Tampilkan postingan dengan label Resensi Buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Resensi Buku. Tampilkan semua postingan

Mataku Tidak Bisa Terpejam Hingga Engkau Ridha

Diriwayatkan dari Anas bin Malik rahdiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda:

“Maukah kalian aku beritahu tentang istri-istri kalian di dalam jannah?” Mereka menjawab: “Tentu saja wahai Rasulullah!” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:

“Wanita yang penyayang lagi subur, apabila ia marah, atau diperlakukan buruk atau suaminya marah kepadanya ia berkata: “Ini tanganku di atas tanganmu, mataku tidak bisa terpejam hinga engkau ridha.” (HR At Thabrani)

Makna: laa aktahilu bi ghamd yaitu mataku tidak akan bisa terpejam untuk tidur.

Wahai para istri yang bijaksana, cobalah sesekali obat penawar yang pahit ini untuk menyelesaikan masalah yang terjadi dengan suamimu. Sungguh cara ini telah dicoba oleh seorang istri terhadap suaminya. Ia terlibat perselisihan dengan suaminya, perselisihan itu semakin lama semakin tajam hingga keduanya mengira bahwa penyelesaiannya hanyalah bercerai. Lalu ia mendatangi kamar suaminya dan berkata: “Duhai fulan, ulurkanlah tanganmu biar kubelai, sungguh aku tidak bisa tidur.”

Tiba-tiba saja…

Suaminya berdiri tanpa mengucapkan sepatah katapun, lalu meraih dan mencium tangan istrinya sambil meminta maaf. Keduanya menangis bersama dan hilanglah segala perselisihan seiring dengan deraian air mata…

Apa beratnya melakukan hal semacam ini…?

Akan tetapi…keangkuhan palsu dan kedurhakaan yang dibenci menghalanginya..

Kehormatanku… Keangkuhanku…

Kata-kata setan ini dihembuskan ke dalam hati suami istri ketika muncul masalah diantara keduanya. Kata-kata yang menipu ini merupakan usaha setan untuk mencari pembenaran atas kesalahan masing-masing pihak.

Kehormatan dan keangkuhan apakah yang harus dipertahankan antara sepasang suami istri? Sesungguhnya kehormatan mereka satu. Permohonan maafmu (kepada suami) tidak akan mengurangi kehormatanmu. Bahkan akan menambah kehormatanmu dan cintamu di sisi suamimu. Bahkan permintaan maafmu tersebut –walaupun sebenarnya engkau tidak bersalah- akan membuat suamimu malu terhadap dirinya sendiri. Dan akan membuatnya sadar dan mengoreksi diri.

Janganlah engkau pergi tidur sementara suamimu dalam keadaan marah terhadapmu sebab malaikat-malaikat akan melaknat dirimu

Dikutip dari buku Agar suami Cemburu Padamu (Klik untuk lihat bukunya)
Dr Najla’ As Sayyid Nayil
Pustaka At Tibyan

Bersama Sang Kekasih di Surga

Judul : Bersama Sang Kekasih di Surga
Penulis : Said Yai bin Imanul-Huda, Lc.
Ukuran : 20,5 × 13,5 cm
Tebal : xxiv + 274 hlm
Berat : 300 gr
ISBN : 978-602-8406-70-3


Mungkinkah Kita Bertemu Sang Kekasih di Surga Nanti?
Cinta adalah perasaan hati yang diekspresikan oleh lisan dan tindakan. Tatkala Anda cinta pada suatu hal, pasti Anda sering menyebutnya, bahkan berusaha untuk memilikinya.

Buku ini mencoba menuntun Anda agar dapat merasakan indahnya hidup berkat kecintaan kepada sang kekasih, agar Anda dapat merasakan manisnya hidup dalam keadaan cinta kepadanya, dan agar Anda dapat mengekspresikan cinta kepadanya dengan tepat.

Kekasih sejati haruslah bisa menjadi teladan, mengajak kepada kebenaran, dan melarang untuk mendekati perbuatan-perbuatan yang dilarang. Siapakah dia?

Dia adalah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Suri teladan yang sudah sepantasnya menjadi Sang Kekasih. Sang Kekasih yang harus diberikan kepadanya cinta dengan sepenuh hati.
Semoga dengan mengaplikasikan isi buku ini, hidup Anda menjadi terasa manis, walaupun cobaan dan aral sering melintang dalam hidup Anda


Sumber: http://darus-sunnah.com/index.php?page=shop.product_details&category_id=9&flypage=flypage.tpl&product_id=210&vmcchk=1&option=com_virtuemart&Itemid=56

Malang Nian Orang yang Tidak Shalat

Malang Nian Orang yang Tidak Shalat




Shalat adalah salah satu rukun Islam yang sangat penting, hingga tak seorang pun dibenarkan untuk meninggalkannya, bahkan orang sakit separah apa pun kondisinya ia tetap waajib melaksanakan shalat sesuai dengan kemampuannya.

Karena pentingnya shalat, hingga celaka besar bagi yang meninggalkannya. Maka, ketika seorang yang suka meninggalkan shalat itu mati, ia dimasukkan ke dalam perut bumi, lalu ia menjerit-jerit pilu, tetapi tak seorang pun yang peduli, bahkan bumi berkata kepadanya, -kamu dahulu tertawa terbahak-bahak di atas punggungku, sekarang kamu menjerit pilu di perutku. 

Kamu dahulu memakan makanan yang enak-enak di atas punggungku, sekarang cacing di perutku gantian yang memakan dagingmu. Kamu dahulu berselimutkan kain-kain indah dan sutera, sekarang kamu hanya berselimutkan debu. Kamu dahulu tidak senang mencium bau-bau yang tidak sedap, sekarang segala sesuatu tidak mau mencium baumu. Kamu dahulu sombong diatas punggungku, sekarang kamu tidak punya teman sama sekali selain cacing-cacing di perutku. Kamu dahulu meninggalkan shalat di punggungku sekarang aku suguhi bara-bara api neraka, sehingga bagaimanapun posisimu, bara itu ada disekelilingmu.- Maka sungguh malang orang yang meninggalkan shalat.


Info Buku:
http://kautsar.co.id/index.php?page=shop.product_details&flypage=flypage.tpl&product_id=42&category_id=6&option=com_virtuemart&Itemid=56&vmcchk=1&Itemid=56

Aku Masih Terlalu Muda

Aku Masih Terlalu Muda


Pernah ada seorang pemuda begitu rajin merawat dan melayani seorang lelaki tua yang tengah terbaring sakit. Lelaki tua itu tidak lain adalah mertuanya. Sang mertua seudah belasan tahun menderita sakit. Usianya menginjak tujuh puluhan. Berbagai penyakit, katarak, reumatik, hernia, infamasi prostat, dan seabrek penyakit lainnya sudah lama diidap lelaki tua itu. Sudah 2 kali operasi. Si menantu sendiri terlihat sehat dan kuat. Usianya masih sangat muda. Untuk merawat mertua, ia bahkan ditolong oleh kakak lelakinya yang juga bertubuh sehat, juara karate pula. Keduanya seolah-olah sekadar menanti kematian lelaki tua itu.

Tetapi ajal adalah rahasia ilahi. Bukan orang itu yang meninggal, justru menantunya yang sangat muda dan segar bugar, terlebih dahulu dijemput maut. Selang beberapa bulan, ganti kakaknya si jago karate menyusul ke liang lahat. Keduanya meningal dunia karena penyakit di bagian perut yang selama ini dianggap biasa saja. Niat hendak merawat si tua hingga wafat, justru ia yang terlebih dahulu dirawat jenazahnya ke pekuburan masal.

Kisah ini benar-benar nyata. Realita yang serupa dengan itu pun ternyata amat banyak. Logika awal yang menggambarkan seorang anak menangisi kepergian ibunya yang sudah tua renta, sama nyatanya dengan logika seorang ibu melepaskan kepergian anaknya yang jauh lebih muda. Itu bukan soal hukum pasti, tapi soal takdir yang tidak bisa diganggu gugat. Akhirnya, soal tua, muda, besar, kecil, kuat atau lemah menjadi bukan untuk rumusan untuk mengukur usia manusia.

“sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah diatur waktunya.” (Ali Imran : 145)

Sekarang kita menengok realita lain. Ada kalanya kita sulit membuat definisi, saat hal yang didefinisikan sendiri masih sangat controversial. Kata “Muda” bisa disebut sebuah kata yang mengandung sekian kontoversial.

Pertama, seorang yang berusia 70 tahun tetap saja disebut lebih muda jika disandingkan dengan orang berusia 80 tahun.

Kedua, soal muda, amat berkaitan dengan jatah usia yang diberikan Allah ta’ala. Kalau seseorang memiliki jatah usia 25 tahun, maka usia 24 tahun baginya merupakan usia yang sudah tua. Karena usia yang tersisa hanya seperduapuluhempat dari usianya yang telah dijalaninya. Orang yang berusia 40 tahun, bisa disebut muda kalau jatah usianya 90 tahun.

Ketiga, soal muda juga terkait dengan kondisi tubuh. Adalah memalukan untuk mengaku muda, kalau stamina tubuh, kebugaran, kesegaran kulit, rambut dan tulang serta kesehatan tubuhnya lebih mengenaskan daripada orang berusia 80 tahun. Ada orang yang usianya sudah kepala delapan, tak ubahnya anak berusia belasan tahun.

Keempat, soal muda dan tua juga menjadi relatif bila dilihat dari sudut pengalaman hidupnya.

Kelima, muda dan tua juga bisa dinilai dari kemampuan menikmati hidup dan kelezatan duniawi.

Keenam, muda dan tua juga bisa ditakar dari status social, sudah berkeluarga atau belum, berapa jumlah anak dan cucunya atau bahkan cicitnya. Ada wanita berumur 27 tahun sudah bercucu. Tapi ada juga yang sudah berusia 80 tahun, jangankan cucu, satupun belum ada anaknya yang sudah menikah.

Ketujuh, mungkin setiap zaman dan tempat, standar tua dan muda juga bisa berbeda-beda. Ada satu lingkungan di satu masa tertentu, rata-rata usia kematian diatas sembilan puluh. Ada lagi habitat lain, dimana usia kematiannya rata-rata hanya enam puluh tahun. Perbedaan usia kematian, tantu saja berpengaruh besar pada takaran soal muda dan tua

Kembali ke soal usia muda. Kita semua tahu, betapa naïf anggapan bahwa muda berarti jauh dari maut. Anggapan itu sering diartikan kesempatan untuk berbuat semaunya, bekerja semaunya, makan, tidur, istirahat semaunya, bermaksiat semaunya, melakukan segala sesuatu seenak dan sebisanya. Ketika Allah mengharamkan maksiat, soal usia muda tidak pernah menjadi alasan untuk berudzur. Karena justru di usia itu, sebagian besar potensi kemanusiaannya mengendap. Di usia itu juga, seharusnya sorang muslim lebiih berupaya keras menahan gejolak nefsunya. Karena kegagalan atau keberhasilannya disaat itu, akan menetukan kualitasnya di masa depan. Dalam ungkapam Arab dituturkan, “kondisi terbaik di masa muda adalah mengekang nafsu saat sedang liar-liarnya.”

Tak terbilang jumlah orang-orang yang menyesal di masa tua, kerena demikian miskin sesungguhnya di masa mudanya. Rasa sesal itu kerap muncul menjadi sebuah petuah “Mumpung masih muda, kamu harus banyak belajar, jangan seperti saya dulu”. “Saat muda seperti sekarang mestinya kamu bersungguh-sungguh. Kalau sudah tua kayak saya ini, apalah yang bisa kamu lakukan nanti?”.

Ungkapan penyesalan itulah yang justru amat berguna buat dirinya, dan juga buat orang-orang yang dia beri petuah. Ungkapan rasa sesal itu akan membuka tabir realita bahwa amatlah bodoh membiarkan masa muda berlalu dalam ketidakpastian, atau bahkan dalam kubangan dosa dan maksiat.

“Kedua telapak kaki seorang hamba tidak akan bergeming di hari kiamat nanti, sebelum ia dimintai pertanggungjawaban atas 4 hal : atas masa mudanya, untuk apa saja dihabiskan, atas usianya, untuk apa saja digunakan, atas harta bendanya, dari mana saja dicari dan kemana saja dibelanjakan, lalu ilmunya, untuk apa saja diamalkan.” (HR.Ath-Thabrani dalam Al-Mu’ajamul Ausath)

Masa muda adalah bagian dari usia manusia. Lebih dari itu Allah juga meminta pertanggungjawaban atas masamuda secara khusus. Itu menunjukan, betapa masa muda memiliki catatan tersendiri dalam hidup seseorang. Masa muda menjadi titik tolak eksistensi kemanusiaan dan kehambaan di masa depan.
Orang tua merenungi nasib dan kenangan hidupnya sudah pasti wajar. Namun seorang anak muda yang masih berdarah panas, saat nafsunya sedang bergolak di puncaknya, lalu ia melakukan perenungan terhadap kehidupannya, pengabdian apa yang sudah dia persembahkan kepada Allah, dan berapa banyak sudah maksiat yang digelutinya, sungguh sebuah keistimewaan. Sungguh kita sangat wajib memiliki keistimewaan itu. Karena diluar keistimewaan itu hanya kehinaan belaka.

"Sudah saatnya kita lebih memahami betapa hebatnya rahasia takdir, dan betapa dahsyatnya rahasia ajal. Semua pengalaman dan realita seharusnya mengajarkan bagi kita, bahwa tidak boleh bermain-main dengan ikhtiar. Kita harus sangat menyadari bahwa akhir hidup, tak peduli di usia muda atau tua, menentukan tampat kembali di akhirat kelak. Bila itu dipahami dengan baik, akan jadi pelajaran yang amat berharga."


(Artikel Saya rangkum dari buku “Dalam Selimut Kabut Maksiat” penerbit Rumah Dzikir oleh Ust. Abu Umar Basyir)

http://arrahmanarrahim.blogspot.com/2009/06/aku-masih-terlalu-muda.html

RECENT POSTS

RECENT COMMENTS