Tampilkan postingan dengan label Paham dan Aliran Sesat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Paham dan Aliran Sesat. Tampilkan semua postingan

LAISA MINNA : Mereka bukan golongan kami

Jejak Liberalisme, Pluralisme, Inklusivisme di Muhammadiyah

Muhammadiyah didirikan dengan idealisme untuk mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, yaitu Islam yang murni, bersumber dari Al-Qur‘an dan As-Sunnah, bersih dari segala hal yang mengotorinya: takhayyul, bid’ah dan khurafat (TBC).

Untuk menghadapi realitas tersebut, Muhammadiyah sebagai gerakan yang memiliki idealisme pemurnian ajaran Islam, menjalankan prinsip tajdid, yang bermakna: (1) Al-I’adah, yakni kembali kepada kemurnian Al-Quran dan as-Sunnah al-maqbulah sebagai­mana dipahami Rasu­lullah dan sahabatnya (salaf al-shalih), (2) Al-Ihya, yakni menghidupkan ajaran-ajaran al-Quran dan al-Sunah yang sudah banyak terbeng­kelai di kalangan umat, dan (3) Al-ishlah wat-tajdid, yakni perbai­kan dan pembaharuan pema­haman dalam konteks perkem­bangan peradaban umat manusia. (lihat putusan muk­tamar tarjih XXII di Malang, 1989).

Prinsip-prinsip pemikiran keislaman Muhammadiyah dalam menghadapi realitas umat Islam ini sejalan dengan pandangan Imam al-Syatibi dalam kitabnya Al-I’tisham, yang menyatakan bahwa tajdiduddin harus selalu dilakukan oleh umat Islam dalam rangka aktualitas dan fungsionalitas ajaran Islam. Prinsip ini sejalan dengan hadits Rasulullah dalam riwayat Abu Daud yang menya­takan bahwa Allah akan menu­run­kan dalam setiap kurun waktu seratus tahun seseorang yang akan mentajdid umat Islam dalam memahami dan mengamalkan Islam.

Tetapi, dalam perkem­bangan­nya, pergumulan pemi­kiran keislaman Muham­madiyah akhir-akhir ini mulai banyak dipengaruhi liberalis­me pemikiran keislaman kontemporer. Memang, dalam batas-batas tertentu dinamika tersebut diperlukan oleh Muham­madiyah, akan tetapi ketika liberalisme tersebut terlalu dihegemoni oleh pemikiran Barat sekular, akhirnya menimbulkan ketegangan-ketegangan, yang sedikit banyak melelahkan dan merugikan perkembangan Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah.

Tetapi, pemikiran para liberalis kini semakin bebas dan kebablasan dalam menso­sialisasikan berbagai tradisi aneh yang lahir dari rahim Kristen. Beberapa pemikiran liberalis yang diasong dari Kristen itu antara lain: faham pluralisme agama, inkusivis­me, sekulerisme dan metode hermeneutika untuk menafsir­kan Al-Qur‘an.

Untuk mengetahui orang-orang yang sudah terinfeksi virus liberal itu, dengan mudah dapat kita takar para pemikir dengan Al-Qur‘an dan Hadits Nabi, minimal dengan Muqad­dimah Anggaran Dasar Muham­madiyah, Matan & Keyakinan Cita-cita Hidup Muhammadiyah, dan Pedoman Hidup Islami Muhammadiyah.

Umumnya, para liberalis itu alergi dengan klaim kebenaran (truth claim) yang menyatakan bahwa Islamlah satu-satunya agama yang benar dan diridhai Allah SWT. Bahkan tidak segan-segan mereka mengkritik Islam secara terus-menerus.

Di kalangan tua, contohnya adalah Abdul Munir Mulkhan. Di harian Kompas dia mene­gaskan pentingnya pemeluk agama mengkritik doktrin agama yang dianutnya. Alasannya, menurutnya, melalui kritik itu akan terbuka ruang pengem­bangan kesa­lehan bagi semua orang yang berbeda agama. (baca: Para Pengibar Bendera Liberal).

Sementara di kalangan muda, tercatat nama Achmad Fuad Fanani, Sekretariat JIMM (Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah). Pada pengajian Bulanan PP Muhammadiyah tanggal 26 Desember 2003 di PP Muham­madiyah Jakarta dengan tema: “JIMM: Apa dan Mau Ke Mana?” menyatakan cita-citanya untuk terus-menerus mengkritik Muhammadiyah dan agama Islam, bermitraan dengan JIL.

“Kalau kita memiliki Muhammadiyah, itu berarti kita hanya bangga dengan Muham­madiyah saja. Tapi kalau kita ingin menjadi Muhammadiyah, kita melakukan kritik terus-menerus terhadap Muham­madiyah dan terhadap Islam itu sendiri... JIL, PSAP dan sebagainya itu adalah mitra-mitra JIMM yang nantinya bisa diajak bekerjasama untuk melakukan pembaharuan pemikiran Islam yang berdi­mensi praksis sosial juga.”

Pernyataan orang yang mengaku intelek ini sangatlah aneh. Bagaimana dia berani mengkritik Islam? Padahal Allah SWT telah menyatakan bahwa Islam adalah satu-satunya agama paripurna yang diridhai-Nya. Penegasan tentang kesempurnaan Islam yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, adalah firman Allah yang diterima Muhammad dalam Hajjatul Wada’, yang disepakati sebagai ayat terakhir turun kepada beliau:

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukup­kan kepadamu nimat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agamamu” (Al-Ma`idah 3).

Nampaknya, para liberalis yang mengklaim “intelekual Muhammadiyah” ini harus membaca ulang identitas Muhammadiyah yang sudah mulai dilupakannya. Bukankah Muhammadiyah dengan tegas mengakui bahwa Islam adalah satu-satunya din yang diridhai Allah?

“Islam merupakan satu-satunya dinullah yang diridhai-Nya, juga satu-satunya petunjuk hidup yang akan membawa manusia kepada keselamatan dan kebaha­giaan dunia dan akhirat” (lihat Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah, Kepribadian Muhammadiyah, MKCH).

Penegasan tersebut didasar­kan kepada firman ­Allah: “Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berse­lisih orang-orang yang telah diberi Al-Kitab, kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir ter­hadap ayat-ayat Allah, maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisabnya” (Ali Imran 19).

Juga firman Allah yang berbunyi: “Dan barangsiapa mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidak akan diterima (agama itu) dari­padanya, dan dia termasuk orang-orang yang rugi” (Ali Imran 85).

Berawal dari keprihatinan dan keresahan warga Muham­madiyah itu, maka para pengawal Islam yang dimotori oleh MTDK PP Muham­madiyah Yogyakarta dan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) mengadakan seminar nasional bertema: “Pemikiran Islam Muham­madiyah: Respon terhadap Fenomena Liberalisme Islam.” Acara yang dihadiri pula oleh para intelektual dari Malaysia tanggal 1-2 Maret ini sangat penting untuk mengawal dan mengamankan Islam dari virus liberal.

Din Syam­suddin, dalam sambutannya mengakui bahwa seminar ini sangat tepat waktu karena saat ini umat Islam berada dalam situasi pemikiran yang berbeda, termasuk di lingkungan Muhammadiyah menyangkut Islam dengan munculnya Islam Liberal. “Sekarang ada suara dari luar, bahwa di PP Muham­madiyah kantor Menteng Jakarta, terjadi pertarungan antara lantai 3 dengan lantai 4. Lantai 3 dimotori oleh Majlis Tabligh dan Dakwah Khusus (MTDK) yang menerbitkan majalah Tabligh, sedangkan lantai 4 dimotori oleh Pusat Studi Agama dan Peradaban (PSAP) yang menerbitkan Jurnal Tanwir,” kata Din.

Menanggapi perseteruan pemikiran yang berbeda itu, Din memberikan solusi untuk kembali kepada faham keaga­maan Muhammadiyah. “Faham keagamaan Muham­madiyah sudah ada dan sebaiknya dikutip dan dibacakan kutipannya, ada dalam Himpunan Putusan Tarjih, Pedoman Hidup Islami, Matan Kepribadian dan lain sebagainya. Dalam dokumen-dokumen resmi organisasi penuh dengan faham keagamaan, tapi sayangnya paham keagamaan Muham­madiyah yang ada di dalam berbagai dokumen organisasi itu kurang dipahami oleh warganya sendiri,” jelas Din.

Mengusung Teologi Kristen

Dalam makalah yang berjudul “Keresahan Warga Muhammadiyah,” Musthafa Kamal Pasha menyoroti ber­bagai wacana liberalisme Islam. Dengan menapaktilasi sejarah, terungkap bahwa ide pluralisme agama berasal dari produk Kristen pada awal abad ke-20 yang dipelopori oleh Ernst Troeltch.

Tokoh Muhammadiyah didikan Madrasah Muallimin Muhammadiyah –kawah Candra­dimukanya Muham­madiyah- yang pernah dibina langsung oleh KH. Kahar Muzakkir, KHR Hadjid, KHA Badawi, KH Wardan Dipo­ningrat, KH Bakir Shaleh, KH AR Fakhrudin, KH Djindar Tamimy dan KH Ahmad Azhar Basyir ini mengungkapkan keresahan warga Muham­madiyah. Para pendahulu Muhammadiyah itu menekan­kan demikian kerasnya bahwa Islamlah satu-satunya agama yang haq (truth), menyela­matkan (salvation) dan sem­purna. Tapi kini dengan ide liberal, Amin Abdullah menya­ta­kan perlunya meng­akui kesela­matan dalam agama lain.

Seminar menjadi hangat ketika Prof Dr Yunan Yusuf menyampaikan makalah “Dina­mika Penafsiran Al-Qur`an dan Pemaknaan As-Sunnah: Klasik dan Kontemporer.” Menurut Yunan, semua orang bebas menafsirkan Al-Qur‘an dan Hadits seliberal mungkin, asal tidak keluar dari 4 batasan. Maksudnya, Al-Qur‘an bisa ditafsirkan dan Hadits boleh disyarah apa saja, dengan syarat: 1) tidak menyimpulkan bahwa Allah itu tidak esa. 2) jangan menyim­pul­kan bahwa Muham­mad bukan rasul. 3) jangan berkesimpulan Al-Qur‘an bukan wahyu. 4) jangan berkesimpulan hari kiamat tidak ada.

Hampir semua peserta yang mendapat kesempatan berbicara, terfokus menang­gapi dan membantah pen­dapat Yunan.

Tanggapan yang cukup keras dilontarkan oleh Yadi Purwanto, Dekan Psikologi UMS dan Pimpinan Pesantren Islamadina Tawangmangu. Menurutnya, keempat batasan liberal itu masih membingung­kan dan tidak tepat. Bahkan bisa membuka pintu kerusa­kan tafsir. Misalnya, definisi esa dalam ketuhanan. Sebab Kejawen, Kristen dan Yahudi masih mengatakan bahwa tuhan mereka esa, dengan kriteria masing-masing yang berbeda dengan akidah Islam.

Demikian pula dengan kriteria kedua, yang menyata­kan bebas menafsirkan Al-Qur‘an asal tidak berkesim­pulan bahwa Muhammad bukan nabi. Sebab kalangan liberalis pun mengakui kenabian Muhammad, tapi belum final dalam mengajar­kan Islam. (baca: Batasan ­Liberal Membingungkan).

Sayangnya, Yunan tidak menanggapi pendapat Purwanto. Dia hanya berkilah, “Waktu yang diberikan untuk menjawab tidakmencukupi.” Pada bagian akhir seminar, Dr. Yunahar Ilyas Lc MA menyampaikan makalah “Pluralisme Agama dalam Perspektif Islam.” Ditegaskan­nya bahwa sebaiknya, seha­rus­nya dan sebenarnya, Islam itu eksklusif. Alasannya, Allah sendiri telah menjelaskan bahwa Islam itu satu-satunya Agama yang benar, diridhai dan diterima Allah (Ali Imran 19, 85). (baca: Menyoal Pluralisme Agama).

Para pembicara lain dalam seminar yang berusaha menghadang pemikiran liberal adalah Adian Husaini MA Dr Anis Malik Toha, Doktor Ugi Suharto, Dr. Achmad Satori, Nirwan Syafrin MA, Dr Syamsul Anwar, Dr Ahmad Luthfi Fathullah dan Dr Saad Ibrahim MA.

Jika faham liberalisme, pluralisme, inklusivisme dan metode hermeneutika bukan dari Islam dan faham keaga­maan Muhammadiyah, maka tidak ada kata yang tepat untuk mereka, selain “Laisa Minna” (bukan golongan kami).


Sumber: Majalah Tabligh​

MEMBONGKAR KEKUFURAN AGAMA SYIAH

Anda masih menganggap bahwa agama syiah tdk kufur ??
Anda masih menganggap agama syiah bagian dari islam ??

Berikut kemungkinan2 orang2 yg menganggap agama syiah tdk kufur atau pun bagian dari islam:

1. orang gila

2. orang yg memang belum tahu hakikat agama syiah (barangkali tempat tinggalnya di pelosok dusun yg benar2 terpencil, tdk ada TV, internet, hp, atw mungkin listrik pun blm masuk)

3. orang yg terkena syubhat agama syiah

4. simpatisan syiah (barangkali diberi dana segar dari orang2 syiah, biaya hidupnya selalu dibantu orang2 syiah, dst)

5. pemeluk agama syiah

Anda masuk yg mana, silahkan jawab sendiri.
___________________________________

Simak status2 FB berikut:

Kenapa skr2 ini orang2 rame membenci Syiah? dia kan muslim juga...madzhabnya juga ikut imam syafi'i, sama seperti kita?...

A (Syiah) : “Kenapa sih kamu benci sama Syiah?”

B (Ahlus Sunnah) : “Karena Syiah menghina dan mengkafirkan Abu Bakar dan Umar.”

A : “Kami tidak mengkafirkan mereka, yang mengkafirkan adalah Rafidhah, adapun kami bukan rafidhah tapi hanya syiah. Rafidhah sudah pasti Syiah, sedangkan Syiah belum tentu Rafidhah.”

B : “Dan kalian juga ghuluw (berlebih2an) terhadap imam-imam kalian sendiri. Kalian menganggap mereka ma’shum, kalian juga taqlid buta kepada mereka, semuanya kalian ikuti walaupun itu salah.”

A : “Apakah kalian tidak taqlid kepada imam-imam kalian?”

B : “Kami tidak taqlid kepada siapapun kecuali Rasulullah, karena selain Rasulullah tidak ma’shum, dan mereka bisa benar bisa salah.”

A : “Yang menganggap mereka ma’shum adalah dari Rafidhah, bukan dari kami. Ana mau tahu, apa madzhab kalian sebagai orang Indonesia?”

B : “Madzhab kami atau kebanyakan orang Indonesia adalah Madzhab Syafi’iyah.”

A : “Siapa Imamnya?”

B : “Imam Asy Syafi’i.”

A : “Nah…kamu tahu tidak, kalo Imam Syafi’i adalah Syiah dan mengakui Syiah, sama seperti kami.”

B : “Apa buktinya? Imam Asy Syafi’i adalah seorang Ahlus Sunnah, Bukan Syi’i.”

A : “Buktinya adalah dari syairnya beliau sendiri yang terkenal. Beliau berkata,
‘Jika Rafidhah itu adalah mencintai keluarga Muhammad, Maka hendaknya dua makhluk (jin dan manusia) bersaksi bahwa aku adalah seorang Rafidhi.’

B : “Ana tahu syair itu. Memang itu syair beliau. Dan selamat, perkataan kamu telah menjadi bumerang bagi kamu sendiri alias senjata makan tuan.”

A : “Ada apa dengan bait syair itu? Bukankah itu bukti yang jelas kalau Imam Syafii adalah Syi’i dan mengakui tentang kebenaran Syiah?”

B : “Pertama, perkataan Imam Syafi’i tersebut mengambil atau mengikuti dari firman Allah,
“Katakanlah, jika benar Tuhan yang Maha Pemurah mempunyai anak, Maka Akulah (Muhammad) orang yang mula-mula memuliakan (anak itu).” (QS. az-Zukhruf: 81)

Apakah kamu menyakini bahwa ar-Rahman memiliki anak?! Tidak, sekali lagi tidak. Oleh karena ar-Rahman tidak memiliki anak itu maka Allah menggunakan susunan bahasa ini untuk menolak ucapan orang2 musyrik dan klaim mereka.

Jadi, Imam as-syafi’i menggunakan susunan bahasa al-Qur`an, yang membawa balaghah besar yang layak dengan kedudukan dan keluasan ilmu Imam as-Syafi’i. Imam as-Syafi’i dengan ucapannya: ‘Jika Rafidhah itu adalah mencintai keluarga Muhammad’, bermaksud mengungkapkan kemustahilan kalau al-Rafdh dimaknai kecintaan kepada keluarga Muhammad’.

Metode Imam Syafi’i ini telah dikenal oleh para ahlul ilmi. Sebagai contoh, saat orang2 liberal mengingkari kita karena berpegang teguh dengan agama ini, dengan menyatakan bahwa keteguhan itu adalah fanatisme, dan fanatisme itu merupakan satu keterbelakangan dan kemunduran, maka kita menjawab mereka dengan mengatakan, ‘Jika berpegang teguh dengan Islam itu adalah satu keterbelakangan dan kemunduran, maka saksikanlah bahwa kami orang2 yang mundur dan terbelakang.’

Kedua, kamu hanya mengambil bait syair sebagian saja, padahal masih ada lanjutannya dan bait2 syair lainnya. Beliau juga berkata,

“Mereka mengatakan, ‘Kalau begitu Anda telah menjadi Rafidhi?’ Saya katakan, ‘Sekali-kali tidak… tidaklah al-Rafdh (menolak Khalifah Abu Bakar dan Umar) itu agamaku, tidak juga keyakinanku.”

Di sini, Imam Syafi’i Rahimahullah berlepas diri dari Rafidhah (Syi’ah), dan menampakkan keheranannya dari pertanyaan ini. Kemudian dia menyatakan dengan terang-terangan bahwa dia tidak berada diatas agama Syi’ah (Rafidhah), tidak juga di atas keyakinan mereka.

A : “Glekkk….”

B : “Eiit…tunggu dulu…masih ada yang ketiga..”

A : “Apa itu?”

B : “Ketiga, kamu membawakan hujjah dari syair Imam Asy Syafi’i yaitu ‘Maka hendaknya dua makhluk (jin dan manusia) bersaksi bahwa aku adalah seorang Rafidhi.’ Disini Imam Syafi’i memakai kata Rafidhi, bukan memakai kata Syi’i, padahal di awal kamu mengatakan bahwa kamu adalah Syiah dan bukan Rafidhah. Aneh bukan, kamu mengaku bukan Rafidhi tapi hujjah yang kamu bawakan adalah tentang Rafidhi? Nah, berhubung kamu membawakan hujjah tentang Rafidhi, maka mulai sekarang ana menganggap kamu adalah Rafidhi, atau Rafidhah dengan Syiah sama saja…!”

A : “Glek lagi…”

=============================

Berikut pendapat imam asy syafii tentang syiah.

- Dari Yunus bin Abdila’la, beliau berkata: Saya telah mendengar asy-Syafi’i, apabila disebut nama Syi’ah Rafidhah, maka ia mencelanya dengan sangat keras, dan berkata: “Kelompok terjelek! (terbodoh)”. (al-Manaqib, karya al-Baihaqiy, 1/468. Manhaj Imam asy-Syafi’i fi Itsbat al-Aqidah, 2/486)

- Al-Imam Asy-Syafi’i berkata: “Saya belum melihat seorang pun yang paling banyak bersaksi/bersumpah palsu (berdusta) dari Syi’ah Rafidhah.” (Adabus Syafi’i, m/s. 187, al-Manaqib karya al-Baihaqiy, 1/468 dan Sunan al-Kubra, 10/208. Manhaj Imam asy-Syafi’i fi Itsbat al-Aqidah, 2/486)

- Al-Buwaitiy (murid Imam Syafi’i) bertanya kepada Imam Syafi’i, “Bolehkah aku shalat di belakang orang Syiah?” Imam Syafi’i berkata, “Jangan shalat di belakang orang Syi’ah, orang Qadariyyah, dan orang Murji’ah” Lalu Al-Buwaitiy bertanya tentang sifat-sifat mereka, Lalu Imam Syafi’i menyifatkan, “Siapasaja yang mengatakan Abu Bakr dan Umar bukan imam, maka dia Syi’ah”. (Siyar A’lam Al-Nubala 10/31)

- asy-Syafi’i berkata tentang seorang Syi’ah Rafidhah yang ikut berperang: “Tidak diberi sedikit pun dari harta rampasan perang, kerana Allah menyampaikan ayat fa’i (harta rampasan perang), kemudian menyatakan: Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami”. (Surah al-Hasyr, 59: 10) maka barang siapa yang tidak menyatakan demikian, tentunya tidak berhak (mendapatkan bahagian fa’i).” (at-Thabaqat, 2/117. Manhaj Imam asy-Syafi’i fi Itsbat al-Aqidah, 2/487)

- Imam as-Subki Rahimahullah berkata, ‘Aku melihat di dalam al-Muhith dari kitab-kitab Hanafiah, dari Muhammad (bin Idris as-Syafi’i) bahwa tidak boleh shalat di belakang Rafidhah.’ (Fatawa as-Subki (II/576), lihat juga Ushulud Din (342))

https://www.facebook.com/negara.tauhid/posts/3322492878473

Tanggapan Untuk Saudara Seiman pemilik Facebook Azan Bin Noordien

Ketika Saya (Abu Husein At-Thullaibi) Memuat Perkataan Para Ulama dan Habib2 Ahlus Sunnah Wal Jamaah tentang kesesatan dan kekafiran Agama Syi'ah pada status saya dalam sebuah Grup Di Facebook,Pemilik Facebook Azan Bin Noordien mengomentari saya.

Beliau Berkata,

"Syiah yg mana dulu nih.. syiah itu macam2.. syiah zaidiyah? aqwal (perkataan) yg di nukil apakah benar bermakna sevulgar itu dan etrkesan ahlussunnah mudah dlm hal takfir (mengkafirkan)? trus, jika syiah memang kafir knp boleh berhaji oleh pemerintah arab saudi?
fatwa syeikh khameini (Pendeta Syi'ah dari Persia) tentang larangan mencaci maki istri dan sahabat nabi bukankah sudah cukup?
bagaimana dengan ucapan presiden iran ahmadinejad: 'org yg mencaci sahabat nabi bukanlah islam, tp mrk adl boneka dari musuh2 islam'. naah lho?"

Baiklah,,,Akan Saya (Abu Husein At-Thullaibi) Tanggapi...Semoga Allah Meluruskan Anda dan Kita Semua dan menyelamatkan kita Dari Aliran dan Faham Sesat,Seperti Syi'ah Rafidhah....Aamiin...

Wahai Saudaraku Azan Bin Noordien,Ya, Syiah memang ada Yg Zaidiyah,yakni Syi'ah yang tidak sampai pada Tingkatan KAFIR menurut kebanyakan Ulama,Tapi hanya SESAT saja..Mereka (Syiah Zaidiyah) tdk sampai Mengkafirkan Abu Bakar dan Umar,namun mereka LEBIH MENGUTAMAKAN Ali Bin Abi Thalib Radhiyallahu'anhu di atas Abu Bakar dan Umar Karramallaahu Wajhahuma..

Thoyyib,permasalahnya,Syi'ah Zaidiyah itu (bisa di bilang) Sudah tidak ada LAGI alias Sudah punah,kalaupun ada itu hanya ada Di Sebagian Kecil kawasan Di Negara Yaman.Itupun sangat sedikit,bahkan Bisa di bilang HAMPIR TIDAK ADA,nah Adapun dlm bahasan2 Kita Tentang Syi'ah,maka yg di maksud Adalah Syi'ah Rafidhah,yakni Syi'ah Ekstrim yang Di KAFIRKAN oleh para Ulama,yg sekarang TERSEBAR d seluruh dunia termasuk Indonesia dan Berkembang Di Iran.

Adapun Opini anda bahwa Ahlus Sunnah Vulgar dalam Takfir (mengkafirkan),maka Saya balik bertanya;

1. Salahkah Para Ulama itu Mengkafirkan sebuah Agama Yg Mengkafikan Para Sahabat dan Istri2 Rasulullaah?????

2. Salahkah Ulama Memngkafirkan Kelompok yg mengatakan Bahwa Ummul mukminin Aisyah Radhiyallahu'anha Itu Pelacur????

3. sekarang saya tanya;Apakah tidak KAFIR orang Yang Meyakini Bahwa Tanah Karbala LEBIH MULIA daripada Ka'bah???????

4. Apakah Tidak Kafir kelompok yang Memuja-muja Pembunuh Umar Bin Khathab?????

5. Apakah Kelompok yg dalam Ajarannya Tidak ada Shalat Jum'at itu TIDAK KAAFIIRR?????

6. Syi'ah Juga mmngkafirkan seluruh Kaum Muslimin Yg bukan Syi'ah dan itu Tersebar luas dalam kitab2 Induk Agama Syi'ah,apakah itu Tidak Kafir????? Dan dalam Kitab2 Syi'ah di katakan Bahwa Ahlus Sunnah Itu adalah Musuh2 Allah dan musuh Ahlul Bait yang Halal darahnya dan Wajib Di Bunuh!!!!!???????? Dan itu sudah Mereka Realisasikan di Iran dan Di Iraq,yang mana Kaum Muslimin Di Bunuhi dan Di Bantai dengan sungguh biadab,dan sekarang sedang terjadi di Suriah (Bumi Syam) di bawah Rezim Fir'aun Bashar Assad Lakntaullah... Apakah Itu Tidak KAAFIIRR??????!!!!!!!!!!!!

7. Syi'ah Mengatakan dan Meyakini Ali adalah Reinkarnasi Tuhan,apakah Itu Tudak Kafir????????

8. Syiah Menghalalkan Zina Aats Nama Nikah Mut'ah,apakah Itu tidak Kafir??????

Masalah kenapa Syiah boleh berhajji Ke Arab Saudi itu kan Trik Licik Syiah saja, jawabannya: Karena Di KTP dan PASPOR Orang2 Syi'ah itu tertulis "Agama Islam", bukan "Agama Syi'ah". kalau Seandainya Di KTP dan Di PASPOR org2 Syi'ah tertulis "Agama:Syi'ah",Saya Yakin PASTI Pemerintah Arab Saudi MELARANG Orag2 KAFIR Syi'ah Masuk Saudi.

Lalu anda mengatakan bahwa Khomaini (Imam Syi'ah) "melarang mencaci maki Sahabat".??????

Hehehehe....perkataan Khomaini dari HONGKONG!!!!!! Itu Taqiyyah,Pura2. Saya Punya Kitab2 Syiah dan Kitab2 Khomaini yg berbahasa Arab Dan bhs Persia. anda jangan jadi Korban Taqiyyah Syi'ah. jelas2 di dalam Kitab2nya Khomaini sering Melaknat dan Mencaci maki Sahabat Nabi dan Ummahatul-Mukminin...

di antara Perkataan Khomaini adalah "Aisyah Dan Hafshah Itu LEBIH NAJIS dan HINA daripada Anjing dan BABI".

dan Saya Abu Husein At-Thullaibi bersumpah,Saya SIAP di LAKNAT Allah Di Dunia Dan Di Akhirat Bila Khomaini tidak Berkata Demikian.

Lagian,kalau Memang Syiah Menganggap bahwa Mencaci Maki sahabat Nabi bukanlah Islam,Lantas Mengapa Mereka (Pendeta2 Syi'ah dan Orang2 Syi'ah) Kalau Shalat (dan shalat mereka hanya 3 waktu,bukan 5 waktu)Tetap saja Berdo'a melaknat Para Sahabat (khususnya Abu Bakar dan Umar Radhiyallahu'anhuma) dan Ummahatul- Mukminin (Khususnya Aisyah dan Hafshah)???????!!!!!!!!! kenapa?????? silahkan tanyakan Dgn Oran2 Syi'ah Zindiq Munafiq!!!!!!!!!!!??????

dan WASPADALAH...Syi'ah itu punya Ajaran Yang namanya 'Taqiyyah',yaitu BOHONG alias Menyembunyikan Kesyi'ahannya Bila Berhadapan Atau Berinteraksi dgn Orang Yang Buka Syi'ah,Itu mereka Lakukan Ketika Mereka Berhadapan Dgn Ahlus Sunnah Atau di Negara Yg Mayoritasnya Ahlus Sunnah,tetapi bila Di Negara Yg mayoritasnya penganut Agama Syi'ah seperti Iran Misalnya,maka Tidak Ada Yg namanya Taqiyyah.Mereka Terang2ngan Memaki-maki Para Sahabat!!!!!

mengapa Di Iran (dan Di Luar Iran) tersebar Luas buku/kitab Dalam Bahasa Arab dan Persia yang Judulnya "UMAR BIN KHATHAB SEORANG HOMO SEXUAL"????????!!!!!!!!!!!!! Tolong Jawab......Kok tidak di tarik dari Peredaran Kitab tersebut???????

Thoyyib,Sekarang Saya Tanya lagi;Kenapa Pabrik2 Keset Kaki di Iran Mencetak dan Membuat Keset Itu dengan Bertuliskan Nama Abu Bakar dan Umar????? anda Bayangkan;keset2 kaki di Iran itu Bertuliskan Nama Abu Bakar dan Umar!!!!!?????????

Kemudian,Kalau Memang mereka Mengaggap bahwa Mencaci maki Para Sahabat Itu Bukanlah Islam,lantas Mengapa Orang2 Syi'ah Merayakan hari Meninggalnya Umar Bin Khathab Karramallaahu Wajhah dengan Perayaan bersenang-senang??????

Dan Mengapa Mereka Merayakan Hari meningalnya Aisyah dengan perayaan Bergembira Seperti Idul Fitri???????

Mengapa Orang2 Syiah Di Iran Beribadah Mengelilingi (Tawaf) Di Kuburan Fairuz Abu Lu'lu'ah Laknatullah (Orang Majusi Pemunuh Umar)??????? mengapaa?????????

Tanyakan Kepada presiden Iran Mahmod Ahmadinnejed Al-Kadzdzab,Si Munafiq Zindiq Musuh Allah dan Rasul-Nya!!!!!!???????

Dan kenapa Amirul Mukmin Ali Bin Abi Thalib Radhiyallahu'anhu MEMBAKAR hidup2 Orag2 Syi'ah di masanya????????? Bayangkan;Sayyidina 'Ali bukan hanya Mengkafikan Orang Syi'ah,tapi Membakarnya..???!!!

Terakhir,Orang2 Syi'ah punya Trik Licik ketika Kebiadaban dan Kesesatan mereka Di bongkar Oleh Ahlus Sunnah melalui kitab2 mereka Sendiri,mereka akan Mengatakan "Itu kan kitab cetakan yg ini,itu salah,yg bener itu cetakan yg ini..dst".
Begitulah Syi'ah Laknatullah menipu Ummat Islam.

Cara Lain adalah meniupkan Isu Basi "Awas,Itu Mereka Orang2 Wahabi Teroris Boneka Amerika,Musuh Ahlul Bait,dst".

masih banyak Lagi Trik2 Licik Syi'ah Laknatullah untuk Menipu Ummat Islam dan menebar Propagandanya...Semoga Saja anda Bukan Salah satu korban Taqiyyah mereka..Intinya,Anda Harus Waspada Dengan Syi'ah dan Pendeta2 Syi'ah..Jangan sampai Tertipu Dengan Taqiyyah Mereka..

Semoga ALLAH menunjuki anda saya Jalan Yang Lurus,Dan Tanyakan Pertanyaan2 Saya Di Atas Kpd pendeta2 Syi'ah. DAN Saya Siap Di Lknat Allah bila Saya Berdusta!!!!!!

https://www.facebook.com/groups/446227892157084/permalink/446764918770048/

Untuk mengetahui tentang kesesatan dan kekufuran agama syiah (agar diri, keluarga, dan kaum muslimin tdk terpengaruh dg kesesatan dan kekufurannya), Berikut situs2 Indonesia yg konsen membongkar kesesatan dan kekufuran agama syiah:
















www.inilah-bukti-kesesatan-syiah.blogspot.com/

www.syiah.net/

www.gensyiah.com/

www.hakekat.com/

www.syiahindonesia.com/

www.haulasyiah.wordpress.com/

www.videosyiah.com/


Page/Akun FB :

https://www.facebook.com/pages/Dukung-MUI-Keluarkan-Fatwa-Syiah-Sesat-Dan-Haram-Di-Indonesia/221268711229604?sk=photos_albums

https://www.facebook.com/media/set/?set=a.207354316038711.46852.207344386039704&type=3

https://www.facebook.com/Orcela/photos_albums

https://www.facebook.com/misimedissuriah/photos_albums


Semoga bermanfaat.

Mari kita sama2 lindungi diri, keluarga, dan semua kaum muslimin dari bahaya agama syiah yg sesat lagi kufur ! Sehingga tidak ada lagi kaum muslimin yg tertipu dg aqidah taqiyah agama syiah (yakni berpura2 beragama islam ketika hidup di tengah2 kaum muslimin yg mayoritas seperti agama syiah yg ada di Indonesia).

BUKAN "MUHAMMADIYYAH" JIKA DUKUNG AGAMA SYIAH

BUKAN "MUHAMMADIYYAH" JIKA DUKUNG AGAMA SYIAH
[Tanggapan terhadap Artikel "Bukan Muhammadiyah Jika tak Dukung Hak Warga Syiah Sampang"]


Pernyataan sikap itu disampaikan tokoh Muhammadiyah, Malik Fajar, pada peluncuran buku bertajuk "Islam Syariat, Reproduksi Salafiyah Ideologis di Indonesia", di Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta, Rabu (17/07).

“Anda yang hadir pada saat ini, apabila Anda ada yang sudah mulai puasa hari Selasa minggu lalu, berarti Anda Muhammadiyah. Tetapi Anda jangan mau mengaku sebagai warga Muhammadiyah apabila membiarkan warga Syiah Sampang mencari masa depannya sendiri,” tegas Malik.
[http://www.itoday.co.id/politik/bukan-muhammadiyah-jika-tak-dukung-hak-warga-syiah-sampang]

Apa dan Siapa "Muhammadiyyah" ??

Kata "Muhammadiyyah" dalam Tafsir Ibnu Katsir

Kata "Muhammadiyyah" tidak seharusnya selalu dikaitkan dengan ormas atau sejenisnya. Karena perbendaharaan kata "Muhammadiyyah" itu biasa dipakai sebagai istilah "Islam" oleh Ibnu Katsir, seorang mufassir yang ahli dan sangat terkenal. Bagi Ibnu Katsir, "Muhammadiyyah" adalah sinonim dari "Islam". Menurut beliau, "Muhammadiyyah" adalah Islam dan Islam adalah "Muhammadiyyah". Maaf kalau saya menyebut kata "Muhammadiyah", jangan terbayang kalau yang dimaksud saya adalah "Persyarikatan Muhammadiyah yg didirikan tahun 1912 oleh K.H. Ahmad Dahlan", tetapi K.H. Ahmad Dahlan sudah pasti menggunakan kata "Muhammadiyyah" sebagai nama persyarikatannya karena beliau mengadopsi nama tersebut dari "Tafsir Ibnu Katsir"

Ibnu Katsir menamakan Syariat Islam dengan menyebut Syariat "Muhammadiyyah" yang suci:

kata Ibnu Katsir dalam Tafsirnya, ketika mengomentari syariat sebelum Islam di mansukh oleh Islam :

ثم هما منسوخان بعد ذلك بهذه الشريعة المحمدية المطهرة

"Kemudian syariat-syariat sebelum Islam di mansukh oleh SYARIAT 'MUHAMMADIYYAH' YANG SUCI" (Ibnu Katsir)

[http://library.islamweb.net/newlibrary/display_book.php?flag=1&bk_no=49&ID=3]

Ujarnya lagi ketika menjelaskan sebuah ayat Mahabbatillah,

هذه الآية الكريمة حاكمة على كل من ادعى محبة الله، وليس هو على الطريقة المحمدية

[http://library.islamweb.net/newlibrary/display_book.php?idfrom=248&idto=248&bk_no=49&ID=253]

"Ayat ini menjadi suatu ketetapan atas semua orang yang mengaku mencintai Allah, akan tetapi dia tidak di atas jalan atau manhaj 'MUHAMMADIYYAH' ". (Ibnu Katsir)

يخبر تعالى عن هذه الأمة المحمدية بأنهم خير الأمم فقال: { كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ } .

[http://library.islamweb.net/newlibrary/display_book.php?flag=1&bk_no=49&ID=276]

"Allah subhanahu wa taala mengabarkan tentang umat 'MUHAMMADIYYAH' bahwasanya mereka adalah sebaik-baik umat... "kalian adalah sebaik-baik Umat yang ditampilkan di tengah-tengah manusia" (Ibnu katsir )

Syariat dari "Muhammadiyyah" menurut Ibnu Katsir harus meninggalkan perkara-perkara bid'ah

حتى يتبع الشرع المحمدي والدين النبوي في جميع أقواله وأحواله، كما ثبت في الصحيح عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه قال: "مَنْ عَمِلَ عَمَلا لَيْسَ عليه أمْرُنَا فَهُوَ رَدُّ"

[http://library.islamweb.net/newlibrary/display_book.php?idfrom=248&idto=248&bk_no=49&ID=253]

"Sehingga mereka ittiba' atau mengikuti Syariat 'MUHAMMADIYYAH' dan agama nabawy dalam semua perkataan dan keadaannya, sebagaimana JELAS tertera dalam kitab shahih dari Rasulullah shallallahu'alahi wasallam, beliau bersabda : 'Barangsiapa beramal agama yang tidak terdapat perintah kami, maka tertolak' ". (Ibnu Katsir)

Dengan hujjah yang nyata dan jelas beliau menyatakan kalau "MUHAMMADIYYAH" adalah ISLAM dan Islam adalah "Muhammadiyyah", dan mereka yang menentang syariat "Muhammadiyyah", secara tdk langsung sama saja dengan menentang Islam dan melecehkan "Muhammadiyyah" sama halnya dengan melecehkan syariat Nabi Muhammad shallallahu'alaihi wa sallam..

hingga Imam Thirmidzy (Sang Muhaddits) menyusun sebuah kitab namanya:

الشمائل المحمدية للترمذي

[http://library.islamweb.net/hadith/display_hbook.php?bk_no=193]

Keumuman para pengikut nabi Muhammad (Muhammadiyyah)............oleh Thirmidzy

"Muhammadiyyah" yg pertama dan utama dari umat Nabi shallallahu'alaihi wa sallam adalah para shahabat radhiyallahu'anhum, karena merekalah orang-orang yg pertamakali masuk islam dan paling mengikuti syariat Nabi shallallahu'alaihi wa sallam. Dan wajib hukumnya bagi umat sesudah mereka utk mengikuti manhaj "Muhammadiyyah" (yakni manhaj para shahabat radhiyallahu'anhum). Lihat surat at-taubah: 100.

@Zulkarnain ElMadury [https://www.facebook.com/marhabanr?fref=ts], dg perubahan seperlunya oleh grup Muhammadiyyah.


Berikut FATWA PARA ULAMA "MUHAMMADIYYAH" TENTANG AGAMA SYI’AH

Pertama: Imam Malik

Al-Khalal meriwayatkan dari Abu Bakar al Marwadzi, ia berkata: “Saya mendengar Abu Abdullah berkata, bahwa Imam Malik berkata:

الذي يشتم أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم ليس لهم اسم أو قال : نصيب في الإسلام

“Orang yang mencela shahabat-shahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, maka ia tidak termasuk dalam golongan Islam.” (As Sunnah, milik al-Khalal:  2/557)

Ibnu katsir berkata saat menafsirkan firman Allah Ta’ala:

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآَزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا [الفتح/29]

“ Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan Dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. kamu Lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, Yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya Maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah Dia dan tegak Lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.”

Beliau berkata: “Dari ayat ini, dalam satu riwayat dari Imam Malik –rahmat Allah terlimpah kepadanya-, beliau mengambil kesimpulan tentang kekafiran Rafidhah yang membenci para shahabat Radhiyallahu ‘Anhum. Beliau berkata: “Karena mereka ini membenci para shahabat, dan barangsiapa membenci para shahabat, maka ia telah kafir berdasarkan ayat ini.” Pendapat ini disepakati oleh segolongan ulama radhiyallahu ‘anhum.” (Tafsir Ibnu Katsir: 4/219)[i]
Imam al-Qurthubi rahimahullah berkata:

لقد أحسن مالك في مقالته وأصاب في تأويله فمن نقص واحداً منهم أو طعن عليه في روايته فقد رد على الله رب العالمين وأبطل شرائع المسلمين

“Sungguh sangat bagus ucapan Imam Malik itu dan benar penafsirannya. Siapa pun yang menghina seorang dari mereka (sahabat Nabi) atau mencela periwayatannya, maka ia telah menentang Allah, Tuhan alam semesta dan membatalkan syari’at kaum Muslimin.” (Tafsir al-Qurthubi: 16/297)

Kedua: Imam Ahmad

Banyak riwayat telah datang darinya dalam mengafirkan golongan Syi’ah Rafidhah. Di antaranya: Al-Khalal meriwayatkan dari Abu Bakar al Marwadzi, ia berkata: “Aku bertanya kepada Abu Abdillah tentang orang yang mencela Abu Bakar, Umar, dan ‘Aisyah?” Beliau menjawab,

ما أراه على الإسلام

“Aku tidak melihatnya di atas Islam.”

Al-Khalal berkata lagi: Abdul Malik bin Abdul Hamid memberitakan kepadaku, ia berkata: Aku mendengar Abu Abdillah berkata:

من شتم أخاف عليه الكفر مثل الروافض

“Barang siapa mencela (sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam) maka aku khawatir ia menjadi kafir seperti halnya orang-orang Rafidhah.” Kemudian beliau berkata:

من شتم أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم لا نأمن أن يكون قد مرق عن الدين

“Barangsiapa mencela Shahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam maka kami khawatir ia telah keluar dari Islam (tanpa disadari).” (Al-Sunnah, Al-Khalal: 2/557-558)

Al-Khalal berkata: Abdullah bin Ahmad bin Hambal menyampaikan kepadaku, katanya: “Saya bertanya kepada ayahku perihal seseorang yang mencela salah seorang dari Shahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Maka beliau menjawab:

ما أراه على الإسلام

“Aku tidak melihatnya di atas Islam”.” (Al-Sunnah, Al-Khalal: 2/558. Bacalah: Manaakib al Imam Ahmad, oleh Ibnu Al-Jauzi, hal. 214)

Tersebut dalam kitab As Sunnah karya Imam Ahmad, mengenai pendapat beliau tentang golongan Rafidhah:

هم الذين يتبرأون من أصحاب محمد صلى الله عليه وسلم ويسبونهم وينتقصونهم ويكفرون الأئمة إلا أربعة : علي وعمار والمقداد وسلمان وليست الرافضة من الإسلام في شيء

“Mereka itu adalah golongan yang menjauhkan diri dari shahabat Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan mencelanya, menghinanya serta mengkafirkannya kecuali hanya empat orang saja yang tiada mereka kafirkan, yaitu: Ali, Ammar, Miqdad dan Salman. Golongan Rafidhah ini sama sekali bukan Islam.” (Al-Sunnah, milik Imam Ahmad: 82)
Ibnu Abdil Qawiy berkata: “Adalah imam Ahmad mengafirkan orang yang berlepas diri dari mereka (yakni para sahabat) dan orang yang mencela ‘Aisyah Ummul Mukminin serta menuduhnya dengan sesuatu yang Allah telah membebaskan darinya, seraya beliau membaca:

يَعِظُكُمَ اللَّهُ أَنْ تَعُودُوا لِمِثْلِهِ أَبَدًا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Allah menasehati kamu, agar kamu jangan mengulang hal seperti itu untuk selama-lamanya, jika kamu benar-benar beriman.” (QS. Al-Nuur: 17. Dinukil dari Kitab Maa Dhahaba Ilaihi al-Imam Ahmad: 21)

Ketiga: Imam Al Bukhari (wafat tahun 256 H)

Beliau berkata:

ما أبالي صليت خلف الجهمي والرافضي ، أم صليت خلف اليهود والنصارى ولا يسلم عليهم ولا يعادون ولا يناكحون ولا يشهدون ولا تؤكل ذبائحهم

“Bagi saya sama saja, apakah aku shalat di belakang seorang Jahmi (beraliran Jahmiyah) atau seorang Rafidzi (beraliran Syi’ah Rafidhah), atau aku shalat dibelakang Imam Yahudi atau Nashrani. Dan (seorang muslim) tidak boleh memberi salam kepada mereka, mengunjungi mereka ketika sakit, kawin dengan mereka, menjadikan mereka sebagai saksi dan memakan sembelihan mereka.” (Khalqu Af’al al-Ibad: 125)

Keempat: Abdurrahman bin Mahdi

Imam al-Bukhari berkata: Abdurrahman bin Mahdi berkata: “Keduanya adalah agama tersendiri, yakni Jahmiyah dan Rafidhah (Syi’ah).” (Khalqu Af’al al-Ibad: 125)

Kelima: Al-Faryabi

Al-Khalal meriwayatkan, ia berkata: “Telah menceritakan kepadaku Harb bin Ismail al- Kirmani, ia berkata: “Musa bin Harun bin Zayyad menceritakan kepada kami, ia berkata: “Saya mendengar al-Faryabi dan seseorang yang bertanya kepadanya tentang orang yang mencela Abu Bakar. Jawabnya: “Dia Kafir.” Lalu ia berkata: “Apakah orang semacam itu boleh dishalatkan jenazahnya?” Jawabnya: “Tidak.” Dan aku bertanya pula kepadanya: “Apa yang dilakukan terhadapnya, padahal orang itu juga telah mengucapkan Laa Ilaaha Illallah?” Jawabnya: “Jangan kamu sentuh (Jenazahnya) dengan tangan kamu, tetapi kamu angkat dengan kayu sampai kamu menurunkan ke liang lahatnya.” (al-Sunnah, milik al-Khalal: 2/566)

Keenam: Ahmad bin Yunus

Kunyahnya adalah Ibnu Abdillah. Ia dinisbatan kepada datuknya, yaitu salah seorang Imam (tokoh) As-Sunnah. Beliau termasuk penduduk Kufah, tempat tumbuhnya golongan Rafidhah. Beliau menceritakan perihal Rafidhah dengan berbagai macam alirannya. Ahmad bin Hambal telah berkata kepada seseorang: “Pergilah anda kepada Ahmad bin Yunus, karena dialah seorang Syeikhul Islam.”
Para ahli Kutubus Sittah telah meriwayatkan Hadits dari beliau. Abu Hatim berkata: “Beliau adalah orang kepercayaan lagi kuat hafalannya”. Al-Nasaai berkata: “Dia adalah orang kepercayaan.” Ibnu Sa’ad berkata: “Dia adalah seorang kepercayaan lagi jujur, seorang Ahli Sunnah wal Jama’ah.” Ibnu Hajar menjelaskan, bahwa Ibnu Yunus telah berkata: “Saya pernah datang kepada Hammad bin Zaid, saya minta kepada beliau supaya mendiktekan kepadaku sesuatu hal tentang kelebihan Utsman. Jawabnya: “Anda ini siapa?” Saya jawab: “Seseorang dari negeri Kufah.” Lalu ia berkata: “Seorang Kufah menanyakan tentang kelebihan-kelebihan Utsman. Demi Allah, aku tidak akan menyampaikannya kepada Anda, kalau Anda tidak mau duduk sedangkan aku tetap berdiri!” Beliau wafat tahun 227 H. (Tahdzibut Tahdzib, 1:50, Taqribut Tahdzib, 1:29).

Beliau (Ahmad bin Yunus) rahimahullah berkata,

لو أن يهودياً ذبح شاة ، وذبح رافضي لأكلت ذبيحة اليهودي ، ولم آكل ذبيحة الرافضي لأنه مرتد عن الإسلام

“Seandainya saja seorang Yahudi menyembelih seekor kambing dan seorang Rafidhi (Syi’i) juga menyembelih seekor kambing, niscaya saya hanya memakan sembelihan si Yahudi, dan aku tidak mau makan sembelihan si Rafidhi. Karena dia telah murtad dari Islam.” (Al-Sharim al-Maslul, Ibnu Taimiyah: 57)

Ketujuh: Al-Qadhi Abu Ya’la

Beliau berkata, “Adapun Rafidhah, maka hukum terhadap mereka . . . sesungguhnya mengafirkan para sahabat atau menganggapnya fasik, yang berarti mesti masuk neraka, maka orang semacam ini adalah kafir.” (Al Mu’tamad, hal. 267)
. . sesungguhnya mengafirkan para sahabat atau menganggapnya fasik, yang berarti mesti masuk neraka, maka orang semacam ini adalah kafir. . .
Sementara Rafidhah (Syi’ah) sebagaimana terbukti di dalam pokok-pokok ajaran mereka adalah orang-orang yang mengkafirkan sebagian besar Shahabat Nabi. Silahkan baca kembali tulisan yang telah kami posthing:
Kitab Syi’ah Melaknat dan Mengafirkan Abu Bakar, Umar dan ‘Aisyah

Kedelapan: Ibnu Hazam al-Zahiri

Beliau berkata: “Pendapat mereka (Yakni Nashrani) yang menuduh bahwa golongan Rafidhah (Syi’ah) merubah Al-Qur’an, maka sesungguhnya golongan Syi’ah Rafidhah bukan termasuk bagian kaum muslimin. Karena golongan ini muncul pertama kalinya setelah dua puluh lima tahun dari wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Syi’ah Rafidhah adalah golongan yang mengikuti langkah-langkah Yahudi dan Nashrani dalam melakukan kebohongan dan kekafiran.” (Al-fashl fi al-Milal wa al-Nihal: 2/213)[ii]

Beliau berkata: “Salah satu pendapat golongan Syi’ah Imamiyah, baik yang dahulu maupun sekarang ialah Al-Qur’an itu sesungguhnya telah diubah.”

Kemudian beliau berkata: “Orang yang berpendapat, bahwa Al Qur’an ini telah diubah adalah benar-benar kafir dan men-dustakan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.(Al Fashl: 5/40)
Beliau berkata: “Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan semua kelompok umat Islam Ahlus Sunnah, Mu’tazilah, Murji’ah, Zaidiyah, bahwa adalah wajib berpegang kepada Al Qur’an yang biasa kita baca ini ” Dan hanya golongan Syi’ah ekstrim sajalah yang menyalahi sikap ini. Dengan sikapnya itu mereka menjadi kafir lagi musyrik, menurut pendapat semua penganut Islam. Dan pendapat kita sama sekali tidak sama dengan mereka (Syi’ah). Pendapat kita hanyalah sejalan dengan sesama pemeluk agama kita.” (Al Ihkam Fii Ushuuli Ahkaam: 1/96)

Beliau berkata pula: “Ketahuilah, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tidak pernah menyembunyikan satu kata pun atau satu huruf pun dari syariat Ilahi. Saya tidak melihat adanya keistimewaan pada manusia tertentu, baik anak perempuannya atau keponakan laki-lakinya atau istrinya atau shahabatnya, untuk mengetahui sesuatu syariat yang disembunyikan oleh Nabi terhadap bangsa kulit putih, atau bangsa kulit hitam atau penggembala kambing. Tidak ada sesuatu pun rahasia, perlambang ataupun kata sandi di luar apa yang telah disampaikan oleh Rasulullah kepada umat manusia. Sekiranya Nabi menyembunyikan sesuatu yang harus disampaikan kepada manusia, berarti beliau tidak menjalankan tugasnya. Barang siapa beranggapan semacam ini, berarti ia kafir. (Al Fashl, 2:274-275)
Orang yang berkeyakinan semacam ini dikafirkan oleh Ibnu Hazm. Dan keyakinan semacam ini dipegang oleh Syi’ah Itsna Asy’ariyah. Pendapat ini dikuatkan oleh guru-guru beliau pada masanya dan para ulama sebelumnya.

http://artikelassunnah.blogspot.com/2012/03/fatwa-8-ulama-salaf-yang-mengkafirkan.html#.UfMssazSxvA

Grup: https://www.facebook.com/groups/Muhammadiyyah/

Pages: https://www.facebook.com/pages.Muhammadiyyah

Situs2 indonesia yg konsen membongkar kesesatan dan kekufuran agama syiah


Bagi yg masih menganggap agama syiah bagian dari islam, silahkan jwb pertanyaan2 berikut:

- Aqidah yg mengkafirkan para shahabat, kufur atw tdk??

- Syahadat agama syiah beda dg syahadat islam, kufur atw tdk??

- Rukun agama syiah beda dg rukun islam, kufur atw tdk??

- Rukun iman agama syiah beda dg rukun iman islam, kufur atw tdk??

- Kitab suci agama syiah beda dg kitab suci islam, kufur atw tdk??

- Menganggap Ali mempunyai sifat2 ketuhanan, kufur atw tdk??

- Dst..

Untuk mengetahui tentang kesesatan dan kekufuran agama syiah (agar diri, keluarga, dan kaum muslimin tdk terpengaruh dg kesesatan dan kekufurannya), Berikut situs2 indonesia yg konsen membongkar kesesatan dan kekufuran agama syiah:

www.inilah-bukti-kesesatan-syiah.blogspot.com/

www.syiah.net/

www.gensyiah.com/

www.hakekat.com/

www.syiahindonesia.com/

www.haulasyiah.wordpress.com/

www.videosyiah.com/

Semoga bermanfaat.

Mari kita sama2 lindungi diri, keluarga, dan semua kaum muslimin dari bahaya agama syiah yg sesat lagi kufur !

Mengenal Sekte Sesat Khawarij

Pemikiran Khawarij


إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ رَجُلاً قَرَأَ الْقُرْآنَ حَتَّى إِذَا رُئِيَتْ بَهْجَتُهُ عَلَيْهِ وَكَانَ رِدْءًا لِلْإِسْلاَمِ  انْسَلَخَ مِنْهُ وَنَبَذَهُ وَرَاءَ ظَهْرِهِ وَسَعَى عَلَى جَارِهِ بِالسَّيْفِ وَرَمَاهُ بِالشِّرْكِ ، قَالَ : قُلْتُ : يَا نَبِيَّ اللهِ ، أَيُّهُمَا أَوْلَى بِالشِّرْكِ الْمَرْمِيُّ أَوِ الرَّامِي ، قَالَ : بَلِ الرَّامِي

Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas kamu adalah seseorang yang membaca Alquran, sehingga apabila telah diperlihatkan kepadanya keindahannya dan tadinya ia adalah pembela Islam, tiba-tiba ia lepas dari Islam dan melemparkan (Alquran) ke belakangnya, dan mendatangi tetangganya dengan membawa pedang dan menuduhnya dengan kesyirikan.” Aku berkata (periwayat hadis ed.), “Wahai Nabi Allah, siapakah yang lebih layak kepada kesyirikan, yang dituduh atau yang menuduh?” Beliau menjawab, “Yang menuduh (lebih layak).” (HR. Al Bazzar)[1]

Hadis ini memberitakan kepada kita tentang adanya orang-orang yang banyak hafal Alquran namun menuduh saudaranya dengan kekafiran, bahkan mengafirkan saudaranya karena dosa-dosa yang ia anggap mengeluarkan pelakunya dari Islam, kemudian menghalalkan darahnya.

Dalam hadis lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa mereka membaca Alquran namun tidak sampai ke kerongkongannya, beliau bersabda,

يَخْرُجُ مِنْهُ قَوْمٌ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنْ الْإِسْلَامِ مُرُوقَ السَّهْمِ مِنْ الرَّمِيَّةِ

Akan keluar darinya (Iraq) suatu kaum yang membaca Alquran namun tidak sampai ke tenggorokannya, mereka lepas dari Islam seperti melesatnya panah dari buruannya.” (HR. Bukhari)

Dan yang dimaksud dengan “tidak sampai ke tenggorokannya” adalah memahaminya dengan pemahaman yang tidak benar. Ia mengira bahwa itu adalah dalil yang menguatkan alasannya, namun sebenarnya tidak demikian, saking dangkalnya pemahaman mereka, sebagaimana yang ditunjukkan dalam riwayat lain,

يَخْرُجُ قَوْمٌ مِنْ أُمَّتِي يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَيْسَتْ قِرَاءَتُكُمْ إِلَى قِرَاءَتِهِمْ شَيْئًا وَلَا صَلَاتُكُمْ إِلَى صَلَاتِهِمْ شَيْئًا وَلَا صِيَامُكُمْ إِلَى صِيَامِهِمْ شَيْئًا يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ يَحْسِبُونَ أَنَّهُ لَهُمْ وَهُوَ عَلَيْهِمْ لَا تُجَاوِزُ صَلَاتُهُمْ تَرَاقِيَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنْ الْإِسْلَامِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ

Akan keluar suatu kaum dari umatku, mereka membaca Alquran, bacaan kamu dibandingkan dengan bacaan mereka tidak ada apa-apanya, demikian pula shalat dan puasa kamu dibandingkan dengan shalat dan puasa mereka tidak ada apa-apanya. Mereka membaca Alquran dan mengiranya sebagai pembela mereka, padahal ia adalah hujjah yang menghancurkan alasan mereka. Shalat mereka tidak sampai ke tenggorokan, mereka lepas dari Islam sebagaimana melesatnya anak panah dari buruannya.” (HR. Abu Dawud)

Bahkan merekapun membawakan hadis-hadis Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam, namun dipahami dengan pemahaman yang tidak benar, sabda Nabi,

يَأْتِي فِي آخِرِ الزَّمَانِ قَوْمٌ حُدَثَاءُ الْأَسْنَانِ سُفَهَاءُ الْأَحْلَامِ يَقُولُونَ مِنْ خَيْرِ قَوْلِ الْبَرِيَّةِ يَمْرُقُونَ مِنْ الْإِسْلَامِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ لَا يُجَاوِزُ إِيمَانُهُمْ حَنَاجِرَهُمْ

Akan ada di akhir zaman suatu kaum yang usianya muda, dan pemahamannya dangkal, mereka mengucapkan perkataan manusia yang paling baik (Rasulullah), mereka lepas dari Islam sebagaimana lepasnya anak panah dari busurnya, iman mereka tidak sampai ke tenggorokan..” (HR Bukhari)

Pemikiran takfiri (mudah mengkafirkan) adalah pemikiran yang ditakutkan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam untuk menimpa umatnya, karena ia berakibat yang tidak bagus dan merugikan Islam dan kaum muslimin bahkan merusak citra Islam dan mengotori keindahannya. Oleh karena itu, Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam mengecam keras Khawarij dalam hadis-hadisnya, Abu Ghalib berkata,

رَأَى أَبُو أُمَامَةَ رُءُوسًا مَنْصُوبَةً عَلَى دَرَجِ مَسْجِدِ دِمَشْقَ فَقَالَ أَبُو أُمَامَةَ كِلَابُ النَّارِ شَرُّ قَتْلَى تَحْتَ أَدِيمِ السَّمَاءِ خَيْرُ قَتْلَى مَنْ قَتَلُوهُ ثُمَّ قَرَأَ { يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ } إِلَى آخِرِ الْآيَةِ
قُلْتُ لِأَبِي أُمَامَةَ أَنْتَ سَمِعْتَهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَوْ لَمْ أَسْمَعْهُ إِلَّا مَرَّةً أَوْ مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا أَوْ أَرْبَعًا حَتَّى عَدَّ سَبْعًا مَا حَدَّثْتُكُمُوهُ.

“Abu Umamah melihat kepala-kepala (kaum Khawarij) yang dipancangkan di jalan Masjid Damaskus, Abu Umamah berkata, “Anjing-anjing neraka, seburuk-buruknya orang yang terbunuh di kolong langit, dan sebaik-baiknya yang dibunuh adalah orang yang dibunuh oleh mereka (Khawarij), kemudian beliau membaca Ayat, “Pada hari wajah-wajah menjadi putih dan wajah-wajah lain menjadi hitam..” Sampai akhir ayat.

Aku berkata kepada Abu Umamah, “Engkau mendengarnya dari Rasulullah shalalahu ‘alaihi wa sallam?” Beliau menjawab, “Aku mendengarnya sekali, dua kali, tiga kali, empat kali sampai tujuh kali. Bila aku tidak mendengarnya, aku tidak akan menyampaikannya kepada kamu.” (HR. At Tirmidzi).

Sifat-Sifat Khawarij


            Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan sifat-sifat mereka, sebagiannya telah kita sebutkan di atas, diantara sifat mereka adalah:

1.      Dangkal Pemahamannya

Telah kita sebutkan di atas, bahwa kaum Khawarij suka membawa dalil dari Alquran dan hadis, namun dipahami dengan pemahaman sendiri, tidak sesuai dengan apa yang dipahami oleh para ulama salafusshalih, walaupun mereka membawakan perkataan ulama, mereka bawakan yang sesuai dengan keinginan mereka saja, atau mengeditnya sedemikian rupa agar terlihat cocok dengan selera mereka sehingga mengelabui orang-orang awam. Tujuan mereka adalah agar pengafiran mereka kepada kaum muslimin menjadi suatu perkara yang dianggap pasti dan meyakinkan, padahal ia hanyalah berdasarkan dugaan dan sangkaan belaka.

Di antara contoh kedangkalan pemahaman mereka adalah sebuah kisah dialog Ibnu Abbas dengan kaum Khawarij, dikeluarkan oleh Al Hakim dalam Mustadraknya (2:164 no.2656) dengan sanad yang shahih sesuai dengan syarat Muslim, Ibnu Abbas berkata,

Ketika kaum Haruriyah (Khawarij) keluar dan berkumpul di suatu tempat, jumlah mereka sekitar enam ribu. Aku mendatangi Ali seraya berkata, “Wahai Amirul Mukminin, akhirkanlah shalat zuhur, barangkali aku dapat berbicara dengan mereka.” Ali berkata, “Aku mengkhawatirkan keselamatanmu.” Aku berkata, “Tidak perlu khawatir.” Aku pun pergi menemui mereka dan aku memakai pakaian Yaman yang paling bagus kemudian aku mengucapkan salam kepada mereka.

Mereka berkata, “Selamat datang wahai Ibnu Abbas, pakaian apa yang engkau pakai?!! Aku menjawab, “Apa yang kalian cerca dariku, padahal aku pernah melihat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah memakai pakaian yang paling bagus, dan telah turun ayat,

قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللهِ الَّتِى أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ

Katakan (Muhammad), siapakah yang berani mengharamkan perhiasan dari Allah dan rezeki yang baik yang Allah keluarkan untuk hamba-hambaNya ?” (QS. Al-A’raaf: 32).

Mereka berkata, “Lalu ada apa engkau datang kemari?”

Aku menjawab, “Aku mendatangi kamu dari sisi para shahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dari kalangan Muhajirin dan Anshar untuk menyampaikan apa yang mereka katakan dan apa yang mereka kabarkan, kepada mereka Alquran diturunkan, dan merekalah yang paling memahaminya, dan tidak ada di antara kalian yang menjadi shahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Sebagian mereka berkata, “Jangan berdialog dengan kaum Quraisy, karena Allah Ta’ala berfirman,

 بَلْ هُمْ قَوْمٌ خَصِمُونَ

Sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar.” (QS. Az-Zukhruf: 58)[2]

Ibnu Abbas berkata, “Aku belum pernah melihat suatu kaum yang sangat bersungguh-sungguh beribadah dari mereka, wajah-wajahnya mereka pucat karena begadang malam (untuk shalat), dan tangan serta lutut mereka menjadi hitam (kapalan).”
Sebagian mereka berkata, “Demi Allah, kami akan berbicara dengannya dan mendengarkan apa yang ia katakan.”

Ibnu Abbas berkata, “Kabarkan kepadaku, apa alasan kalian memerangi anak paman Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam (Ali bin Abi Thalib), serta kaum Muhajirin dan Anshar?”

Mereka berkata, “Tiga perkara.”

Ibnu Abbas berkata, “Apa itu?”

Mereka berkata, “Ia telah berhukum kepada manusia dalam urusan Allah[3], padahal Allah berfirman,

إِنِ الْحُكْمُ إِلاَّ للهِ

“Sesungguhnya hukum itu hanyalah milik Allah.” (QS. Al An’am: 57).

Ibnu Abbas berkata, “Ini yang pertama.”

Mereka berkata, “Ia telah memerangi[4] namun tidak menawan tidak juga mengambil ghanimah (harta rampasan perang), jika yang ia perangi itu orang-orang kafir, maka mereka halal ditawan dan dirampas hartanya. Dan jika yang ia perangi adalah kaum mukminin, maka tidak halal memerangi mereka.”

Ibnu Abbas berkata, “Ini yang kedua, lalu apa yang ketiga?”

Mereka berkata, “Ia telah menghapus nama amirul mukiminin dari dirinya, jika dia bukan amirul mukminin berarti ia adalah amirul kafirin.”

Ibnu Abbas berkata, “Apa ada alasan lain?”

Mereka berkata, “Cukup itu saja”

Ibnu Abbas berkata, “Bagaimana pendapat kalian, jika aku membacakan kitabullah dan sunah nabi-Nya yang dapat meluruskan pemahaman kalian, apakah kalian ridha?”

Mereka berkata, “Ya”

Ibnu Abbas berkata, “Adapun perkataan kalian bahwa Ali berhukum kepada manusia dalam urusan Allah, bukankah Allah menyuruh mengembalikan kepada hukum manusia dalam seperdelapan seperempat dirham, tentang masalah kelinci dan hewan buruan lainnya?” Allah berfirman,

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَ تَقْتُلُوا الصَّيْدَ وَأَنتُمْ حُرُمٌ وَمَن قَتَلَهُ مِنكُمْ مُّتَعَمِّدًا فَجَزَآءٌ مِّثْلُ مَا قَتَلَ مِنَ النَّعَمِ يَحْكُمُ بِهِ ذَوَا عَدْلٍ مِّنكُمْ

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membunuh hewan buruan dalam keadaan berihram. Barang siapa yang membunuhnya diantara kamu secara sengaja, maka dendanya adalah mengantinya dengan hewan yang seimbang dengannya, menurut putusan hukum dua orang yang adil diantara kamu..” (QS. Al-Maidah: 95).

Maka saya bertanya kepada kalian dengan nama Allah, apakah hukum manusia untuk kelinci dan binatang buruan lainnya lebih utama, ataukah hukum manusia untuk menjaga darah dan perdamaian di antara mereka?”

Dalam ayat lain, Allah menyuruh mengembalikan hukum kepada manusia mengenai pertikaian suami istri, Allah berfirman,

وَإِنْ خِفْتُمْ شِقَاقَ بَيْنِهِمَا فَابْعَثُوا حَكَمًا مِّنْ أَهْلِهِ وَحَكَمًا مِّنْ أَهْلِهَآإِن يُرِيدَآإِصْلاَحًا يُوَفِّقِ اللهُ بَيْنَهُمَآإِنَّ اللهَ كَانَ عَلِيمًا خَبِيرًا

Dan bila kamu mengkhawatirkan perceraian antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam (orang yang akan menghukumi) dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga wanita. Jika kedua orang hakam ini bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami istri itu.” (QS. An Nisaa: 35)

Allah menjadikan manusia sebagai hukum yang dipercaya. Apakah aku telah selesai menjawab alasan pertama ini?

Mereka berkata, “Ya”

Ibnu Abbas berkata, “Adapun perkataan kalian bahwa Ali memerangi namun tidak menawan dan tidak mengambil ghanimah, apakah kamu mau menawan ibumu Aisyah kemudian halal disetubuhi sebagaimana tawanan lainnya?? Jika kamu melakukan itu, maka kamu telah kafir. Dan jika kamu berkata bahwa Aisyah bukan ibu kita (kaum muslimin), maka kamu pun telah kafir, jadi kamu berada diantara dua kesesatan, mana saja yang kamu pilih, maka kamu tetap sesat.”

Maka sebagian mereka melihat kepada sebagian lainnya. Lalu aku berkata, “Apakah aku telah selesai menjawab alasan ini?

Mereka menjawab, “Ya”

Ibnu Abbas berkata, “Adapun perkataan kalian bahwa Ali menghapus nama amirul muminin darinya, maka aku akan bawakan apa yang kalian ridhai. Bukankah kalian telah mendengar bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam pada hari perdamaian Hudaibiyah, menulis surat kepada Suhail bin Amru dan Abu Sufyan bin Harb, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Ali bin Abi Thalib, “Tulislah hai Ali, ini adalah isi perdamaian yang dinyatakan oleh Muhammad Rasulullah.”
Namun kaum Musyrikin berkata, “Tidak! Demi Allah kami tidak meyakinimu sebagai rasulullah, jika kami meyakinimu sebagai rasulullah, tentu kami tidak akan memerangimu.” Maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ya Allah, Engkau yang mengetahui bahwa aku adalah rasul-Mu. Tulislah hai Ali, Ini adalah isi perdamaian yang dinyatakan oleh Muhammad bin Abdillah.”
Demi Allah, bukankah Rasulullah lebih baik dari Ali ketika menghapus nama rasul darinya?” Ibnu Abbas berkata, “Maka bertaubatlah sekitar dua ribu orang di antara mereka, dan sisanya terbunuh di atas kesesatan.”

2.      Keras dan Kasar

Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam menyifati kaum Khawarij bahwa mereka adalah kaum yang kasar lagi keras perangainya, beliau bersabda,

سَيَخْرُجُ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ أَشِدَّاءُ أَحِدَّاءُ ذَلِقَةٌ أَلْسِنَتُهُمْ بِالْقُرْآنِ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ أَلَا فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمْ فَأَنِيمُوهُمْ ثُمَّ إِذَا رَأَيْتُمُوهُمْ فَأَنِيمُوهُمْ فَالْمَأْجُورُ قَاتِلُهُمْ

Akan keluar dari umatku beberapa kaum yang keras lagi kasar, lisan-lisan mereka fasih membaca Alquran, namun tidak sampai ke tenggorokan mereka.” (HR. Ahmad dan lainnya)[5]

3.      Tidak Menghormati Ulama

Pendahulu mereka tidak menghormati Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan menganggap Rasulullah tidak berbuat adil, Abu Sa’id Al Khudri berkata,

بَيْنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْسِمُ ذَاتَ يَوْمٍ قِسْمًا فَقَالَ ذُو الْخُوَيْصِرَةِ رَجُلٌ مِنْ بَنِي تَمِيمٍ يَا رَسُولَ اللَّهِ اعْدِلْ قَالَ وَيْلَكَ مَنْ يَعْدِلُ إِذَا لَمْ أَعْدِلْ فَقَالَ عُمَرُ ائْذَنْ لِي فَلْأَضْرِبْ عُنُقَهُ قَالَ لَا إِنَّ لَهُ أَصْحَابًا يَحْقِرُ أَحَدُكُمْ صَلَاتَهُ مَعَ صَلَاتِهِمْ وَصِيَامَهُ مَعَ صِيَامِهِمْ يَمْرُقُونَ مِنْ الدِّينِ كَمُرُوقِ السَّهْمِ مِنْ الرَّمِيَّةِ

“Ketika Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam membagi-bagikan harta (dari Yaman), Dzul Khuwaishirah seorang laki-laki dari bani Tamim berkata, “Wahai Rasulullah berbuat adillah! Beliau bersabda, “Celaka kamu, siapa yang dapat berbuat adil jika aku tidak berbuat adil.” Umar berkata, “Izinkan saya menebas lehernya.” Beliau bersabda, “Jangan, sesungguhnya dia akan mempunyai teman-teman yang shalat dan puasa kalian, sepele dibandingan dengan shalat dan puasa mereka, mereka lepas dari Islam seperti lepasnya anak panak dari buruannya.” (HR. Bukhari)

Setelah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam wafat, di zaman Ali bin Abi Thalib kaum Khawarij muncul, dan mereka tidak menghormati para ulama dari kalangan shahabat seperti Ibnu Abbas dan shahabat-shahabat lainnya. Sebagaimana dalam kisah dialog Ibnu Abbas dengan Khawarij yang telah disebutkan di atas. Sifat ini kita lihat tidak jauh berbeda dengan kaum Khawarij di zaman ini yang melecehkan para ulama besar seperti Syaikh Bin Baz, Syaikh Al Bani, Syaikh ‘Utsaimin dan ulama lainnya, dan meledeknya sebagai ulama penjilat atau ulama yang tidak paham realita serta ejekan-ejekan lainnya. Allahul musta’an

4.      Mudah mengkafirkan pelaku dosa besar terutama negara islam yang tidak berhukum dengan  hukum Allah.

Di zaman Ali bin Abi Thalib dahulu, mereka mengkafirkan Ali bin Abi Thalib dan kaum muslimin yang tidak setuju dengan pendapat mereka, dengan alasan bahwa Ali berhukum kepada manusia, sedangkan hukum itu milik Allah sebagaimana dalam kisah Ibnu Abbas yang lalu, mereka berdalil dengan ayat,

وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَآأَنزَلَ اللهُ فَأُوْلاَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

Dan barang siapa yang tidak berhukum dengan apa yang Allah turunkan, mereka adalah orang-orang yang kafir.” (QS. Al Maidah: 44)

5.      Sangat Hebat Dalam Ibadah

Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam menyifati bahwa mereka adalah kaum yang amat hebat ibadahnya, beliau bersabda,

يَخْرُجُ قَوْمٌ مِنْ أُمَّتِي يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَيْسَتْ قِرَاءَتُكُمْ إِلَى قِرَاءَتِهِمْ شَيْئًا وَلَا صَلَاتُكُمْ إِلَى صَلَاتِهِمْ شَيْئًا وَلَا صِيَامُكُمْ إِلَى صِيَامِهِمْ شَيْئًا يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ يَحْسِبُونَ أَنَّهُ لَهُمْ وَهُوَ عَلَيْهِمْ لَا تُجَاوِزُ صَلَاتُهُمْ تَرَاقِيَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنْ الْإِسْلَامِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ

Akan keluar suatu kaum dari umatku, mereka membaca Alquran, bacaan kamu dibandingkan dengan bacaan mereka tidak ada apa-apanya, demikian pula shalat dan puasa kamu dibandingkan dengan shalat dan puasa mereka tidak ada apa-apanya. Mereka mengira bahwa Alquran itu hujjah yang membela mereka, padahal ia adalah hujah yang menghancurkan alasan mereka. Shalat mereka tidak sampai ke tenggorokan, mereka lepas dari islam sebagaimana melesatnya anak panah dari buruannya.” (HR. Abu Dawud)

Oleh karena itu, ini adalah pelajaran untuk kita agar jangan tertipu dengan hebatnya ibadah seseorang bila ternyata akidahnya menyimpang dari petunjuk Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan mudah memvonis manusia dengan kekafiran.

Penulis: Ustadz Badrusalam, Lc.

[1] Dan dishahihkan oleh Syaikh Al Bani dalam Silsilah Shahihah no 3201.
[2] Lihat bagaimana mereka membawakan ayat tersebut untuk Ibnu Abbas seorang ulama shahabat, betapa dangkalnya pemahaman mereka!!
[3] Yaitu ketika terjadi perdamaian antara pasukan Ali dan pasukan Mu’awiyah, dimana Ali mendelegasikan Abu Musa, sedangkan delegasi dari pihak Mu’awiyah adalah Amru bin Al ‘Ash. Perbuatan ini difahami oleh kaum Khawarij sama dengan menyerahkan hukum kepada manusia, padahal hukum itu milik Allah, betapa piciknya mereka. Allahul musta’an. Demikianlah bila hawa nafsu dan kebodohan berbicara, merusak dunia dan agama.
[4] Maksudnya berperang melawan pasukan Mua’wiyah dalam perang shiffin dan melawan pasukan Aisyah dalam perang Jamal, dan peperangan mereka karena ijtihad dan juga perbuatan provokator yang mengadu domba untuk menghancurkan islam.
[5] HR. Ahmad dalam musnadnya dari jalan Utsman Asy Syahham haddatsani Muslim bin Abu Bakrah dari Ayahnya yaitu Abu Bakrah dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Aku mengatakan, “Sanad ini shahih sesuai dengan syarat Muslim.”

 Sumber: www.cintasunnah.com

TAREKAT NAQSYABANDIYAH : Kenapa saya keluar dari Sufi “Tarekat/Tariqat/Tariqah Naqshbandiyah/Naqsyabandiyah”?

Tarekat/Tariqat/Tariqah Naqshbandiyah/Naqsyabandiyah merupakan salah satu tarekat sufi yang paling luas penyebaran nya, dan terdapat banyak di wilayah Asia  serta Turki, Bosnia-Herzegovina, dan wilayah Dagestan, Russia.

Kata Naqsyabandiyah/Naqsyabandi/Naqshbandi نقشبندی berasal dari Bahasa Arab iaitu Murakab Bina-i dua kalimah Naqsh dan Band yang bererti suatu ukiran yang terpateri, atau mungkin juga dari Bahasa Persia, atau diambil dari nama pendirinya yaitu Baha-ud-Din Naqshband. Sebagian orang menerjemahkan kata tersebut sebagai “pembuat gambar”, “pembuat hiasan”. Sebagian lagi menerjemahkannya sebagai “Jalan Rantai”, atau “Rantai Emas”.

Tarekat ini didirikan oleh Imam Tariqat Hadhrat Khwajah Khwajahgan Sayyid Shah Muhammad Bahauddin Naqshband Al-Bukhari Al-Uwaisi , dilahirkan pada bulan Muharram tahun 717 Hijrah bersamaan 1317 Masihi iaitu pada abad ke 8 Hijrah bersamaan dengan abad ke 14 Masihi di sebuah perkampungan bernama Qasrul ‘Arifan berdekatan Bukhara. Ia menerima pendidikan awal Tariqat secara Zahir dari gurunya Hadhrat Sayyid Muhammad Baba As-Sammasi dan seterusnya menerima rahsia-rahsia Tariqat dan Khilafat dari Syeikhnya, Hadhrat Sayyid Amir Kullal .

Shah Naqshband telah berkata: Pada suatu hari aku dan sahabatku sedang bermuraqabah, lalu pintu langit terbuka dan gambaran Musyahadah hadir kepadaku lalu aku mendengar satu suara berkata, “Tidakkah cukup bagimu untuk meninggalkan mereka yang lain dan hadir ke Hadhrat Kami secara berseorangan?”………….

********

Berikut ini kisah perjalanan dakwah Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu hafidzahullah sebelum beliau mengenal dakwah Salafiyah. Bagaimana kesesatan Shufi yang banyak menyimpang dari tauhid menemani langkah dakwah beliau.

Mengikuti Thariqat Naqsabandiyah


 
Sejak kecil saya selalu mengikuti pelajaran dan halaqoh dzikir di masjid. Suatu ketika, pemimpin tarekat Naksabandiyyah melihatku, lalu ia mengajakku ke pojok masjid dan memberiku wirid-wirid tarekat Naksabandiyyah. Namun, karena usiaku yang masih belia, saya belum mampu membaca wirid-wirid itu sesuai dengan petunjuknya, tetapi saya tetap mengikuti pelajaran mereka bersama teman-teman saya dari pojokan masjid.

Saya mendengar lantunan qasidah dan nyanyian mereka, dan ketika sampai pada penyebutan nama syaikh mereka, dengan serta merta mereka meninggikan dan mengeraskan suara. Teriakan keras di tengah malam ini sangat menggangguku dan membuatku takut dan merinding.

Dan ketika usiaku semakin menajak dewasa, salah seorang kerabat mengajakku ke masjid di daerah kami untuk mengikuti acara yang mereka namakan al-khatam. Kami duduk melingkar, kemudian salah seorang syaikh membagikan kepada kami batu-batu kecil dan berkata:”Al-Fatihah Asy-Syarif dan Al-Ikhlash Asy-Syarif”.

Lalu dengan jumlah batu-batu kecil itu kami membaca surat Al-Fatihah, surat Al-Ikhlash, istighfar dan sholawat dengan bentuk bacaan sholawat yang telah mereka hafal.
Diantara bentuk sholawat yang saya ingat adalah

اللّهُمَ صَلِّ عَلىَ محَُمَّدٍ عَدَدَ الدَّوَابِّ

“Ya Allah, berilah sholawat untuk Muhammad sebanyak binatang melata”

Mereka membaca sholwat ini dengan suara keras di akhir dzikir. Dan selanjutnya, syaikh yang ditugaskan itu menutupnya dengan ucapan rabithah syarifah (ikatan mulia). Mereka mengucapkannya dengan tujuan membayangkan wujud syaikhnya saat menyebut namanya, karena syaikh itulah –menurut mereka- yang mengikat mereka dengan Allah Azza wa Jalla.

Mereka merendahkan suara kemudian berteriak dan terbuai dalam kekhusyu’an, saat itu saya melihat salah seorang diantara mereka melompat ke atas kepala orang-orang yang hadir dari tempat yang tinggi karena kesedihan yang mendalam bagaikan permainan sulap. Saya heran dengan tingkah dan suara yang keras ini ketika menyebut nama syaikh tarekat mereka.
Suatu ketika saya berkunjung ke rumah salah seorang kerabatku dan mendengarkan lantunan nyanyian dari kelompok tarekat Naksabandiyyah, yang berbunyi:

دَلُوْنِيْ بِاللهِ دَلُوْنِيْ # # # # # عَلَى شَيْخِ النَّصْرِ دَلُوْنِي

Tunjuki aku, demi Allah, tunjuki aku. Kepada syaikh penolong, tunjuki aku

اللَّي يُبْرِي العَلِيْلَ ##### وَيَشْفِي المَجْنُوْنَا

Syaikh yang menyembuhkan orang yang sakit. Dan menyembuhkan orang yang gila

Saya berdiri di depan pintu rumah, dan belum sempat masuk ke dalam, lalu berkata kepada tuan rumah:”Apakah syaikh itu yang menyebabkan orang yang sakit dan orang gila?”. Ia menjawab: ”Ya, yang telah diberikan Allah Azza wa Jalla mukjizat menghidupkan orang yang mati, menyembuhkan orang yang buta sejak lahir dan orang yang berpenyakit sopak, tetapi ia tetap mengatakan “dengan izin Allah”.

Kemudian ia berkata kepadaku:”Dan syaikh kami juga melakukannya dengan izin Allah”. Lalu saya  menyanggahnya:”Tetapi mengapa Anda tadi tidak mengatakannya ‘dengan izin Allah’?”.
Karena penyembuh yang sebenarnya adalah Allah Azza wa Jalla semata, sebagaimana perkataan Ibrohim ‘alaihi salam dalam Al-Qur’an:

{وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ} (80) سورة الشعراء

“Dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku (QS. Asy-Syu’ara: 80).

*****

Beberapa Catatan Tentang Thariqat Naqsabandiyah 


1. Ciri khusus tarekat ini adalah wirid-wirid mereka yang tidak dikeraskan. Jadi tarekat ini tidak mengandung tari-tarian dan tepuk tangan sebagaimana pada tarekat-tarekat lainnya.

2. Dzikir-dzikir yang dilakukan secara berkelompok dan pembagian batu-batu kecil untuk setiap orang, lalu mereka diperintahkan membaca sesuatu dan meletakkan batu-batu kecil di dalam gelas berisi air untuk diminum dengan niat kesembuhan, semuanya itu adalah termasuk perbuatan bid’ah yang pernah diingkari oleh salah seorang sahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu ketika masuk ke dalam masjid dan melihat sekelompok orang yang duduk melingkar dan ditangan mereka terdapat batu-batu kecil. Salah seorang diantara mereka berkata:”Bertasbihlah kalian sebanyak batu-batu kecil yang ada di tangan kalian!”.

Beliau mencela perbuatan mereka sambil berkata:”Perbuatan apa yang kalian lakukan ini?”.Mereka menjawab:’Wahai Abu Abdurrahman, kami bertakbir, bertahlil, dan bertasbih dengan batu-batu ini”. Lalu beliau berkata:”Hitunglah dosa-dosa kalian, dan saya menjamin bahwa segala kebaikanmu tidak akan disia-siakan sedikitpun. Celakalah kalian wahai umat Muhammad, mengapa begitu cepat kalian binasa? Sahabat-sahabat Rasul kalian masih banyak yang masih hidup, baju mereka belum hancur, perabot mereka belum pecah, dan demi jiwaku ada di tangan-Nya. Apakah petunjuk kalian lebih baik dari petunjuk Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam? Ataukah kalian telah membuka pintu kesesatan?!” [1]

Jika kita menggunakan logika yang murni, apakah mungkin petunjuk mereka yang lebih baik dari pada petunjuk Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, karena mereka telah mendapatkan taufik (petunjuk) untuk melaksanakan suatu amalan yang tidak diketahui oleh beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam?, atau mungkin mereka yang sesat?. Kemungkinan pertama jelas salah, karena tidak ada seorangpun yang lebih baik dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Jika demikian, berarti tersisa kemungkinan yang terakhir.
 
 3. Rabithah Syarifah (ikatan mulia). Istilah ini menurut mereka adalah gambaran wujud syaikh, seolah-olah ia datang mengawasi mereka ketika namanya disebut dalam dzikir. Sehingga kita dapat melihat bagaimana mereka melakukannya dengan penuh kekhusyu’an dan berteriak-teriak dengan suara yang tidak jelas. Dan inilah derajat ihsan yang sebenarnya, yang menurut mereka dijelaskan dalam sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam:

الإحسان أن تعبد الله كأنك تراه, فإن لم تكن تراه فإنه يراك (رواه مسلم).

“Ihsan itu adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, jika engkau tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Ia melihatmu” (HR. Muslim).

Dalam hadits ini, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam memberikan petunjuk agar kita menyembah Allah seakan-akan kita melihat-Nya, dan jika kita tidak meliaht-Nya, maka sesungguhnya Dia melihat kita. Inilah derajat ihsan yang ditujukan hanya kepada Allah Azza wa jalla semata. Tetapi mereka justru mempersembahkan ihsan itu untuk syaikh mereka. Dan ini termasuk perbuatan syirik yang dilarang Allah Azza wa Jalla dalam firman-Nya:

{وَاعْبُدُواْ اللّهَ وَلاَ تُشْرِكُواْ بِهِ شَيْئًا …} (36) سورة النساء

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun…”(QS. An-Nisa: 36).

Jadi, dzikir itu adalah ibadah yang hanya ditujukan kepada Allah Azza wa Jalla semata dan tidak boleh mempersekutukan-Nya dengan yang lain. Walaupun ia malaikat, seorang Rasul maupun seorang syaikh yang justru kedudukannya di bawah para Rasul. Sehingga larangan mempersekutukan Allah Azza wa Jalla dengan mereka menjadi lebih jelas. Sebenarnya penggambaran syaikh mereka ketika menyebutkan namanya juga terdapat dalam tarekat Syadzaliyyah.

4. Teriakan keras yang mereka lakukan ketika menyebut nama syaikh mereka atau ketika memohon pertolongan kepada selain Allah, seperti kepada ahlul bait dan orang-orang yang dekat kepada Allah Azza wa Jalla adalah termasuk perbuatan mungkar bahkan termasuk perbuatan syirik yang sangat dilarang.

Berteriak dengan suara keras ketika menyebut nama Allah Azza wa Jalla adalah suatu kemungkaran, karena bertentangan dengan firman Allah:

{إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ …} (2) سورة الأنفال

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka…”(QS. Al-Anfal: 2).

Juga bertentangan dengan sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam:

أيها الناس اربعوا على أنفسكم, فإنكم لا تدعون أصم ولا غائبا, إنكم تدعون سميعا قريبا وهو معكم (رواه البخاري و مسلم).

“Wahai manusia sekalian, kasihanilah diri kalian (pelan-pelan dalam berdo’a) karena kalian tidak memanjatkan do’a kepada Dzat yang tuli dan Dzat yang tiada, tetapi kalian memanjatkan do’a kpada Yang Maha Mendengar dan Maha Dekat, dan Dia selalu bersamamu” (HR. Bukhori; Muslim).

Bila menyebut nama Allah Azza wa Jalla dengan suara yang keras itu dilarang, maka berteriak, khusyu’ dan menangis ketika menyebut nama syaikh mereka termasuk kemungkaran yang lebih besar. Karena perbuatan ini termasuk bentuk “kegembiraan” yang digambarkan oleh Allah Azza wa Jalla tentang keadaan orang-orang musyrik dalam firman-Nya:

{وَإِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَحْدَهُ اشْمَأَزَّتْ قُلُوبُ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ وَإِذَا ذُكِرَ الَّذِينَ مِن دُونِهِ إِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُونَ} (45) سورة الزمر

“Dan apabila hanya nama Allah saja disebut, kesallah hati orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat; dan apabila nama sembahan-sembahan selain Allah yang disebut, tiba-tiba mereka bergirang hati”(QS. Az-Zumar: 45).

5. Sikap ghuluw terhadap tarekat serta keyakinan bahwa syaikh mereka itulah yang dapat menyembuhkan orang yang sakit. Padahal Allah Azza wa Jalla menyebutkan perkataan Nabi Ibrohim dalam Al-Qur’an:

{وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ} (80) سورة الشعراء

“Dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku  (QS. Asy-Syu’ara: 80).

Demikian juga dengan kisah seorang pemuda mukmin yang berdo’a kepada Allah untuk orang-orang yang sakit, lalu Allah Azza wa Jalla menyembuhkan mereka, ketika seorang kerabat raja berkata kepadanya:”Kamu akan mendapatkan harta yang banyak ini, jika engkau dapat menyembuhkanku”. Kemudian pemuda itu berkata:”Saya tidak dapat menyembuhkan seseoang, karena yang dapat menyembuhkan itu adalah Allah Azza wa Jalla, jika engkau beriman kepada Allah Azza wa Jalla maka saya akan memohon kepada Allah Azza wa Jalla dan menyembuhkanmu” (HR. Muslim).

6. Penyebutan lafadz tunggal “Allah” ribuan kali adalah wirid mereka. Padahal dzikir dengan menggunakan lafadz “Allah” tidak memiliki landasan syar’I, baik dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat, para tabi’in, maupun dari para imam-imam mujtahidin. Perbuatan ini diadopsi dari perbuatan bid’ah orang-orang shufi. Karena lafadz “Allah” dalam bahasa arab adalah mubtada’ yang tidak mengandung khobar, sehingga kalimat itu menjadi tidak lengkap.

Seandainya seseorang menyebut nama “Umar” berkali-kali dan kita bertanya kepadanya:”Apa yang Anda inginkan dari Umar?”. Kemudian orang tersebut tidak menjawab apa-apa kecuali dengan menyebutkan nama “Umar, Umar…” berkali-kali, maka kita tidak akan mengatakan bahwa ia adalah orang gila, tidak memahami apa yang ia ucapkan.

Orang-orang shufi ketika berdzikir dengan menggunakan lafadz tunggal tersebut, berdalil dengan firman Allah Azza wa Jalla:

{… قُلِ اللّهُ …} (91) سورة الأنعام

“Katakanlah: “Allah-lah (yang menurunkannya)” (QS. Al-An’am: 91).

Seandainya mereka membaca penggalan ayat sebelumnya, tentu mereka akan paham, bahwa maksud ayat itu adalah:”Katakanlah: Allah-lah yang menurunkan kitab itu”.
Adapun nash ayat yang dimaksud adalah firman-Nya:

{وَمَا قَدَرُواْ اللّهَ حَقَّ قَدْرِهِ إِذْ قَالُواْ مَا أَنزَلَ اللّهُ عَلَى بَشَرٍ مِّن شَيْءٍ قُلْ مَنْ أَنزَلَ الْكِتَابَ الَّذِي جَاء بِهِ مُوسَى نُورًا وَهُدًى لِّلنَّاسِ تَجْعَلُونَهُ قَرَاطِيسَ تُبْدُونَهَا وَتُخْفُونَ كَثِيرًا وَعُلِّمْتُم مَّا لَمْ تَعْلَمُواْ أَنتُمْ وَلاَ آبَاؤُكُمْ قُلِ اللّهُ ثُمَّ ذَرْهُمْ فِي خَوْضِهِمْ يَلْعَبُونَ} (91) سورة الأنعام

Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya, di kala mereka berkata: “Allah tidak menurunkan sesuatupun kepada manusia.” Katakanlah: “Siapakah yang menurunkan kitab (Taurat) yang dibawa oleh Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia, kamu jadikan kitab itu lembaran-lembaran kertas yang bercerai-berai, kamu perlihatkan (sebahagiannya) dan kamu sembunyikan sebahagian besarnya, padahal telah diajarkan kepadamu apa yang kamu dan bapak-bapak kamu tidak mengetahui(nya) ?” Katakanlah: “Allah-lah (yang menurunkannya)” (QS. Al-An’am: 91).

Maksudnya adalah:”Katakanlah: Allah-lah yang menurunkan kitab Taurat itu”.

Catatan Kaki:
[1] HR. Ad-Darimi dan Ath-Thabariy. Hadits Hasan.

******

TAREKAT SUFI NAQSYABANDIYAH

 

 
Pertanyaan.
 
Al-Lajnah Ad-Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiyah Wal Ifta ditanya: Ada sebuah perkumpulan wanita dari Kuwait. Mereka menyebarkan dakwah sufi beraliran Naqsyabandiyah secara sembunyi-sembunyi perkumpulan wanita tersebut berada dibawah naungan lembaga resmi.

Kami telah mempelajari kitab-kitab mereka & berdasarkan pengakuan mereka yg pernah ikut perkumpulan wanita ini tarekat ini memiliki pemahaman diantaranya:
(a). Barangsiapa yg tdk mempunyai syaikh maka yg menjadi syaikhnya adalah syetan.
(b). Barangsiapa yg tdk bisa mengambil ahlak syaikh/gurunya maka tdk akan bermanfaat baginya Kitab & Sunnah.

(c). Barangsiapa yg mengatakan pd syaikhnya “Mengapa begitu?” Maka tak akan sukses selamanya.

Selain itu mereka berdzikir (dengan tata cara sufi tentunya) seraya membawa gambar syaikhnya. Mereka suka mencium tangan gurunya yg bergelar Al-Anisaa & berasal dari negeri Arab. Mereka menganggap akan mendapat berkah dg meminum air sisa sang gurunya.

Mereka menulis do’a dg do’a khusus yg dinukil dari buku Al-Lu’lu wa Al-Marjan Fi Taskhiri Muluki Al-Jann. Dan dalam lapangan pendidikan perkumpulan ini membangun madarasah khusus utk kalangan sendiri mereka didik anak-anak berdasarkan ide-ide kelompoknya bahkan ada di antaranya yg mengajar di sekolah-sekolah negeri umum baik jenjang setingkat SMP maupun SMA. Sebagian mereka ada yg berpisah dg suami & meminta cerai lewat pengadilan hal itu terjadi manakala sang suami menyuruh sang istri agar menjauh dari aliran yg sesat ini.

Pertanyaan yg kami ajukan:
. Bagaimanakah menurut syariat tentang perkumpulan wanita tersebut?.

. Diperbolehkan mengawini mereka?.

. Bagaimana pula hukumnya dg akad nikah yg telah berlangsung selama ini?.

. Sekarang nasihat & ancaman yg bagaimana yg pantas utk mereka?.

Mohon penjelasan.

Jawaban.
 
Tarekat sufi salah satunya Naqsyabandiyah adalah aliran sesat & bid’ah menyeleweng dari Kitab & Sunnah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Artinya: Jauhilah oleh kalian perkara baru karena sesuatu yg baru (di dalam agama) adalah bid’ah & setiap bid’ah adalah sesat”. (Hadits Shahih Riwayat Ahmad Abu Dawud Ibnu Majah Tirmidzi & Hakim)

Tarekat sufi tdk semata bid’ah. Bahkan di dalamnya terdapat banyak kesesatan & kesyirikan yg besar hal ini dikarenakan mereka mengkultuskan syaikh/guru mereka dg meminta berkah darinya & penyelewengan-penyelewengan lainnya bila dilihat dari Kitab & Sunnah. Diantaranya pernyataan-pernyataan kelompok sufi sebagaimana telah diungkap oleh penanya.

Semua itu adalah pernyataan yg batil & tdk sesuai dg Al-Qur’an & Sunnah sebab yg patut diterima perkataannya secara mutlak adalah perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana firman Allah.
“Artinya: Apa yg diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yg dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah”. (Al-Hasyr: 7)
“Artinya: Dan tidaklah yg diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya”. (An-Najm: 3)

Adapun selain Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam walau bagaimana tinggi ilmunya perkataannya tdk bisa diterima kecuali kalau sesuai dg Al-Kitab & Sunnah. Adapun yg berpendapat wajib metaati seseorang selain Rasul secara mutlak hanya lantaran memandang “si dia/orang”nya maka ia murtad (keluar dari Islam). Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.
“Artinya: Mereka menjadikan orang-orang alimnya & rahib-rahib mereka sebagai Rabb selain Allah & (juga mereka menjadikan Rabb) Al-Masih putera Maryam ; padahal mereka hanya disuruh menyembah Ilah Yang Maha Esa ; tdk ada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yg mereka persekutukan”. (At-Taubah: 31)

Ulama menafsirkan ayat ini bahwa makna kalimat “menjadikan para rahib sebagai tuhan” ialah bila mereka menta’ati dalam menghalalkan apa yg diharamkan & mengharamkan apa yg dihalalkan. Hal ini diriwayatkan dalam hadits Adi bin Hatim.

Maka wajiblah berhati-hati terhadap aliran sufi baik dia laki-laki / perempuan demikianlah pula terhadap mereka yg berperan dalam pengajaran & pendidikan yg masuk kedalam lembaga-lembaga. Hal ini agar tdk merusak aqidah kaum muslimin.

Lantas diwajibkan pula kepada seorang suami utk melarang orang-orang yg menjadi tanggung jawabnya agar jangan masuk ke dalam lembaga-lembaga tersebut ataupun sekolah-sekolah yg mengajarkan ajaran sufi. Hal ini sebagai upaya memelihara aqidah serta keluarga dari perpecahan & kebejatan para istri terhadap suaminya.

Barangsiapa yg merasa cukup dg aliran sufi maka ia lepas dari manhaj Ahlus Sunnah wa Jamaah jika berkeyakinan bahwa syaikh sufi dapat memberikan berkah / dapat memberikan manfa’at & madharat menyembuhkan orang sakit memberikan rezeki menolak bahaya / berkeyakinan bahwa wajib menta’ati setiap yg dikatakan gurunya/syaikh walaupun bertentangan dg Al-Kitab & As-Sunnah.

Barangsiapa berkeyakinan dg semuanya itu maka dia telah berbuat syirik terhadap Allah dg kesyirikan yg besar dia keluar dari Islam dilarang berloyalitas padanya & menikah dengannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
“Artinya: Dan janganlah kalian nikahi wanita-wanita musyrikah sebelum mereka beriman ………. Dan janganlah kalian menikahkan (anak perempuan) dg laki-laki musyrik sebelum mereka beriman ……..”. (Al-Baqarah: 221)

Wanita yg telah terpengaruh aliran sufi akan tetapi belum sampai pd keyakinan yg telah kami sebutkan diatas tetap tdk dianjurkan utk menikahinya. Entah itu sebelum terjadi aqad ataupun setelahnya kecuali bila setelah dinasehati & bertaubat kepada Allah.

Yang kita nasehatkan adalah bertaubat kepada Allah kembali kepada yg haq meninggalkan aliaran yg batil ini & berhati-hati terhadap orang-orang yg menyeru kepada kejelekan-kejelekan. Hendaknya berpegang teguh dg manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah membaca buku-buku bermanfa’at yg berisi tentang aqidah yg shahih mendengarkan pelajaran muhadharah & acara-acara yg berfaedah yg dilakukan oleh ulama yg berpegang dg teguh pd manhaj yg benar.

Juga kita nasehatkan kepada para istri agar taat kepada suami mereka & orang-orang yg bertanggung jawab dalam hal-hal yg ma’ruf.

Semoga Allah memberikan taufiq-Nya.

Sumber:

RECENT POSTS

RECENT COMMENTS