan ke padaku, apakah aku akan membiarkan anak perempuan kami kelak menjadi guru TK?

Apakah kami tetap akan membiarkannya menjadi murid kualitas menengah?

Sebetulnya, kami juga telah berusaha banyak. Demi meningkatkan nilai sekolahnya, kami pernah mencarikan guru les pribadi dan mendaftarkannya di tempat bimbingan belajar, juga membelikan berbagai materi belajar untuknya.Anak kami juga sangat penurut, dia tidak lagi membaca komik lagi, tidak ikut kelas origami lagi, tidur bermalas-malasan di akhir minggu tidak dilakukan lagi.Bagai seekor burung kecil yang kelelahan, dia ikut les belajar sambung menyambung, buku pelajaran dan buku latihan dikerjakan terus tanpa henti. Namun biar bagaimana pun dia tetap seorang anak-anak, tubuhnya tidak bisa bertahan lagi dan terserang flu berat. Biar sedang diinfus dan terbaring di ranjang, dia tetap bersikeras mengerjakan tugas pelajaran, akhirnya dia terserang radang paru-paru. Setelah sembuh, wajahnya terlihat semakin kurus. Akan tetapi ternyata hasil ujian semesternya membuat kami tidak tahu mau tertawa atau menangis, tetap saja rangking 23. Kemudian, kami juga mencoba untuk memberikan penambah gizi dan rangsangan hadiah, setelah berulang-ulang menjalaninya, ternyata wajah anak perempuanku kondisinya semakin pucat saja.

Apalagi, setiap kali akan menghadapi ujian, dia mulai tidak bisa makan dan tidak bisa tidur, terus mencucurkan keringat dingin, terakhir hasil ujiannya malah menjadi nomor 33 yang mengejutkan kami. Aku dan suamiku secara diam-diam melepaskan aksi tekanan, dan membantunya tumbuh normal.

Dia kembali pada jam belajar dan istirahatnya yang normal, kami mengembalikan haknya untuk membaca komik, mengijinkannya untuk berlangganan majalah “Humor anak-anak” dan sejenisnya, sehingga rumah kami menjadi tenteram damai kembali. Kami memang sangat sayang pada anak kami ini, namun kami sungguh tidak memahami akan nilai sekolahnya.

Pada akhir minggu, teman-teman sekerja pergi rekreasi bersama. Semua orang mempersiapkan lauk terbaik dari masing-masing, dengan membawa serta suami dan anak untuk piknik. Sepanjang perjalanan penuh dengan tawa dan guyonan, ada anak yang bernyanyi, ada juga yang memperagakan karya seni pendek.

Anak kami tiada keahlian khusus, hanya terus bertepuk tangan dengan sangat gembira.

Dia sering kali lari ke belakang untuk mengawasi bahan makanan. Merapikan kembali kotak makanan yang terlihat sedikit miring, mengetatkan tutup botol yang longgar atau mengelap wadah sayuran yang bocor ke luar. Dia sibuk sekali bagaikan seorang pengurus rumah tangga cilik.

Ketika makan terjadi satu kejadian di luar dugaan. Ada dua orang anak lelaki, satunya adalah bakat matematika, satunya lagi adalah ahli bahasa Inggris. Kedua anak ini secara bersamaan berebut sebuah kue beras yang di atas piring, tiada seorang pun yang mau melepaskannya, juga tidak mau saling membaginya. Walau banyak makanan enak terus dihidangkan, mereka sama sekali tidak mau peduli. Orang dewasa terus membujuk mereka, namun tidak ada hasilnya. Terakhir anak kami yang menyelesaikan masalah sulit ini dengan cara yang sederhana yaitu lempar koin untuk menentukan siapa yang menang.

Ketika pulang, jalanan macet dan anak-anak mulai terlihat gelisah. Anakku membuat guyonan dan terus membuat orang-orang semobil tertawa tanpa henti. Tangannya juga tidak pernah berhenti, dia mengguntingkan banyak bentuk binatang kecil dari kotak bekas tempat makanan, membuat anak-anak ini terus memberi pujian. Sampai ketika turun dari mobil bus, setiap orang mendapatkan guntingan kertas hewan shio-nya masing-masing.

Ketika mendengar anak-anak terus berterima kasih, tanpa tertahankan pada wajah suamiku timbul senyum bangga.

Selepas ujian semester, aku menerima telpon dari wali kelas anakku.

Pertama-tama mendapatkan kabar kalau nilai sekolah anakku tetap kualitas menengah. Namun dia mengatakan ada satu hal aneh yang hendak diberitahukannya, hal yang pertama kali ditemukannya selama lebih dari 30 tahun mengajar.Dalam ujian bahasa ada sebuah soal tambahan, yaitu siapa teman sekelas yang paling kamu kagumi dan alasannya.

Selain anakku, semua teman sekelasnya menuliskan nama anakku.

Alasannya pun sangat beragam : antusias membantu orang, sangat memegang janji, tidak mudah marah, enak berteman, dan lain-lain, paling banyak ditulis adalah optimis dan humoris.

Wali kelasnya mengatakan banyak usul agar dia dijadikan ketua kelas saja.

Dia memberi pujian: “Anak anda ini, walau nilai sekolahnya biasa-biasa saja, namun kalau bertingkah laku terhadap orang, benar-benar nomor satu”.

Saya bercanda pada anakku, kamu sudah mau jadi pahlawan. Anakku yang sedang merajut selendang leher terlebih menundukkan kepalanya dan berpikir sebentar, dia lalu menjawab dengan sungguh-sungguh: “Guru pernah mengatakan sebuah pepatah, ketika pahlawan lewat, harus ada orang yang bertepuk tangan di tepi jalan.”

Dia pun pelan-pelan melanjutkan: “Ibu, aku tidak mau jadi Pahlawan aku mau jadi orang yang bertepuk tangan di tepi jalan.” Aku terkejut mendengarnya dan mengamatinya dengan seksama.
Dia tetap diam sambil merajut benang wolnya, benang warna merah muda dipilinnya bolak balik di jarum, sepertinya waktu yang berjalan di tangannya mengeluarkan kuncup bunga.
Dalam hatiku pun terasa hangat seketika.

Pada ketika itu, hatiku tergugah oleh anak perempuan yang tidak ingin menjadi pahlawan ini. Di dunia ini ada berapa banyak orang yang bercita-cita ingin menjadi seorang pahlawan, namun akhirnya menjadi seorang biasa di dunia fana ini.Jika berada dalam kondisi sehat, jika hidup dengan bahagia, jika tidak ada rasa bersalah dalam hati, mengapa anak-anak kita tidak boleh menjadi seorang biasa yang baik hati dan jujur.

Jika anakku besar nanti, dia pasti menjadi seorang isteri yang berbudi luhur, seorang ibu yang lemah lembut, bahkan menjadi seorang teman kerja yang gemar membantu, tetangga yang ramah dan baik.
Apalagi dia mendapatkan ranking 23 dari 50 orang murid di kelasnya, kenapa kami masih tidak merasa senang dan tidak merasa puas?

Masih ingin dirinya lebih hebat dari orang lain dan lebih menonjol lagi?

Lalu bagaimana dengan sisa 27 orang anak-anak di belakang anakku? Jika kami adalah orangtua mereka, bagaimana perasaan kami?

Sumber: http://abul-jauzaa.blogspot.com/2013/07/haruskah-anakku-rangking-1.html

Siapa Bilang Islam Anti-Pancasila ?

*Siapa bilang Islam Anti-Pancasila: Kecerdasan Mohammad Hatta*

Kecerdasan Mohammad Hatta, menyikapi desakan segelintir orang yg tdk setuju dg bunyi sila ke-1 "Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat islam bagi pemeluk-pemeluknya": diantaranya beliau mengusulkan mengubah redaksi "Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat islam bagi pemeluk-pemeluknya" menjadi "Ketuhanan Yang Maha Esa". Padahal hakikatnya maknanya sama, satu yakni bertauhid/mengesakan Tuhan.
Adakah agama yg paling memahami dn mengamalkan sila ke-1 ini selain islam?
Adakah agama yg ajarannya hanya meng esakan Tuhan dan tdk menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun?
Bahkan banyak sekali sekutu-sekutu yg mereka ibadati selain "tuhan"nya, padahal sila ke-1 dengan tegas menyatakan "Ketuhanan Yang Maha Esa". Yang namanya Esa sdh disepakati maknanya baik secara etimologi maupun terminologi. Tidaklah dikatakan mengesakan, jika masih menyekutukan Tuhan (baik menyekutukannya dengan berhala, pohon, matahari, malaikat, nabi, jin, dll. yg tidak berhak diibadati).
Bahkan, pancasila itu sila-silanya semuanya sesuai dengan islam, asalkan ditafsir secara sahih menurut ajaran islam. Dan islam lah yg paling memahami dan mengamalkan sila-sila dlm pancasila, islamlah yg mengajarkan utk mengesakan Tuhan dan tdk menyekutukan-Nya sedikitpun; berbuat baik kpd sesama, tolong-menolong, toleransi, tdk memaksakan agamanya kpd pemeluk agama lain; mengajak bersatu diatas kebenaran; menjunjung tinggi musyawarah dlm setiap permasalahan dengan penuh hikmah; dan mengajak pemeluknya utk berbuat adil dlm segala perkara, bahkan dengan pemeluk agama lain sekalipun.

*ibnu musthofa*

Untukmu Para Guruku

*Untukmu para guruku*

Fenomena wali murid yg tidak terima anaknya dihukum, bahkan ada yg melaporkan guru ke polisi

Begini saja, silakan renungkan ini :

- Entah mengapa murid yg ortunya doyan "menyalahkan" (tanpa memberi solusi) guru/sekolah biasanya memang "bermasalah" di sekolah (bahkan setelah pindah ke sekolah lain pun tambah bermasalah)

- Sangat jarang kita dapati murid yg ortunya sering menyalahkan tsb, anaknya berprestasi (baik prestasi akhlak maupun akademik), bahkan anaknya cenderung "bermasalah". Kalaupun berprestasi secara akademik, sering kita dapati akhlaknya yg kurang ajar. Kepintaran akademik yg dimiliki tdk membawa berkah, tdk memberi manfaat bagi orang lain. Bahkan, kepintarannya cenderung digunakan utk kesombongan, pamer, dan mendebat orang.

- Jika kita baca sejarah2 para ulama, tokoh2 islam yg menjadi panutan umat, sangat jarang didapati (jika tdk mau dikatakan tdk ada) orangtua mereka doyan menyalahkan guru, bahkan mereka meminta kpd guru agar tdk sungkan2 memberikan hukuman (bahkan dg cara memukul) anaknya jika melanggar aturan/tdk beradab kpd guru. Bandingkan dg zaman sekarang !.
Karena orangtua2 dahulu sangat tahu betul akan berkahnya ilmu, akan pentingnya memuliakan dan beradab kpd guru. Karena jika keberkahan ilmu sudah hilang, berarti alamat si anak akan "gagal" dlm belajar.

- Sangat jarang (jika tdk mau dikatakan tdk ada), para ulama/ tokoh2 besar yg tdk pernah dihukum guru dlm sejarah belajarnya (ada yg dipukul dg rotan, dijewer telinganya, dll.), silakan tdk usah jauh2 ke ulama/tokoh2 internasional, baca saja sejarah ulama2/tokoh2 tanah air semisal buya hamka, muhammad natsir, habibie, dll. Orang secemerlang dan sejenius mereka pun pernah namanya merasakan "indahnya" dihukum guru.

- Sejarah tdk pernah mencatat ulama/ tokoh2 besar yg dibesarkan oleh orangtua2 yg doyan menyalahkan/memprotes guru (apalagi melapor guru kpd polisi). Silakan cari di semua referensi2 sejarah.

Dan sudah dimaklumi, sejarah akan senantiasa berulang

الجزاء من جنس العمل

*ibnu musthofa*

PERMASALAHAN PENDIDIKAN DI SUMSEL PADA ERA DIGITAL

Berikut beberapa permasalahan pendidikan, terutama pendidikan islam di Sumsel pada era digital yang menurut saya paling penting untuk dikaji dan dicarikan solusi:

1. Praktik Kesyirikan di Kalangan Terpelajar/Masyarakat

Islam telah memberi cahaya hidayah yang terang benderang kepada manusia dari gelapnya kesyirikan. Mengangkat kejahilan dari menghamba kepada selain Allah menjadi manusia yang menjunjung tinggi ilmu dan tauhid. Sangat disayangkan, di zaman sekarang yang ilmu pengetahuan dan teknologi semakin maju ternyata tidaklah menjamin terjaganya akal dan hidayah seseorang dari budaya kesyirikan. Praktik iklan perdukunan, ramalan, zodiak, jimat, dan semisalnya semakin meluas, baik di media cetak maupun elektronik. Fenomena yang sangat disayangkan lagi, banyak peserta didik dan guru berbondong-bondong pergi ke kuburan yang dianggap keramat untuk meminta pertolongan kepada penghuni kubur agar dimudahkan dan dilancarkan ujian nasionalnya. Begitu juga orang yang berpendidikan dan bertitel banyak yang membawa jimat ketika melamar pekerjaan, bahkan ketika tes CPNS Sumsel tahun 2018 lalu banyak peserta yang kedapatan membawa jimat sehingga akhirnya dilarang mengikuti tes.

Fenomena ini menunjukkan bahwa ada masalah dalam pendidikan akidah yang diajarkan di lingkungan keluarga, sekolah, atau pun masyarakat. Bisa jadi masalah terdapat pada konten/materi akidah yang diajarkan, metode pengajaran, kompetensi guru/pendidik, atau pun anak/peserta didik itu sendiri. Hal ini tentu saja perlu mendapat perhatian yang serius dari kita, terutama pemerintah, pendidik, dan orang tua untuk mencari akar permasalahannya.

Oleh karena itu, pendidikan akidah harus menjadi prioritas utama dalam kurikulum pendidikan islam. Pendidikan akidah harus dimulai dari sejak dini dari lingkungan keluarga. Orang tua harus mengajarkan dan mendidik anaknya dengan pendidikan akidah islam yang telah diajarkan dan dicontohkan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam dan para sahabatnya serta memasukkan anaknya pada lembaga pendidikan yang perhatian terhadap perbaikan akidah umat. Begitu juga di lembaga pendidikan, pemerintah memperbanyak jam pelajaran pendidikan agama islam, terutama konten akidahnya. Para pendidik muslim harus menanamkan pendidikan akidah ke seluruh jenjang pendidikan, bukan hanya pendidikan usia dini, dasar, dan menengah, tetapi juga pendidikan tinggi (perguruan tinggi). Mata pelajaran selain PAI pun harus dimasukkan muatan akidah di dalamnya, seperti matematika, IPA, dan seterusnya. Sebagai contoh, ketika guru matematika menjelaskan konsep bilangan satu maka bisa dimasukkan muatan akidah seperti Allah itu satu, Allah satu-satunya pencipta, Allah satu-satunya tuhan yang berhak disembah, dll. Pendidikan akidah yang ditanamkan dan diajarkan haruslah sesuai dengan pendidikan akidah yang telah diajarkan dan dicontohkan oleh Nabi shallallahu’alaihi wasallam dan para sahabatnya. Nabi shallallahu’alaihi wasallam tidak pernah mengajarkan kepada umatnya untuk meminta-minta kepada kuburan atau pun tempat-tempat yang dianggap keramat agar dimudahkan urusan, dikabulkan hajat, atau diluluskan ujian. Begitu juga praktik-praktik perdukunan, jimat, ramalan, dan lain sebagainya dilarang dalam islam karena termasuk kesyirikan.

2. Peredaran/Pemakaian Narkoba Semakin Tinggi

Kemudahan akses informasi di era digital, membuat peredaran narkoba semakin meningkat ke berbagai lapisan umur, pendidikan, dan wilayah. Tidak hanya kalangan remaja dan dewasa, di kalangan anak-anak, bahkan di bawah umur pun terkena pengaruhnya. Begitu juga tingkat pendidikan, mulai dari yang tidak berpendidikan/tidak bersekolah, SD, SMP, SMA, hingga perguruan tinggi, bahkan orang yang sudah berderet titel dan menjadi tokoh pun bisa terpengaruh. Di pedesaan jangan dikira aman dari narkoba, kondisi pedesaan yang jauh dari pengawasan aparat menjadi lahan subur bagi para pengedar menjual racun generasi ini.

Oleh karena itu, semua pihak harus berpartisipasi dalam memberantas peredaran narkoba ini. Pihak yang berwenang seperti kepolisian dan BNN harus di garda terdepan dalam memutus mata rantainya sampai ke akarnya. Para orang tua harus dari sejak dini mencegah anak-anaknya mendekati narkoba, menanamkan pendidikan agama dan akhlak, begitu juga peran pendidik sangat penting dalam mengarahkan dan membimbing peserta didiknya agar kuat mental spiritual akhlaknya, tidak mudah terpengaruh dengan ajakan-ajakan untuk mencoba narkoba. Kurikulum sekolah harus dimasukkan dan dikuatkan nilai-nilai pendidikan karakternya, termasuk di dalamnya pendidikan antinarkoba. Pihak-pihak lain pun tidak bisa dipandang kecil perannya dalam mengajak masyarakat untuk menjauhi narkoba, seperti para pendakwah, praktisi kesehatan, tokoh masyarakat, dan lain sebagainya.

3. Penggunaan Teknologi yang Terlalu Dini/Tidak Bijak

Di era digital ini, kemajuan teknologi informasi terutama internet dan gadget begitu cepat. Hal yang tidak aneh lagi anak balita sudah pandai bermain gadget, pandai bermain internet. Perkembangan anak-anak yang masih dalam masa golden age, yang para psikolog perkembangan mengatakan bahwa yang terbaik adalah beraktivitas, belajar, atau bermain langsung dengan lingkungan alam dan sosial sekitarnya, terkalahkan dengan layar mini gadget. Hal ini bukan berarti kalangan remaja dan dewasa aman-aman saja dari pengaruh buruk gadget/internet ini. Di antara efek negatifnya, ketika orang tua atau teman mengajak berbicara, orang yang saking fokusnya bermain gadget matanya tidak tertuju ke lawan bicara tetapi fokus ke layar gadget nya sehingga seringkali dia gagal paham atau tidak nyambung dengan apa yang dibicarakan lawan bicaranya dan ini membuat lawan bicaranya merasa tidak dihargai. Hal ini bukanlah berarti kita antipati dengan kemajuan teknologi, tetapi teknologi ibarat pisau bermata dua, tergantung siapa yang menggunakan pisau dan untuk apa pisau digunakan. Artinya, syarat penggunaan teknologi itu paling tidak memenuhi dua syarat yaitu penggunanya harus cerdas dan tujuan penggunaannya juga harus benar.

Oleh karena itu, menurut saya, praktisi pendidikan terutama psikolog perkembangan pendidikan islam perlu membuat penelitian mendalam tentang usia berapa seseorang anak itu boleh menggunakan gadget/internet dan untuk tujuan apa saja boleh digunakan. Anggap saja usia sekolah dasar boleh menggunakan gadget/internet, tapi apakah hal yang bijak membolehkan anak usia SD menggunakan gadget/internet tanpa pengawasan dengan dalih mencari tugas/mengerjakan PR dari guru?, Apakah seusia itu memang sudah seharusnya dikenalkan cara mengakses internet?, dan pertanyaan-pertanyaan semisal yang sebenarnya tidak butuh jawaban langsung tapi penelitian yang mendalam terkait psikologi perkembangan anak dikaitkan dengan penggunaan teknologi ini. Banyak kasus kenakalan anak dan remaja, bahkan orang dewasa pun disebabkan oleh penggunaan internet/gadget yang tidak bijak seperti kecanduan nonton konten porno, kecanduan game online, kecanduan judi online, dan lain sebagainya.

4. Menipisnya Budaya Malu

Malu yang dimaksud di sini dalam artian malu yang positif yaitu malu melakukan hal-hal yang tidak terpuji. Malu yang sebagaimana sabda Nabi bahwa malu termasuk bagian dari iman. Fenomena mengumbar aurat dan merokok di depan umum, korupsi, memotong antrian, bersentuh-sentuhan bahkan saling berciuman dan berpelukan dengan bukan mahram dengan dalih persahabatan, dan yang lebih parah lagi praktek prostitusi dan judi online yang sudah terang-terangan, dan lain sebagainya merupakan fenomena yang sudah menjadi hal yang lumrah pada zaman sekarang ini, terlebih di era informasi yang mengalir begitu deras ini.

Oleh karena itu, peran orang tua dan pendidik dalam mengajarkan dan mendidik peserta didik dengan nilai-nilai agama, nilai-nilai akhlak dan karakter harus dilakukan dari sejak dini, terutama dalam hal menerapkan budaya malu ini. Anak/peserta didik harus dibiasakan memakai pakaian yang sopan/menutup aurat ketika keluar rumah, menjauhi rokok apalagi narkoba dan miras, menjauhi segala bentuk korupsi, tertib mengantri, pergaulan dengan lawan jenis sesuai adab-adab islam, dan jika sudah masanya nanti mampu menggunakan teknologi secara bijak.   

Lembaga pendidikan islam harus berada di saf terdepan dalam memberikan keteladanan terhadap budaya malu ini. Para guru harus menjadi contoh dalam berpakaian yang islami, tidak merokok, menjauhi korupsi dari yang paling kecil termasuk korupsi waktu, pergaulan antarguru yang bukan mahram dijaga sesuai adab-adab islami, dan tidak sibuk bermain gadget ketika sedang mengajar di kelas. Artinya, budaya malu ini harus diperkuat dalam implementasi pendidikan karakter di dalam dan di luar sekolah. Sehingga budaya malu senantiasa dilakukan terus-menerus bukan hanya di lingkungan masjid dan sekolah, tetapi kapan dan di mana pun seseorang berada.  

5. Degradasi Sosial

Di antara dampak negatif penggunaan teknologi yang tidak bijak di era digital yang mulai terasa sejak semakin derasnya perkembangan dan kemajuan internet dan android yaitu degradasi sosial. Fenomena fokus menatap gadget ketika berkomunikasi dengan orang lain, berkurangnya sosialisasi terhadap tetangga karena sepulang kerja sudah sibuk dengan “teknologi”nya, berkurangnya silaturahmi secara langsung terhadap sanak famili karena sudah merasa cukup dengan komunikasi via telepon/video call, berkurangnya kepekaan dan kepedulian terhadap orang yang membutuhkan bantuan, bahkan berkurangnya simpati dan empati terhadap orang yang terkena musibah/kecelakaan. Betapa banyak orang yang bukannya sibuk membantu sebisa mungkin terhadap orang yang terkena kecelakaan/musibah, malah sibuk memvideokan bahkan berselfy ria di dekat peristiwa tersebut lalu memviralkannya di sosial media, padahal konten yang dia ambil dan bagikan belum tentu layak untuk dipublis dan ditonton oleh banyak orang dari berbagai usia. Sebenarnya, banyak hal yang bisa dilakukan ketika melihat peristiwa tersebut seperti menghubungi dan meminta bantuan pihak yang berwenang, membantu membawa ke rumah sakit, memberikan sumbangan/donasi sosial, dan semisalnya.

Oleh karena itu, sudah saatnya orang tua dan pendidik menjadi teladan dalam memiliki kepedulian dan jiwa sosial yang tinggi. Orang tua membuat organisasi dalam keluarganya lengkap dengan tugasnya masing-masing, orang tua dan pendidik menatap mata anak/peserta didik ketika berkomunikasi bukan fokus menatap gadget, orang tua aktif ikut serta dalam kegiatan/amal sosial di lingkungannya seperti gotong royong, pos siskamling, takziyah, dan sebagainya. Orang tua/guru sebisa mungkin langsung mendatangi ahli musibah bukan hanya sekedar ucapan belasungkawa via telepon atau whatsapp. Orang tua mengajak anak-anaknya untuk terbiasa bersilaturahmi secara langsung ke rumah keluarganya secara rutin, tidak cukup hanya dengan menanyakan kabar lewat telepon, whatsapp, dan seterusnya. Bukan berarti kita antipati atau tidak mau memanfaatkan teknologi, tetapi jangan sampai kebutuhan dan intensitas kita terhadap teknologi lebih tinggi dibanding sosialisasi/komunikasi secara langsung sehingga mengurangi kepedulian dan jiwa sosial kita terhadap keluarga, tetangga, dan masyarakat, sehingga lama-kelamaan disadari atau tidak disadari mengakibatkan degradasi sosial dan bersikap apatis terhadap lingkungan sekitar.

6. Guru yang Kurang Kompeten

Guru tidak menguasai disiplin ilmu yang diajarkan menjadi permasalahan yang cukup serius, terlebih lagi guru yang mengajar mata pelajaran keagamaan. Padahal, guru tidak hanya dituntut harus menguasai disiplin ilmu yang diajarkan, tetapi juga ilmu prasyarat dari disiplin ilmu tersebut. Misalnya, fikih prasyaratnya ushul fikih, hadis prasyaratnya musthalah hadis, PAI prasyaratnya bahasa arab, fisika prasyaratnya matematika, dst.

Sebagai contoh, guru pendidikan agama islam seharusnya sudah menguasai dengan baik ilmu bahasa arab karena ilmu bahasa arab adalah prasyarat dari ilmu islam. Tetapi, realitanya banyak guru PAI yang tidak paham bahasa arab, bagaimana mungkin dia bisa mengajarkan dan mendidik islam secara utuh. Padahal sumber utama islam yaitu Al-Quran dan Al-Hadis semuanya berbahasa arab. Kitab-kitab para ulama pun mayoritas berbahasa arab. Mengandalkan buku terjemahan atau aplikasi terjemah online pun bukanlah solusi yang tepat untuk masalah ini karena apa yang dipahami penerjemah seringkali berbeda dengan yang dipahami penulis aslinya dan bahkan penerjemah banyak yang salah memahami atau menafsirkan maksud dari penulis sehingga pembaca mendapatkan pemahaman yang keliru. Contoh lain, guru fisika harus sudah menguasai ilmu prasyaratnya yaitu matematika. Namun, berbeda dengan guru PAI yang banyak tidak menguasai bahasa arab, guru fisika rata-rata sudah menguasai dengan baik matematika. Para akademisi atau peneliti perlu mengadakan penelitian lebih lanjut tentang fenomena ini agar bisa diketahui masalahnya dan dicarikan solusi bersama. Barangkali bisa dimulai dari penelitian mengenai tingkat kompetensi bahasa arab guru PAI dan tingkat kompetensi matematika guru fisika di Palembang sebagai tahap awal.  

Dengan demikian, bukan hanya peserta didik yang harus mengetahui bakat, minat, dan keahliannya, tetapi juga guru/pendidik pun harus mengajarkan ilmu yang sesuai dengan bakat, minat, dan keahliannya.         

7. Budaya Bully dan Berita Hoax Makin Meningkat

Budaya mem-bully dan menyebarkan berita hoax semakin meningkat tajam baik di kalangan orang terpelajar maupun orang awam seiring dengan pesatnya kemajuan media sosial. Mem-bully, menyebarkan berita dusta/hoax, mencemarkan nama baik, berkomentar negatif, bahkan pelecehan online pun menjadi fenomena yang sedang masif pada era digital ini.

Banyak kita mendengar kasus pelajar/mahasiswa yang fotonya diambil secara diam-diam kemudian diupload di internet lalu di-bully habis-habisan oleh warga internet, penyebaran video porno atau sadisme lewat media sosial, menyebarkan pesan berantai berita dusta bahkan hadis palsu, saling berkomentar negatif bahkan berkata-kata kotor, mencemarkan nama baik seseorang tanpa bukti, dst. Kasus-kasus seperti ini semakin menyadarkan kita semua sebagai pengguna internet/media sosial agar menjadi orang yang cerdas dalam ber-medsos/internet dan menggunakan internet/medsos untuk tujuan yang bermanfaat, seperti belajar, mengajar, berdakwah, amal sosial, berbisnis, dst.

Oleh karena itu, jauhilah menulis atau berkomentar yang negatif atau memancing debat kusir, mengupload/membagikan konten porno/mengumbar aurat atau kekerasan, menyebarkan berita hoax atau hadis palsu, mem-bully atau melecehkan orang lain, memecah belah, apalagi menghina atau mengolok-olok pemerintah/aparatur negara, dst. Jika tidak dapat berkata atau menulis yang baik/positif maka lebih baik kita diam/tidak menulis sebagaimana perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.           

Ibnu Musthofa

Pentingkah Seorang Pendidik di Lembaga Pendidikan Melanjutkan Pendidikan ?

Seringkali ketika sebagian "guru/ustaz" yg berkecimpung di lembaga pendidikan yg legal (baca: punya regulasi/kebijakan dari pemerintah yg harus ditaati oleh guru tsb) disarankan utk melanjutkan pendidikannya (terutama bagi yg tidak/blm selesai S-1) untuk meningkatkan kompetensi/keahliannya, mereka berdalih, "bukankah ustaz/guru fulan keilmuannya diakui walau tdk sarjana", "bukankah ustaz fulan hafal al-quran walau bukan lulusan kuliah tahfiz", "bukankah ustaz fulan hafal ratusan bahkan ribuan hadis walau bukan lulusan kuliah hadis", "bukankah ijazah tdk menjamin keilmuan seseorang", "bukankah ustaz fulan tahan berjam-jam belajar dan membaca buku walau cuma tamat SD", dst. 

Ingin rasanya mengatakan ke "guru" tsb, "bagus sekali jika Anda bisa seperti ustaz fulan yg keilmuannya diakui walau tdk sarjana,  sudahkah Anda seperti ustaz fulan?", "bagus sekali jika Anda hafal al-quran walau bukan lulusan kuliah tahfiz,  sudahkah Anda seperti ustaz fulan?", "istimewa sekali jika Anda hafal ratusan bahkan ribuan hadis seperti ustaz fulan, sudahkah Anda seperti ustaz fulan?", "bagus sekali jika Anda bisa seperti ustaz fulan yg tahan berjam-jam belajar dan membaca buku walau cuma tamat SD, sudahkan Anda seperti ustaz fulan?", dst.

"Tahukah Anda jika lembaga pendidikan tempat Anda bekerja tsb bisa beroperasi karena ada izin dari pemerintah?", "Tahukah Anda diantara persyaratan izin operasionalnya, lembaga pendidikan tsb harus punya guru yg sarjana?", Tahukah Anda pemerintah mensyaratkan persyaratan kualifikasi akademik bagi seseorang yg ingin menjadi guru?", "Bukankah Anda sudah tdk asing lagi dengan bunyi hadis, 'الْمُسْلِمُوْنَ عَلَى شُُرُوْطِهِمْ' ?", "Sudahkah Anda penuhi syarat-syarat itu?".

Taruhlah Anda tetap "kokoh" dengan pendirian Anda untuk tetap "stagnan". Sudahkah semangat dan kesungguhan Anda dalam belajar/menuntut ilmu "sekokoh" seperti semangat dan kesungguhan Anda untuk tetap "stagnan"? "Sudahkah Anda tahan membaca dan mentelaah buku-buku para ulama/ilmuwan sampai berjam-jam seperti ustaz fulan yg tidak tamat sekolah yg Anda idolakan tsb, atau paling tidak mendekati semangat beliau dalam membaca?".

Taruhlah Anda belum bisa memenuhi kualifikasi akademik yg dipersyaratkan pemerintah, atau belum bisa seperti ustaz fulan yg keilmuannya diakui walau tdk sarjana, maka "Sudahkah Anda disiplin dalam mengajar?", "Sudahkah Anda disiplin dalam menjalankan deadline tugas yg ditugaskan kepada Anda?", "Sudahkah Anda menganggap bahwa menjadi guru/ustaz di lembaga pendidikan yg legal tempat Anda bernaung adalah bukan karena kerjaan sampingan, bukan karena Anda tidak diterima atau tidak mampu bekerja ditempat lain, tetapi karena memang pilihan Anda untuk menjadi seorang pendidik profesional?". Pertanyaan-pertanyaan yg sebenarnya tidak perlu dijawab oleh seorang "guru", karena bisa terkena kepada siapa saja, termasuk orang awam yg menulis tulisan ini. Abaikan coretan ini jika tdk ada manfaatnya bagi Anda.  

Ibnu Musthofa

Pembelajaran yang Menyenangkan

Pembelajaran yg menyenangkan tidak harus identik dengan teriak-teriak, nyanyi-nyanyi, lucu-lucuan, ataupun yg semisalnya. Namun yg dimaksud pembelajaran yg menyenangkan adalah pembelajaran yg menyenangkan yg bernilai secara akademik.

Ketika Syaikh al-Albani rahimahullah, pernah mengambil buku di rak yang tinggi, beliau menggunakan tangga, ketika membuka buku tersebut beliau membacanya dan tidak turun dari tangga tetapi tetap berdiri di tangga tersebut sambil membaca selama lebih dari 6 jam saking "menikmatinya". Maka beliau dikatakan telah melakukan pembelajaran yg menyenangkan.

Ketika Buya Hamka rahimahullah sedang asyik "berdiam diri" menulis Kitab Tafsir Al-Azhar (kitab tafsir terbaik yg pernah ada di Indonesia sepanjang sejarah karya ulama dalam negeri) di dalam penjara sampai bertahun-tahun maka beliau telah melakukan pembelajaran yg menyenangkan.

Ketika Prof.B.J.Habibie rahimahullah asyik berjam-jam "memikirkan" konstruksi pesawat terbang maka beliau telah melakukan pembelajaran yg menyenangkan.

Ketika Musa Hafiz Cilik hafizhahullah asyik berjam-jam duduk menyetor hafalan al-Qurannya kepada ayahnya (tanpa diselingi nyanyi-nyanyi ataupun joget-joget) maka beliau telah melakukan pembelajaran yg menyenangkan.

Ketika murid-murid bisa asyik dan menikmati kegiatan menulis, membaca, menghafal, dan memahami pelajaran-pelajarannya (walaupun disana tanpa adanya nyanyi-nyanyi, teriak-teriak, joget-joget, dll.) maka mereka telah melakukan pembelajaran yg menyenangkan.

#Coretan ini banyak mengambil faedah dari mata kuliah Perencanaan Pengembangan Pendidikan Islam yg diampu Dr. Amir Rusdi, M.Pd.

Ibnu Musthofa

Lebih tepat mana: "Siapa namamu ?" atau "Apa namamu ?"

"What is your name ?"

Kalimat percakapan/perkenalan bahasa Inggris di atas tentu sudah populer di telinga kita, bahkan sekarang di sekolah-sekolah sudah diajarkan dari sejak SD. Kita semua pun dari sejak sekolah dulu, acapkali diajarkan menerjemahkan kalimat di atas dengan "Siapa namamu ?".

Sebenarnya, kalau kita mau sedikit koreksi, penerjemahan di atas keliru. Terjemahan yg paling tepat menurut kami adalah "Apa namamu ?".

Di antara alasannya adalah sebagai berikut:

1. Kalimat tanya tersebut ditujukan untuk menanyakan lafaz/penyebutan "nama", bukan menanyakan pribadi orang itu sendiri. Sedangkan telah kita sepakati dalam ilmu bahasa (baik bahasa inggris maupun bahasa arab) bahwa "nama" itu termasuk kata benda yg tidak hidup (benda mati). Maka seringkali ketika seseorang memperkenalkan namanya, ia ucapkan satu per satu huruf-huruf dari namanya agar orang yg mendengarnya tidak salah memanggil namanya.

2. Maka tidak salah kalimat bahasa Inggris di atas menggunakan kata tanya "what", bukan "who", karena memang ditujukan utk menanyakan "nama" (benda mati)

3. Hal ini bisa dibuktikan dengan bahasa internasional yg lain yaitu bahasa arab.
"مَا اسْمُكَ ؟"
Kalimat bahasa arab di atas menggunakan kata tanya مَا, bukan مَنْ
Karena memang dalam bahasa arab, kata اسْمٌ termasuk اسم غير عاقل (isim yg tidak berakal)

Dengan demikian, terjemahan yg paling tepat adalah "Apa namamu ?" karena lebih sesuai dengan aspek lughawi/bahasa maupun maknawi/istilah, baik ditinjau dari bahasa inggris maupun bahasa arab.
Jika pun memang ingin menggunakan terjemahan "siapa", maka sebaiknya tidak menggunakan kalimat di atas, tetapi bisa menggunakan kalimat tanya, "Who are you?" (siapa Anda?), atau "مَنْ أَنْتَ ؟" (siapa Anda?)

Contoh terjemahan kalimat percakapan lain yg menurut kami keliru yaitu pada kalimat tanya "How are you?". Sering diterjemahkan "Apa kabar ?" atau "Apa kabarmu ?"

Menurut kami terjemahan yg lebih tepat yaitu "Bagaimana keadaanmu?" atau "Bagaimana kabarmu?". Hal ini bisa dibuktikan dari aspek lughawi/bahasa dan maknawi/istilah, baik ditinjau dari bahasa Inggris maupun bahasa Arab (sebagaimana alasan di atas).

Bahasa Inggris kalimatnya "How are you ?", bukan "What are you?".
Begitu pun bahasa arab, kalimatnya "كَيْفَ حَالُكَ؟"، bukan "مَا حَالُكَ؟"

Itulah barangkali sisi keunikan bahasa Indonesia. "Apa" bisa menjadi "Siapa" dan "Bagaimana" malah bisa menjadi "Apa" :)

Semoga goresan ini ada manfaatnya.

Ibnu Musthofa 

Mengenal Proses Penyerapan Kata Asing: Adaptasi dan Adopsi

Dalam pelajaran bahasa Indonesia, proses penyerapan kata/istilah asing di antaranya adalah adaptasi. Adaptasi adalah penyerapan kata/istilah asing yg penulisannya disesuaikan dengan ejaan bahasa Indonesia, tetapi maknanya tidak diubah (sesuai makna kata asalnya)
contoh:
1. tawakkul --> tawakal
2. zakat fitri --> zakat fitrah
Dengan demikian, tidak menjadi masalah jika istilah zakat fitrah digunakan dalam bahasa Indonesia, asalkan maknanya tidak diubah sebagaimana asalnya yakni zakat fitri (zakat yg diwajibkan karena kaum muslimin kembali berbuka/telah selesai menunaikan puasa ramadhan). Bahkan sebagian ulama memang ada yg menamakannya dengan zakat fitrah. (selengkapnya silakan baca:
https://muslim.or.id/26035-fikih-ringkas-seputar-zakat-fitri.html)
3. computer --> komputer
4. maximal --> maksimal
5. dll.

Ada juga kata yg secara asal dari bahasa asing, tetapi berubah penulisan karena masuk bahasan kata baku-tidak baku (EYD)
contoh:
1. rizki (tdk baku) ---> rezeki (baku)
2. mahram (baku) ---> muhrim (tidak baku).
Dalam bahasa Indonesia,  kata muhrim termasuk kata yg tidak baku jika disinonimkan dengan kata mahram (orang yg haram dinikahi).
Akan tetapi, jika muhrim diartikan sesuai kata aslinya (orang yg sedang ihram) maka muhrim termasuk kata yg baku. Bahkan kata muhrim termasuk contoh proses adopsi. Lain halnya dengan adaptasi,  adopsi adalah penyesuaian kata asing ke dalam ejaan bahasa indonesia yg penulisan dan maknanya tidak berubah.
contoh: muslim, muhrim, halal, haram, ilmu, kafir,  detail, video,  dll.
3. silaturahim (tdk baku) ---> silaturahmi (baku).
Dengan demikian, pun tidak menjadi masalah jika kata silaturahmi digunakan dalam bahasa indonesia karena termasuk bentuk baku menurut ejaan bahasa Indonesia, asalkan maknanya tidak diubah dari kata aslinya yakni silaturrahim (menyambung tali kekerabatan/kekeluargaan).
Tentang tidak masalahnya istilah silaturahmi digunakan dalam bahasa Indonesia, silakan bisa dibaca di https://konsultasisyariah.com/19840-silaturrahmi-ataukah-silaturahim.html ,
https://muslimafiyah.com/salah-kaprah-makna-silaturahmisilaturahim.html
4. dll.

Semoga coretan ini ada manfaatnya.

Palembang,  6 Maret 2019
Ibnu Musthofa

Di Antara Tujuan Nikah: Saling Melengkapi Kekurangan Pasangan

Di antara tujuan nikah yakni saling melengkapi kekurangan pasangan,
perhatikan poin2 berikut yg dianggap "remeh" oleh sebagian orang tapi sangat penting :

- Jika Anda para lelaki biasanya waktu lajang makan dimasakin ibu atau beli di luar bagi yg ngekos, maka carilah istri yg suka masak (walau tidak mahir2 amat) agar bisa melengkapi kekurangan Anda. Jika Anda masih sering dimasakin ibu/mertua atau beli makan di luar, maka untuk poin soal makan, anda tidak jauh beda dengan ketika Anda masih lajang. Atau jangan2 mungkin Anda (suami) yg lebih suka masak di rumah daripada istri ? itu hak Anda :)

- Poin ini mirip poin no.1, jika Anda para lelaki waktu lajang malas cuci baju, nyapu, beres2 rumah, dll., maka carilah istri yg senang melakukan pekerjaan rumah tangga (walau tdk cekatan2 amat). Jangan sampai ketika Anda pulang kerja, rumah masih berantakan, kotor dan jorok, dll., sehingga Anda pun susah mencari posisi yg nyaman untuk duduk/baring (padahal rumah Anda tidak sempit2 amat). Padahal Anda berharap sepulang kerja, Anda bisa rehat/duduk sejenak bersama istri Anda sambil menikmati secangkir (atau malah lebih) teh/kopi/susu/cokelat yg sudah dibuatkan oleh istri Anda menyambut Anda.

- Untuk poin 1 & 2, bukan berarti Anda para suami cuek dan tidak mau membantu pekerjaan rumah tangga istri ya. Hanya saja, jangan sampai masak, nyuci, dll. menjadi pekerjaan rutinitas harian Anda di rumah (bukankah Anda juga harus kerja cari nafkah ?). Atau malah Anda mencari "kebahagiaan" itu dengan lebih senang makan dan jajan di luar daripada di rumah. Jika Anda para suami siap jadi "koki dan laundry" untuk istri di rumah Anda, maka itu hak Anda :)

- Jika Anda waktu lajang tinggal serumah sama orangtua, atau pun ngekos bareng teman. Maka setelah Anda nikah, jangan bebankan lagi orangtua/mertua Anda "membiayai" biaya tempat tinggal, makan, listrik, dll. Justru, seharusnya Anda lah yg membantu keperluan orangtua Anda semampu Anda. Suatu kebahagiaan tersendiri jika ayah/ibu Anda nyaman dengan masakan istri Anda, betah berlama2 di rumah Anda karena rumah Anda yg bersih, rapi, dan sehat, dst. Tentu ini bisa didapat jika Anda "keluar dari zona aman" indah rumah orangtua/mertua.

- Orangtua/mertua Anda "diam" dengan sikap Anda/istri Anda, bukan berarti mereka sudah pasti "no problem". Dan Anda mestinya tau dan bisa membaca itu. Jangan sampai setelah Anda nikah, orangtua/mertua Anda malah berkurang kebahagiaannya dan justru malah "menambah" beban pekerjaan mereka.

- Boleh percaya boleh tidak, jika pasangan suami istri sudah jarang makan bersama di rumah (apalagi sekali sehari saja sulit untuk makan bareng istri di rumah), sudah jarang tidur seranjang (malah sering pisah tempat tidur), maka alamat rumah tangga Anda sedang "bermasalah"

- Poin2 di atas bisa jadi pengalaman saya pribadi,  Anda,  atau mungkin pengalaman kita bersama : )

#Abaikan jika tulisan di atas tidak ada manfaat dan faedahnya bagi Anda :)

Ibnu Musthofa

RECENT POSTS

RECENT COMMENTS