Tampilkan postingan dengan label Nasihat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nasihat. Tampilkan semua postingan

Etika Orangtua di Hadapan Guru

Sering kita dapati, sebagian orang tua yang tidak terima dengan perlakuan guru kepada anaknya langsung ke sekolah lalu melabrak sang guru tanpa mengindahkan etika. Bahkan tak jarang berakhir dengan aksi pemukulan.

Fenomena ini diangkat oleh Asy Syaikh Muhammad bin Ibrahim Hamd dalam karya beliau bertajuk Attaqshir fi Tarbiyatil Abna'. Beliau menyebutkan bahwa tindakan yang semacam ini bukanlah tindakan yang terpuji dan justru akan berefek buruk kepada anak.

Beliau mengatakan,

"Kadang terjadi peristiwa di mana salah seorang guru atau pengurus sekolah memarahi atau memberikan hukuman kepada murid. Orang tuanya justru datang sambil marah-marah. 

Alih-alih berbicara dengan sopan dan santun kepada pihak yang menghukum anaknya, atau setidaknya membicarakannya empat mata, dia malah melontarkan kata-kata yang tidak pantas kepada sang guru dan menumpahkan emosinya kepada sang guru DI DEPAN SANG ANAK."

Apa akibat buruk dari hal ini?

Beliau melanjutkan, 

"Dari sini, berkuranglah wibawa sang guru di mata anak- anak. Akhirnya anak itu merasa sombong, angkuh dan bangga diri. Setelah itu, besar kemungkinan ia tidak akan mau lagi mendengar ucapan sang guru."

Sampai di sini kutipan dari Syaikh Al Hamd.

Buruk sekali akibatnya bukan?

Ketika menyekolahkan anak di suatu lembaga tentunya sudah mempercayakan pendidikan mereka kepada guru-guru di sana. Jadi -mohon maaf sebelumnya- bersikap santunlah kepada guru anak-anak kita. Jangan karena kita sudah membayar SPP, merasa sudah menggaji guru, sehingga guru-guru itu tidak lagi kita hormati.

Mungkin kita bisa berkaca pada kisahnya khalifah Abdul Aziz bin Marwan dan guru dari putra beliau.

Disebutkan dalam Siyar A'lamin Nubala (5/116) bahwa Abdulaziz bin Marwan yang ketika itu menjabat sebagai salah satu gubernur dari Bani Umayyah mengutus putranya, Umar bin Abdil Aziz ke Kota Madinah untuk belajar. 

Ia menugaskan pengajarannya kepada Shalih bin Kaisan. Shalih pun mau mengajari dengan syarat si Umar harus komitmen menjaga shalat. 

Suatu hari Umar terlambat shalat, sehingga ditanya oleh Shalih,

“Apa yang membuatmu terlambat?” 

“Tadi sisiran dulu..” Jawabnya.

“Hanya menyisir rambut sampai mengganggu shalatmu?” kata Shalih. 

Shalih pun menulis surat kepada ayahnya, sang gubernur. 

Mendengar pengaduan tersebut, sang gubernur pun mengirim utusan dan tanpa babibu langsung menggunduli rambut putranya. Komitmen yang dibuat harus dijaga.

Orangtua perlu bersinergi dengan guru kalau mau pendidikan anaknya berhasil biidznillah. Saling bekerja sama dan menjaga etika. Kedepankan dialog dengan penuh kesantunan.

Mohon maaf kalau kurang berkenan.


Kota Pelajar, 25 Agustus 2020.

WMB.

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid02yzBvycHnDeWHh7zaSduHfpLqADXtu4i3A697Exo6ygSAdaKqqgsNTnkGxdE2ktpil&id=100005709420745&mibextid=Nif5oz

Suami Melihat Isi Hp Istri, Istri Melihat Isi Hp Suami ?

Suami melihat isi hp istri, istri melihat isi hp suami?

Alhamdulillah, saya dan istri termasuk menganut prinsip keterbukaan, kesepakatan, dan saling menjaga amanah di luar sedari awal. Jadi, kami tidak pernah ada masalah apabila dia membuka hp saya, dan saya membuka hp-nya.

Apakah tidak terkena ayat : ?

وَلَا تَجَسَّسُوا

"Dan janganlah kalian memata-matai." [Al-Hujurat : 12]

::. Apabila sudah ada kesepakatan dan izin dari awal, maka ini bukanlah memata-matai.

Bagaimana jika pasangannya marah?

::. Dimaklumi apabila si istri atau si suami merasa kesal karena mungkin tidak ada izin sebelumnya atau diam-diam. Tapi seharusnya marah pun tidak perlu sampai sebegitu marahnya apabila memang "tidak ada apa-apa" didalam hp-nya, baik itu whatsapp, fb, instagram, maupun aplikasi sosial lainnya. Menjadi tidak wajar apabila marah sampai membentak dan mendiamkan pasangannya.

Bagaimana dengan privasi pasangan?

::. Apa yang dinamakan privasi itu? Bagi saya pribadi, privasi saya adalah ketika saya membaca buku, menulis sesuatu di laptop, mengajak jalan si kecil, ataupun ketika mengaji atau kumpul-kumpul bareng teman-teman grup ngaji dengan para asatidz, dan itu pun istri tahu person-personnya. Yang pasti, saya pun juga tahu teman-teman ngajinya istri dan saya tidak akan mengganggunya apabila ia sedang berkegiatan dengan teman-temannya ini. Butuh kepercayaan dan saling menjaga amanah.

Bagaimana bila memang ditemukan tanda-tanda penyimpangan di hp-nya?

::. Jangan pernah mendiamkan hal-hal seperti ini, menyimpan sendirian dalam hati, sedih sendiri, dan sebagainya. Tanya, kroscek, dan tabayyun. Jangan pula takut pada marahnya. Kita mengkroscek hal seperti ini berarti kita mencegah pasangan jatuh ke lembah nista dan ini adalah salah satu bentuk sayang pada pasangan apabila kita mencintainya. Kita cemburu, itu berarti kita masih punya ghirah untuk menjaga keutuhan rumah tangga.

Dan mungkin sudah hukum alam atau sunnatullah, penyimpangan, atau bibit-bibit selingkuh, mau diumpetin serapi apapun niscaya PASTI akan ketahuan, seakan Allah Ta'ala memang tidak ridha dengan "main belakang". Maka, jangan memelihara bara dalam sekam. Penyesalan selalu datang terlambat, ketika rumah tangga sudah hancur berantakan.

Syaikh Wahbah Az-Zuhaili rahimahullah berkata :

التراضي أساس في عقد الزواج

"Sikap saling meridhai itu adalah pokok dalam akad perkawinan."

Wallahu a'lam.

Ia Tetap Bertahan Bersamamu

Jangan sampai
Engkau kehilangan pasangan halal-mu

Yang telah tahu berbagai kekurangan-mu

Tapi ia memilih bertahan bersama-mu

SAMPAI KE SURGA ALLAH SELAMANYA
Ketika engkau terkaget

Setelah menikah, tersingkaplah aib dan kekurangannya

Pasangan-mu pun juga bisa jadi terkaget

Karena engkaupun punya aib dan kekurangan
Tapi janganlah aib dan kekurangan terus yang teringat

Kebaikan pasanganmu sangat banyak

Coba ingat kembali janji dan tekad di awal pernikahan

Susah senang bersama

Baiknya dinikmati bersama dan saling berbagi

kurangnya saling mengisi dan saling menasehati
Mungkin kurangnya komunikasi

Tidak sempat ngobrol sejenak ba’da subuh

Tidak sempat saling berkisah dan bercurhat sebelum tidur

Waktu itu selalu ada

Sebelum mata terpejam dan sebelum tidur menyapa malam

Suami-istri bercengkrama hangat dan bercanda

Kepala istri bersandar nyaman di bahu suami

Lengan suami memeluk hangat bahu

Semua masalah dan penat

Terselesai-lah malam itu juga dengan izin Allah
Menikah adalah seni mengalah

Fokus menunaikan kewajiban masing-masing

Maka hak itu akan mengalir dengan sendirinya
Sudah saatnya intropeksi

Dahulu engkau memilihnya

Apakah utamanya karena Allah dan agama

Atau karena dunia saja (cantik, ganteng, kaya, jabatan)?
Engkau harus memilih ia karena Allah

Jika tidak, segera ber-istigfar dan perbaiki niatmu sekarang

Masih ada waktu memperbaiki dan menjalani dengan indah
Karena …
ما كان لله أبقي
“Apa-apa yang karena Allah maka akan kekal”
Jangan hanya bercita-cita

Cinta berujung terbelah memisah

Ketika maut menjemput,

Tetapi cinta karena Allah

Abadi berdua selamanya di surga
Bagi yang akan memilih, pilihlah ia karena Allah dan sesuai petunjuk syariat, yaitu agama dan akhlak yang utama

@ Di antara langit dan bumi Allah, Pesawat Citilink Jogja-Jakarta
Penyusun: Raehanul Bahraen
Artikel www.muslimafiyah.com

https://muslimafiyah.com/ia-tetap-bertahan-bersama-mu.html

Cara Memberikan Nasehat Kepada Pemimpin - Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, M.A.



Sesi tanya jawab dari kajian dengan tema “Cara Beragama yang Mudah dan Selamat” yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, MA.

Menasehati pemimpin dengan nasehat yang baik dan cara yang bijak adalah ibadah yang sangat mulia. Bahkan ketika Nabi ditanya jihad apa yang paling utama? Beliau menjawab:

كلمة حق عند سلطان جائر

“Kalimat kebenaran di sisi pemimpin yang dzalim“. (HR. Nasai, Ibnu Majah dan dishahihkan al Albani dalam Ash Shahihah: 491)

Banyak orang salah paham tentang hadits ini dan menjadikannya dalil bolehnya membeberkan aib pemimpin di media umum. Ini tidak benar. Hadits ini menganjurkan untuk menasehati pemimpin tapi di hadapannya secara langsung. Perhatikanlah lafadz عند سلطان (di sisi pemimpin).

Oleh karenanya Allah memerintahkan Nabi Musa dan Harun untuk mendatangi Firaun secara langsung dan menasehatinya dg lembut. (QS. Thoha: 43-44).

Adapun kita menyebut kejelekan pemimpin di forum umum seperti facebook, mimbar umum dll yang jauh dari pemimpin maka ini bukanlah nasehat karena yang dinasehati aja belum tentu membaca atau mengetahuinya bahkan ini bisa memprovokasi rakyat untuk benci pada pemimpin sehingga menimbulkan kerusakan dan pembrontakan (lihat Syarh Arbain Nawawiyah hal. 121 oleh Ibnu Utsaimin).

Anehnya, banyak para pengkritik pemimpin dari jarak jauh tadi jika berhadapan langsung dengan pemimpin mereka justru menjadi manusia pengecut. Hal seperti ini dinilai oleh ulama salaf dahulu sebagai suatu kemunafikan sebagamana kata Ibnu Umar dalam riwayat Al Bukhori (7178).
Jadi menasehati langsung di hadapan pemimpin dengan cara yang bijak adalah kemulian dan keberanian. Adapun mengungkap aib dari kejauhan dan di media umum adalah penghinaan dan kemunafikan.


Marilah kita mendoakan kebaikan untuk peminpin kita agar dibimbing oleh Allah kepada jalan yang benar sesuai ajaran Islam.
https://muslim.or.id/23877-menasehati-pemimpin-yes-menghina-pemimpin-no.html

Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=wX1lmSh5qs0

Ceramah Singkat: Khutbah Iblis yang Menyentuh Hati - Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A.



Video Ceramah Singkat: Khutbah Iblis yang Menyentuh Hati - Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A.

Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata :

إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ ، قَامَ إِبْلِيْسُ خَطِيْبًا عَلَى مِنْبَرٍ مِنْ نَارٍ ، فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَعَدَكُمْ وَعْدَ الْحَقِّ وَوَعَدْتُكُمْ فَأَخْلَفْتُكُمْ

"Tatkala hari kiamat Iblis berdiri di atas sebuah mimbar dari api lalu berkhutbah seraya berkata, "Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan akupun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya..." (Tafsiir At-Thobari 16/563)

Al-Haafizh Ibnu Katsiir rahimahullah berkata :

يُخْبِرُ تَعَالَى عَمَّا خَطَبَ بِهِ إِبْلِيْسُ أَتْبَاعَهُ، بَعْدَمَا قَضَى اللهُ بَيْنَ عِبَادَهُ، فَأدخل المؤمنين الجنات، وأسكن الكافرين الدركات، فقام فيهم إبليس -لعنه الله -حينئذ خطيبا ليزيدهم حزنا إلى حزنهم (4) وغَبنا إلى غبْنهم، وحسرة إلى حسرتهم

"Allah mengabarkan tentang khutbah yang disampaikan oleh Iblis kepada para pengikutnya, yaitu setelah Allah memutuskan/menghisab para hambaNya, lalu Allah memasukan kaum mukminin ke surga, dan Allah menempatkan orang-orang kafir ke dalam neraka jahannam. Maka Iblispun tatkala itu berdiri dan berkhutbah kepada para pengikutnya agar semakin menambah kesedihan di atas kesedihan mereka, kerugian di atas kerugian, serta penyesalan di atas penyesalan...." (Tafsiir Al-Qur'an Al-'Adziim 4/489)

Allah menyebutkan khutbah Iblis yang sangat menyentuh tersebut:

وَقَالَ الشَّيْطَانُ لَمَّا قُضِيَ الأمْرُ إِنَّ اللَّهَ وَعَدَكُمْ وَعْدَ الْحَقِّ وَوَعَدْتُكُمْ فَأَخْلَفْتُكُمْ وَمَا كَانَ لِي عَلَيْكُمْ مِنْ سُلْطَانٍ إِلا أَنْ دَعَوْتُكُمْ فَاسْتَجَبْتُمْ لِي فَلا تَلُومُونِي وَلُومُوا أَنْفُسَكُمْ مَا أَنَا بِمُصْرِخِكُمْ وَمَا أَنْتُمْ بِمُصْرِخِيَّ إِنِّي كَفَرْتُ بِمَا أَشْرَكْتُمُونِي مِنْ قَبْلُ إِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (٢٢)وَأُدْخِلَ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ (٢٣)

"Dan berkatalah syaitan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan: "Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepada kalian janji yang benar, dan akupun telah menjanjikan kepada kalian tetapi aku menyalahinya. sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadap kalian, melainkan (sekedar) aku menyeru kalian lalu kalian mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kalian mencerca aku akan tetapi cercalah diri kalian sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolong kalian dan kalian pun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatan kalian yang mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu". Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih". Dan dimasukkanlah orang-orang yang beriman dan beramal saleh ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya dengan seizin Tuhan mereka" (QS Ibrahim : 22-23)

♥♥♥ MISTERI CINTA ♥♥♥

Duhai cinta......

♥ kisah A'sya

Seorang penyair bernama A'sya Pernah melihat seorang wanita yg dia kagumi kecantikannya di sebuah istana...A'sya pun mencintainya.
Tetapi sayang gadis itu ternyata telah menambatkan panah asmaranya pada seorang laki-laki lain. Apakah berakhir sampai di situ??
Ternyata tidak, sebab laki-itu juga telah melabuhkan bahtera cintanya pada pemudi lain.
Akhirnya A'sya menuliskan isi hatinya dalam sebentuk syair,ia berkata:"

عُلّقْتُهَا عَرَضـاً ، وَعُلّقَـتْ رَجُـلا غَيرِي = وَعُلّقَ  أُخرَى غَيرَهَا الرَّجـل

Aku mencintainya (seorang wanita) Tetapi dia mencintai lelaki lain Dan ternyata laki-laki itu mencintai wanita yang lain pula.

♥ Bertepuk sebelah tangan

Kata orang "alangkah sakitnya cinta yang bertepuk sebelah tangan".
Betapa tidak....bagaimana rasanya hati jika ternyata : gayung kasih yang telah diulurkan tak bersambut.... ketika asa yg telah diukir dan dipatrikan dalam hati untuk mempersunting sang bunga ternyata ditolak.....
Sakit...sakit... Kecewa...kecewa... Bahkan terkadang orang yg dimabuk cinta rela menempuh segala macam cara untuk mencapai tujuannya.
Tak perduli harus mandi kembang tujuh rupa..... Mereguk air dari tujuh perigi.... Memakai jampi dan mantera... Semua nekat dikerjakan jika dapat menemui pujaannya.
tidak peduli walaupun istri orang....istri teman....dia tetap nekat dan jalan.

♥ Ketika harap itu datang, siapkan diri untuk kecewa.

Setiap insan berhak punya harapan, cita cita dan mimpi-mimpi yang ingin ia raih.
Tetapi ibarat kata penyair:
ليس كل ما يتمناه المرء يدركه تجري الرياح بما لا تهوي السفن

"Tidak setiap apa yg diinginkan seserang akan dia capai.... Terkadang angin berhembus ke arah yg tidak diinginkan nahkoda...
Setiap orang telah memiliki garis takdir yang tidak akan dapat dia robah..jika Allah tidak berkendak dengan segudang hikmah dibalik kegagalan tersebut....yakinlah itu yang terbaik untuk anda, wakaupun terkadang terasa begitu pahitnya berusa sabar menerima takdir.

♥ pria idola yang sempurna

Datang seorang wanita kepada Nabi -shalallahu alaihi wa sallam- menyerahkan dirinya untuk dinikahi Nabi. Beliau memperhatikan wanita itu dari atas hingga ke bawah...namun Rasulullah tidak berkata apapun hingga wanita tersebut duduk menunggu.
Melihat Rasulullah tidak berkata apapun tentang tawaran wanita tersebut, maka berdirilah seseorang lelaki dari sahabat dan berkata: "wahai baginda Rasul....jikalah anda tidak tertarik kpd wanita ini maka nikahkanlah saya padanya....singkat cerita Nabipun menikahkan mereka dengan mahar mengajarkan sang istri Alquran.
Ternyata wanita yang tidak menarik hati Nabi untuk menikahinya, begitu anggun dan jelitanya di mata sahabat beliau. Itulah misteri cinta........

♥ misteri cinta mughits

Ada seorang budak bernama Muhgits yang sangat mencintai istrinya Barirah yg juga berstatus budak sepertinya.
Keduanya dipertemukan dalam talian pernikahan yang sebenarnya Barirah sendiri terkesan hanyalah memenuhi perintah tuannya untuk menerima Mughits sebagai suami.
Biduk rumah tangga yang mereka jalani tidaklah sebagaimana yang terjadi antara pasangan suami istri yang saling mencinta.
Betapa besarnya cinta Muhgits kepada Barirah dan betapa besarnya kebencian Barirah pada Mughits, namun subhanallah...ternyata kebenciannya tidak mengurangi baktinya kpd suaminya hingga Barirah melahirkan anak untuknya.
Tatkala Barirah berubah status menjadi merdeka dengan bantuan Aisyah -radhiallahu Anha- yang menebusnya dari tuannya, maka secara otomatis dia punya hak untuk meninggalkan suaminya yg masih berstatus budak.
Barirah memilih meninggalkan Mughits dan menyudahi petualangan rumah tangga keduanya yang kandas terempas badai kebencian Barirah kepada suaminya.
Ibarat memikul beban yang menggunung selama bertahun-tahun, kini Barirah telah melepaskan beban tersebut. Betapa suka citanya Barirah merasakan udara kebebasan dari belenggu Mughits.
Pergilah Barirah dari rumah suaminya menuju rumah Aisyah sebagai teman dekat yang paling memahami isi hatinya, sementara Mughits berjalan mengekorinya dari belakang membujuk rayu agar Barirah sudi mempertahankan pernikahan dengannya.
Sambil menangis Mughits mendatangi Nabi dan memohon pada Beliau untuk menasehati Barirah dan memintakan syafaat beliau agar Barirah tidak meninggalkannya.
Tetapi hati Barirah telah membeku menerima Mughits, sekalipun Mughits meminta Nabi secara langsung untuk bicara padanya.
Mendengarkan anjuran Nabi yang berkata padanya: wahai Barirah ....kembalilah engkau pada mughits!!
Dengan segenap keberanian yang dia kumpulkan Barirah menjawab perkataan Nabi: wahai Rasulullah apakah ini adalah intruksi anda yang tidak boleh saya tentang....atau ini hanyalah syafaat??
Rasullah-shallahu alaihi wasallam menjawab: saya hanyalah sekedar memohonkan baginya syafaat jika kau sudi menerimanya.
Barirah berkata: jika demikian halnya wahai Rasulullah maka ketahuilah bahwa saya tidak pernah mencintai Mughits dan tidak akan pernah kembali padanya.
Dengan gontai Mughits kembali kpd tuannya dengan segala kekecewaan bahwa cintanya ditolak Barirah.
Melihat hal itu Nabi terenyuh dan berkata: betapa takjubnya diriku melihat besarnya cinta Mughits kepada Barirah dan betapa besarnya kebencian Barirah kepada Mughits.

♥ kekasih yang tidak pernah mengecewakan anda

Kepada sahabat yang pernah ditolak cintanya.... Kepada orang-orang yang sedang dilanda kasmaran menunggu jawaban yang tidak pasti.....
Jika cinta anda ditolak... Datangilah pintu kekasih yg tidak pernah mengecewakan anda.... Kekasih yang senantiasa mencintai anda...lebih dari anda mencintai diri anda sendiri...
Kekasih abadi yang tidak akan pernah meninggalkan anda sesaatpun... Kekasih yang senantiasa menjaga anda dikala tidur dan bangun....
Kekasih yang senantiasa memaafkan kekeliruan anda....
Dialah Allah....
Dijamin....anda tidak akan pernah kecewa.

Batam, ba'da isya pulang ta'lim  28 jumada ula 1435 h/29 april 2014
Teruntuk saudara-saudariku yang lagi galau.

Abu fairuz.

Gabung di channel: https://telegram.me/salafiunsri

KEKELIRUAN BUKU PENDIDIKAN YANG MENGHARAMKAN KATA "JANGAN" PADA ANAK

Salah seorang pendidik pernah berkata, "Pintu terbesar yang mudah dimasuki Yahudi ada dua, yaitu dunia psikologi dan dunia pendidikan."

Karena itulah, berangkat dari hal ini. Kita akan mengupas beberapa "kekeliruan" pada buku-buku pendidikan, seminar, teori pendidikan, dll. Yang kadang sudah menjangkiti beberapa pendidik muslim, para ayah dan ibu, yaitu melarang berkata "Jangan" pada Anak. Beberapa waktu lalu, saya sepakat dengan hal ini. Maka dengan tertulisnya artikel ini, saya bertaubat kepada Alloh Subhanahu wa ta'ala dari bahayanya doktrin di atas.

Mari kita lihat, beberapa perkataan 'dalam pendidikan' tentang larangan mengucapkan kata 'jangan' pada anak, misalnya ".. gunakan kata-kata preventif, seperti hati-hati,berhenti, diam di tempat, atau stop. Itu sebabnya kita sebaiknya tidak menggunakan kata 'jangan' karena alam bawah sadar manusia tidak merespons dengan cepat kata "jangan.."

Pada media online detik.com, pernah tertulis artikel, 'Begini Caranya Melarang Anak Tanpa Gunakan Kata 'Tidak' atau 'Jangan', bertuliskan demikian: "..Tak usah bingung, untuk melarang anak tak melulu harus dengan kata jangan atau tidak..." Pada sebuah artikel lain, berjudul, "Mendidik Anak Tanpa Menggunakan Kata JANGAN” tertulis, "Kata 'jangan' akan memberikan nuansa negatif dan larangan dari kita sebagai orangtua, maka dari itu coba untuk mengganti dengan kata yang lebih positif dan berikan alasan yang dapat diterima anak..."

Nah, inilah syubhat (keraguan/kerancuan). Indah nampaknya, tapi di dalamnya terkandung bahaya yang fatal. Mari kita bahas syubhat yang mereka gelontorkan. Sebelumnya, kalau kita mau teliti, mari kita tanyakan kepada mereka yang melarang kata 'jangan', apakah ini punya landasan dalam Al-Qur'an dan hadits? Apakah semua ayat di dalam al-Qur'an tidak menggunakan kata "Laa (jangan)"?

Mereka pun mengatakan jangan terlalu sering mengatakan jangan. Sungguh mereka lupa bahwa lebih dari 500 kalimat dalam ayat Al-Qur’an menggunakan kata “jangan". Allohu Akbar, banyak sekali! Mau dikemanakan kebenaran ini? Apa mau dibuang? Apa mau lebih memilih teori-teori yang dhoif?

Kalau mereka mengatakan kata jangan bukan tindakan preventif (pencegahan), maka kita tanya, apakah Anda mengenal Luqman Al-Hakim? (Surah Luqman ayat 12 sampai 19).

Kisah ini dibuka dengan penekanan Allah bahwa Luqman itu orang yang diberi hikmah, orang arif yang secara tersirat kita diperintahkan untuk meneladaninya (“walaqod ataina luqmanal hikmah….” . dst). Apa bunyi ayat yang kemudian muncul? Ayat 13 lebih tegas menceritakan bahwa Luqman itu berkata kepada anaknya, “Wahai anakku. JANGANLAH engkau menyekutukan Allah. Sesungguhnya syirik itu termasuk kezhaliman yang paling besar”.

Inilah bentuk tindakan preventif yang sangat tegas dalam al-Qur'an. Sampai pada ayat 19, ada 4 kata “laa" (jangan) yang dilontarkan oleh Luqman kepada anaknya, yaitu “laa tusyrik billah”, “fa laa tuthi’humaa”, “Wa laa tusha’ir khaddaka linnaasi”, dan “wa laa tamsyi fil ardli maraha”.
Luqman tidak perlu mengganti kata “jangan menyekutukan Allah” dengan (misalnya) "esakanlah Allah”. Pun demikian dengan “Laa” yang lain, tidak diganti dengan kata-kata kebalikan yang bersifat anjuran.

Mengapa Luqmanul Hakim tidak menganti "jangan" dengan "diam/hati-hati"? Karena ini bimbingan Alloh. Perkataan "jangan" itu mudah dicerna oleh anak, sebagaimana penuturan Luqman Hakim kepada anaknya.

Dan perkataan "jangan" juga positif, tidak negatif. Ini semua bimbingan dari Alloh Subhanahu wa ta'ala, bukan teori pendidikan Yahudi.

Adakah pribadi psikolog atau pakar parenting pencetus aneka teori ‘modern’ yang melebihi kemuliaan dan senioritas Luqman? Tidak ada. Luqman bukan nabi, tetapi namanya diabadikan oleh Allah dalam Kitab suci karena ketinggian ilmunya. Dan tidak satupun ada nama psikolog yang kita temukan dalam kitabullah itu.

Membuang kata “jangan” justru menjadikan anak hanya dimanja oleh pilihan yang serba benar. Ia tidak memukul teman bukan karena mengerti bahwa memukul itu terlarang dalam agama, tetapi karena lebih memilih berdamai. Ia tidak sombong bukan karena kesombongan itu dosa, melainkan hanya karena menganggap rendah hati itu lebih aman baginya.

Dan kelak, ia tidak berzina bukan karena takut adzab Alloh, tetapi karena menganggap bahwa menahan nafsu itu pilihan yang dianjurkan orang tuanya.

Nas alulloha salaman wal afiyah. Anak-anak hasil didikan tanpa “jangan” berisiko tidak punya “sense of syariah” dan keterikatan hukum. Mereka akan sangat tidak peduli melihat kemaksiatan bertebaran, tidak perhatian lagi dengan amar ma'ruf nahi mungkar, tidak ada lagi minat untuk mendakwahi manusia yang dalam kondisi bersalah, karena dalam hatinya berkata “itu pilihan mereka, saya tidak demikian”.

Mereka bungkam melihat penistaan agama karena otaknya berbunyi “mereka memang begitu, yang penting saya tidak melakukannya”. Itulah sebenar-benar paham liberal, yang 'humanis’, toleran, dan menghargai pilihan-pilihan.

Jadi, bila kita yakini dan praktikkan teori parenting barat itu, maka sesungguhnya kita bersiap anak-anak kita tumbuh menjadi generasi liberal. Haruskah kita simpan saja Al-Qur’an di lemari paling dalam, dan kita lebih memilih teori2 yahudi? Astaghfirulloh!

[Rujukan: Al-Qur'an, Akh Budi, Akh Yazid (Abu Hanin)]

 https://www.facebook.com/mita.apriastuti/posts/1519282501685182

SELFIE CADAR

Selfie Cadar: Menutupi Tetapi Hakikatnya Ingin Dilihat 

“Ada juga ya, wanita yang pakai cadar tapi upload wajah diri dengan cadarnya, plus gaya centil pula”

Berfoto selfie cadar sepertinya sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia modern saat ini. Untuk berbagai momen dan kebutuhan akun media sosial atau sekedar ingin menunjukkan eksistensi diri. Namun, bagi wanita yang sudah berkomitmen memakai cadar dan berusaha mencapai puncak kemuliaan wanita, tidak selayaknya melakukan hal ini. Berfoto ria dengan menampakkan muka memakai cadar, menggunakan gaya-gaya yang tidak kalah (maaf) “narsisnya” dengan foto model ataupun minimal gerakan mata dan alis yang mewakili ekspresi mereka.

Bahkan ada juga yang ramai-ramai, beberapa wanita dengan sunah memakai cadar, berfoto bareng dengan berbagai ekpresi eksistensi dengan gaya yang menunjukkan seolah-olah mereka belum paham sunnah. Kemudian foto tersebut diupload di media sosal atau dijadikan gambar akun peribadi. tentunya menjadi foto “milik bersama” dan menjadi konsumsi publik. Tentu ini tidak selayaknya dilakukan oleh wanita dengan komitmen menerapkan sunnah memakai cadar.

Hakikat cadar adalah menutupi diri dari laki-laki yang bukan mahram

Ulama yang menyimpulkan hukum sunnah untuk cadar atau yang mewajibkan cadar sama-sama sepakat bahwa wajah dan kecantikan wanita bisa menjadi fitnah bagi laki-laki. Karena wajah wanita selayaknya ditutup, semua laki-laki pasti setuju hal ini. Tentu para istri tidak rela, suaminya menikmati kecantikan wajah wanita lainnya kemudian terbesit sesuatu dalam hati suaminya.

Daya tarik utama bagi laki-laki adalah wajah wanita. Ulama mengatakan,

فالرجل الذي يريد أن يتعرف على جمال المرأة إنما ينظر إلى وجهها

“Laki-laki jika ingin mengetahui kecantikan seorang wanita maka ia pasti akan memandang ke wajahnya.”[1]

karenanya seorang Sahabat bernama Al-Fadhl diperintahkan agar memalingkan pandangan dari kecantikan wajah wanita karena berpotensi menjadi fitnah.

Fadhl bin Abbas (saudaranya Ibn Abbas) pernah membonceng Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di belakang beliau, karena tunggangan Fadhl kecapekan. Fadhl adalah pemuda yang cerah wajahnya. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berhenti di atas tunggangannya, untuk menjawab pertanyaan banyak sahabat yang mendatangi beliau. Tiba-tiba datang seorang wanita dari Bani Khats’am, seorang wanita yang sangat cerah wajahnya untuk bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ibnu Abbas melanjutkan,

فَطَفِقَ الفَضْلُ يَنْظُرُ إِلَيْهَا، وَأَعْجَبَهُ حُسْنُهَا، فَالْتَفَتَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالفَضْلُ يَنْظُرُ إِلَيْهَا، فَأَخْلَفَ بِيَدِهِ فَأَخَذَ بِذَقَنِ الفَضْلِ، فَعَدَلَ وَجْهَهُ عَنِ النَّظَرِ إِلَيْهَا

Maka Fadhl-pun langsung mengarahkan pandangan kepadanya, dan takjub dengan kecantikannya. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memalingkan wajah beliau, namun Fadhl tetap mengarahkan pandangannya ke wanita tersebut. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang rahang Fadhl dan memalingkan wajahnya agar tidak melihat si wanita.[2]

Para laki-laki yang penasaran dan Pandangan yang sulit ditahan di dunia maya

Banyaknya foto-foto tersebut semisal wanita yang mengupload foto selfie. Ternyata mengundang juga penasaran para laki-laki karena memang fitnah/ujian wanita yang cukup besar dan menjadi fitnah terbesar laki-laki.

Jika foto selfie cadar wanita, maka ada-ada saja terbesit dalam hati laki-laki
“Alisnya bagus ya, pasti cantik ni”
“wah tinggi juga ternyata, bodinya pas sepertinya”

Masa’ sih laki-laki sampai segitunya?

Iya bisa, apalagi bagi laki-laki yang dalam hatinya ada peyakit “syahwat terhadap wanita”

Allah Ta’ala berfirman :,

إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَعْرُوفًا

“Maka janganlah kamu (wanita) tunduk (menghaluskan suara) dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (al-Ahzab :32)

Ya demikianlah, wanita yang apa adanya dengan cadar selalu dihias-hiasi yang bisa jadi dengan hiasan semu oleh setan yang sudah bersumpah akan mencari teman manusia di nereka.

Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

المَرْأَةُ عَوْرَةٌ إِذَا خَرَجَتِ اسْتَشْرَ فَهَا الشَّيْطَانُ

“Wanita itu adalah aurat. Bila ia keluar, setan akan menghiasinya (untuk menggoda laki-laki).”[3]

Syaikh Abul ‘Ala Al-Mubarakfuri rahimahullah berkata,

( فإذا خرجت استشرفها الشيطان ) أي زينها في نظر الرجال وقيل أي نظر إليها ليغويها ويغوى بها والأصل في الاستشراف رفع البصر للنظر إلى الشيء

“Bila wanita keluar, setan akan menghiasinya (untuk menggoda laki-laki), maknanya adalah setan menghiasinya di mata laki-laki. Juga dikatakan, maknanya, setan melihat wanita tersebut untuk menyesatkannya dan menyesatkan (manusia) dengannya. Dan makna asal (الاستشراف) adalah mengangkat pandangan untuk melihat sesuatu.”[4]

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

النَّظْرَةُ سَهْمٌ مِنْ سِهَامِ إِبْلِيسَ مَسْمُومَةٌ فَمَنْ تَرَكَهَا مِنْ خَوْفِ اللَّهِ أَثَابَهُ جَلَّ وَعَزَّ إِيمَانًا يَجِدُ حَلَاوَتَهُ فِي قَلْبِهِ» هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحُ الْإِسْنَادِ وَلَمْ يُخَرِّجَاهُ

“Pandangan adalah satu anak panah di antara anak panah-anak panah iblis. Barangsiapa yang meninggalkannya karena takut kepada Allah, maka Allah Azza wa Jalla akan memberikan keimanan dan ia merasakan manisnya di hatinya”[5]

Telah dijelaskan juga, bahwa wanita bisa menjadi fitnah dan menghilangkan akal sehat laki-laki yang telah istiqamah dan teguh imannya sekalipun.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا رَأَيْتُ مِنْ نَاقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِينٍ أَذْهَبَ لِلُبِّ الرَّجُلِ الْحَازِمِ مِنْ إِحْدَاكُنَّ

“Tidaklah aku pernah melihat orang yang kurang akal dan agamanya sehingga dapat menghilangkankan akal laki-laki yang teguh selain salah satu di antara kalian wahai wanita.”[6]

Wanita bercadar atau tidak, jangan upload gambar dan wajah diri di media sosial

Setelah tahu fitnah dan ujian pandangan mata, maka tidak selayaknya wanita baik yang bercadar atau tidak meng-upload gambar dan foto diri di dunia maya. Begitu juga laki-laki, sebaiknya jangan mengupload karena wanitapun diperintahkan agar menundukkan pandagannya.

Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (An Nur: 30)

Wanita juga perlu menundukkan pandangan, Allah Ta’ala berfirman,

Allah subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya.” (An-Nuur : 31)

Bahkan kita diperintahkan memalingkan pandangan kita jika melihat, akan tetapi dengan bertebarannya gambar-gambar foto para wanita.

Cukup sulit menerapkan hadits ini:

Dari Jarir bin Abdillah radliyallahu ‘anhu , ia berkata,

سَأَلْتُ رَسُوْلَ اللهِ عَنْ نَظْرَةِ الْفَجَاءَةِ, فَأَمَرَنِيْ أَنْ أَِصْرِفَ بَصَرِيْ

“Saya bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang pandangan yang tiba-tiba (tidak sengaja), maka beliau memerintahan aku untuk memalingkan pandanganku”[7]

Demikian semoga bermanfaat

@Laboratorium Klinik RSUP DR. Sardjito, Yogyakarta Tercinta

Penyusun: Raehanul Bahraen

Artikel www.muslimafiyah.com

silahkan like fanspage FB , follow twitter , Follow Akun Faceebook

[1] Sumber: http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=26290

[2] HR. Bukhari, no.6228

[3] HR. At-Tirmidzi no. 1173, dishahihan oleh Al-Albani mengatakan dalam Misykatul Mashabih no. 3109

[4] Tuhfatul Ahwadzi 4/283, Darul Kutub Al-‘Ilmiyah, Beirut, Asy-Syamilah

[5] HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak no. 7875, dia berkata: sanad hadist shahih dan tidak dikeluarkan oleh bukhari dan muslim, tahqiq Musthofa Abdul Qodir Atha

[6] HR. Bukhari no. 304

[7] HR. Muslim no. 2159


 https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10202798493603040&set=a.10200142478604325.1073741826.1821705253&type=1&theater

ISTRIKU BUKAN BIDADARI, TAPI AKU PUN BUKAN MALAIKAT

Istriku Bukan Bidadari, Tapi Aku Pun Bukan Malaikat

Alhamdulillah, salawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, dan sahabatnya.

Anda telah berkeluarga? Bagaimana pengalaman Anda selama mengarungi bahtera rumah tangga? Semulus dan seindah yang Anda bayangkan dahulu?

Mungkin saja Anda menjawab, “Tidak.”

Akan tetapi, izinkan saya berbeda dengan Anda, “Ya,” bahkan lebih indah daripada yang saya bayangkan sebelumnya.

Saudaraku, kehidupan rumah tangga memang penuh dengan dinamika, lika-liku, dan pasang surut. Kadang Anda senang, dan kadang Anda bersedih. Tidak jarang, Anda tersenyum di hadapan pasangan Anda, dan kadang kala Anda cemberut dan bermasam muka.

Bukankah demikian, Saudaraku?

Berbagai tantangan dan tanggung jawab dalam rumah tangga senantiasa menghiasi hari-hari Anda. Semakin lama umur pernikahan Anda, maka semakin berat dan bertambah banyak perjuangan yang harus Anda tunaikan.

Tanggung jawab terhadap putra-putri, pekerjaan, karib kerabat, masyarakat, dan lain sebagainya.
Di antara tanggung jawab yang tidak akan pernah lepas dari kehidupan Anda ialah tanggung jawab terhadap pasangan hidup Anda.

Sebelum menikah, sah-sah saja Anda sebagai calon suami membayangkan bahwa pasangan hidup Anda cantik rupawan, bangsawan, kaya raya, patuh, pandai mengurus rumah, penyayang, tanggap, sabar, dan berbagai gambaran indah.

Bukankah demikian, Saudaraku?

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَلِجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

“Biasanya, seorang wanita dinikahi karena empat pertimbangan: harta kekayaannya, kedudukannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka, hendaknya engkau lebih memilih wanita yang beragama, niscaya engkau beruntung.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Al-Qurthubi menjelaskan makna hadits ini dengan berkata, “Empat pertimbangan inilah yang biasanya mendorong seorang lelaki untuk menikahi seorang wanita. Dengan demikian, hadits ini sebatas kabar tentang fakta yang terjadi di masyarakat, dan bukan perintah untuk menjadikannya sebagai pertimbangan. Secara tekstual pun, hadits ini menunjukkan bahwa dibolehkan menikahi seorang wanita dengan keempat pertimbangan itu. Akan tetapi, hendaknya pertimbangan agama lebih didahulukan.”

Keterangan al-Qurthubi ini semakna dengan hadits yang diriwayatkan oleh shahabat Abdullah bin Amr al-’Ash radhiyallahu ‘anhu, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَزَوَّجُوا النِّسَاءَ لِحُسْنِهِنَّ فَعَسَى حُسْنُهُنَّ أَنْ يُرْدِيَهُنَّ وَلاَ تَزَوَّجُوهُنَّ لِأَمْوَالِهِنَّ فَعَسَى أَمْوَالُهُنَّ أَنْ تُطْغِيَهُنَّ وَلَكِنْ تَزَوَّجُوهُنَّ عَلَى الدِّينِ وَلَأَمَةٌ خَرْمَاءُ سَوْدَاءُ ذَاتُ دِينٍ أَفْضَلُ

‘Janganlah engkau menikahi wanita hanya karena kecantikan parasnya, karena bisa saja parasnya yang cantik menjadikannya sengsara. Jangan pula engkau menikahinya karena harta kekayaannya, karena bisa saja harta kekayaan yang ia miliki menjadikan lupa daratan. Akan tetapi, hendaklah engkau menikahinya karena pertimbangan agamanya. Sungguh, seorang budak wanita berhidung pesek dan berkulit hitam, tetapi ia patuh beragama, lebih utama dibanding mereka semua.’” (Hr. Ibnu Majah; oleh al-Albani dinyatakan sebagai hadits yang lemah)

Akan tetapi, sekarang, setelah Anda menikah, terwujudkah seluruh impian dan gambaran yang dahulu terlukis dalam lamunan Anda?

Bila benar-benar seluruh impian Anda terwujud pada pasangan hidup Anda, maka saya turut mengucapkan selamat berbahagia di dunia dan akhirat. Bila tidak, maka tidak perlu berkecil hati atau kecewa.

Saudaraku, besarkan hati Anda, karena nasib serupa tidak hanya menimpa Anda seorang, tetapi juga menimpa kebanyakan umat manusia.

عَنْ أَبِى مُوسَى رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: كَمُلَ مِنَ الرِّجَالِ كَثِيرٌ، وَلَمْ يَكْمُلْ مِنَ النِّسَاءِ إِلاَّ آسِيَةُ امْرَأَةُ فِرْعَوْنَ، وَمَرْيَمُ بِنْتُ عِمْرَانَ، وَإِنَّ فَضْلَ عَائِشَةَ عَلَى النِّسَاءِ كَفَضْلِ الثَّرِيدِ عَلَى سَائِرِ الطَّعَامِ

Abu Musa radhiyallahu ‘anhu menuturkan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Banyak lelaki yang berhasil menggapai kesempurnaan, sedangkan tidaklah ada dari wanita yang berhasil menggapainya kecuali Asiyah istri Fir’aun dan Maryam binti Imran. Sesungguhnya, kelebihan Aisyah dibanding wanita lainnya bagaikan kelebihan bubur daging [1] dibanding makanan lainnya.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Saudaraku, berbahagia dan berbanggalah dengan pasangan hidup Anda, karena pasangan hidup Anda adalah wanita terbaik untuk Anda!

Anda tidak percaya? Silakan Anda membuktikannya. Bacalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini, lalu terapkanlah pada istri Anda.

لاَ يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ

“Tidak pantas bagi lelaki yang beriman untuk meremehkan wanita yang beriman. Bila ia tidak menyukai satu perangai darinya, pasti ia puas dengan perangainya yang lain.” (Hr. Muslim)
Saudaraku, Anda kecewa karena istri Anda kurang pandai memasak? Tidak perlu khawatir, karena ternyata istri Anda adalah penyayang.

Anda kurang puas dengan istri Anda yang kurang pandai mengurus rumah dan kurang sabar? Tidak usah berkecil hati, karena ia begitu cantik rupawan.

Anda berkecil hati karena istri Anda kurang cantik? Segera besarkan hati Anda, karena ternyata istri Anda subur sehingga Anda mendapatkan karunia keturunan yang shalih dan shalihah. Coba Anda bayangkan, betapa besar penderitaan Anda bila Anda menikahi wanita cantik akan tetapi mandul.
Demikianlah seterusnya.

Tidak etis dan tidak manusiawi bila Anda hanya pandai mengorek kekurangan istri, namun Anda tidak mahir dalam menemukan kelebihan-kelebihannya. Buktikan Saudaraku, bahwa Anda benar-benar seorang suami yang berjiwa besar, sehingga Anda peka dan lihai dalam membaca kelebihan pasangan Anda.

Dahulu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu peka dan mahir dalam membaca segala hal, termasuk suasana hati istrinya. Aisyah mengisahkan,

قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ: إِنِّي لَأَعْلَمُ إِذَا كُنْتِ عَنِّي رَاضِيَةً، وَإِذَا كُنْتِ عَلَيَّ غَضْبَى . قَالَتْ: فَقُلْتُ مِنْ أَيْنَ تَعْرِفُ ذَلِكَ، فَقَالَ: أَمَّا إِذَا كُنْتِ عَنِّي رَاضِيَةً فَإِنَّكِ تَقُولِيْنَ لاَ وَرَبِّ مُحَمَّدٍ، وَإِذَا كُنْتِ غَضْبَى قُلْتِ لاَ وَرَبِّ إِبْرَاهِيمَ. قَالَتْ: قُلْتُ أَجَلْ وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا أَهْجُرُ إِلاَّ اسْمَكَ

“Pada suatu hari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku, ‘Sungguh, aku mengetahui bila engkau ridha kepadaku, demikian pula bila engkau sedang marah kepadaku.’ Spontan, Aisyah bertanya, ‘Darimana engkau dapat mengetahui hal itu?’ Rasulullah menjawab, ‘Bila engkau sedang ridha kepadaku, maka ketika engkau bersumpah, engkau berkata, ‘Tidak, demi Tuhan Muhammad. Adapun bila engkau sedang dirundung amarah, maka ketika engkau bersumpah, engkau berkata, ‘Tidak, demi Tuhan Ibrahim.’’ Mendengar penjelasan ini, Aisyah menimpalinya dan berkata, ‘Benar, sungguh demi Allah, wahai Rasulullah, ketika aku marah, tiada yang aku tinggalkan, kecuali namamu saja.’” (Muttafaqun ‘alaihi)

Demikianlah teladan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau begitu peka dengan suasana hati istrinya, sehingga beliau bisa membaca isi hati istrinya dari ucapan sumpahnya. Walaupun Aisyah berusaha untuk menyembunyikan isi hatinya, tetap bermanis muka, senantiasa berada di sanding Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan berbicara seperti biasa, namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dapat menebak suasana hatinya dari perubahan cara bersumpahnya. Luar biasa, perhatian, kejelian, dan kepekaan yang tidak ada bandingnya.

Tidak mengherankan, bila beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

(خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي

“Orang terbaik di antara kalian ialah orang yang terbaik dalam memperlakukan istrinya, dan aku adalah orang terbaik di antara kalian dalam memperlakukan istriku.” (Hr. At-Tirmidzi)

Bagaimana dengan Anda, Saudaraku? Dengan apa Anda dapat mengenali dan meraba suasana hati pasangan Anda?

Saudaraku, tidak ada salahnya bila sejenak Anda kembali memutar lamunan dan gambaran tentang istri ideal dan idaman yang pernah singgah dalam benak Anda. Selanjutnya, bandingkan gambaran istri idaman Anda dengan gambaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kaum wanita berikut ini,

الْمَرْأَةُ كَالضِّلَعِ ، إِنْ أَقَمْتَهَا كَسَرْتَهَا، وَإِنِ اسْتَمْتَعْتَ بِهَا اسْتَمْتَعْتَ بِهَا وَفِيهَا عِوَجٌ

“Wanita itu bagaikan tulang rusuk. Bila engkau ingin meluruskannya, niscaya engkau menjadikannya patah, dan bila engkau bersenang-senang dengannya, niscaya engkau dapat bersenang-senang dengannya, sedangkan ia adalah bengkok.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Pada riwayat lain, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَسْتَقِيمُ لَكَ الْمَرْأَةُ عَلَى خَلِيقَةٍ وَاحِدَةٍ وَإِنَّمَا هِيَ كَالضِّلَعُ إِنْ تُقِمْهَا تَكْسِرْهَا وَإِنْ تَتْرُكْهَا تَسْتَمْتِعْ بِهَا وَفِيهَا عِوَجٌ

“Tidak mungkin istrimu kuasa bertahan dalam satu keadaan. Sesungguhnya, wanita itu bak tulang rusuk. Bila engkau ingin meluruskannya, niscaya engkau menjadikannya patah. Adapun bila engkau biarkan begitu saja, maka engkau dapat bersenang-senang dengannya, (tetapi hendaklah engkau ingat) ia adalah bengkok.” (Hr. Ahmad)

Nah, sekarang, silakan Anda mengorek memori Anda tentang wanita pendamping hidup Anda. Temukan berbagai kelebihan padanya, dan selanjutnya tersenyumlah, karena ternyata istri Anda memiliki banyak kelebihan.

Lalu, bila pada suatu hari Anda merasa tergoda oleh kecantikan wanita lain, maka ketahuilah bahwa sesuatu yang dimiliki oleh wanita itu ternyata juga telah dimiliki oleh istri Anda. Maka, bergegaslah untuk membuktikan hal ini pada istri Anda. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا رَأَى أَحَدُكُمُ امْرَأَةً فَأَعْجَبَتْهُ فَلْيَأْتِ أَهْلَهُ فَإِنَّ مَعَهَا مِثْلَ الَّذِي مَعَهَا

“Bila engkau melihat seorang wanita, lalu ia memikat hatimu, maka segeralah datangi istrimu! Sesungguhnya, istrimu memiliki seluruh hal yang dimiliki oleh wanita yang engkau lihat itu.” (Hr. At-Tirmidzi)

Demikianlah caranya agar Anda dapat senantiasa puas dan bangga dengan pasangan hidup Anda. Anda selalu dapat merasa bahwa ladang Anda tampak hijau, sehijau ladang tetangga, dan bahkan lebih hijau.
Selamat berbahagia dengan pasangan hidup yang telah Allah karuniakan kepada Anda. Semoga Allah memberkahi bahtera rumah tangga Anda.

Sebaliknya, sebagai calon istri, Anda juga berhak untuk mendambakan pasangan hidup yang tampan, gagah, kaya raya, pandai, berkedudukan tinggi, penuh perhatian, setia, penyantun, dermawan, dan lain sebagainya.
Betapa indahnya gambaran rumah tangga Anda, dan betapa istimewanya pasangan hidup Anda, andai gambaran Anda ini dapat terwujud. Bukankah demikian, Saudariku?

Saudariku, setelah Anda menikah, benarkah seluruh kriteria suami ideal yang pernah menghiasi lamunan Anda ini terwujud pada pasangan hidup Anda?

Bila benar terwujud, maka saya ucapkan selamat berbahagia di dunia dan akhirat, dan bila tidak, maka tidak perlu berkecil hati.

Besarkan hatimu, wahai Saudariku! Percayalah, bahwa pada pasangan hidup Anda ternyata terdapat banyak kelebihan.

Bila selama ini, Saudari ciut hati karena suami Anda miskin harta, maka tidak perlu khawatir, karena ia penuh dengan perhatian dan tanggung jawab.

Bila selama ini, Saudari kecewa karena suami Anda ternyata kurang tampan, maka percayalah bahwa ia setia dan bertanggung jawab.

Andai selama ini, Saudari kurang puas karena suami Anda kurang perhatian dengan urusan dalam rumah, tetapi ia begitu membanggakan dalam urusan luar rumah.

Juga, andai selama ini, sikap suami Anda terhadap Anda kurang simpatik, maka tidak perlu hanyut dalam duka dan kekecawaan, karena ia masih punya jasa baik yang tidak ternilai dengan harta. Ternyata, selama ini, suami Anda telah menjaga kehormatan Anda, menjadi penyebab Anda merasakan kebahagiaan menimang putra-putri Anda.

Saudariku, Anda tidak perlu hanyut dalam kekecewaan karena suatu hal yang ada pada diri suami Anda. Betapa banyak kelebihan-kelebihan yang ada padanya. Berbahagia dan nikmatilah kedamaian hidup rumah tangga bersamanya.

Berlarut-larut dalam kekecewaan terhadap suatu perangai suami Anda dapat menghancurkan segala keindahan dalam rumah tangga Anda. Bukan hanya hancur di dunia, bahkan berkelanjutan hingga di akhirat kelak.

Saudariku, simaklah peringatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini. Agar anda dapat menjadikan bahtera rumah tangga Anda seindah dambaan Anda.

أُرِيتُ النَّارَ فَإِذَا أَكْثَرُ أَهْلِهَا النِّسَاءُ يَكْفُرْنَ، قِيلَ: أَيَكْفُرْنَ بِاللَّهِ؟ قَالَ: يَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ، وَيَكْفُرْنَ الإِحْسَانَ، لَوْ أَحْسَنْتَ إِلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا، قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ

“Aku diberi kesempatan untuk menengok ke dalam neraka, dan ternyata kebanyakan penghuninya ialah para wanita, akibat ulah mereka yang selalu kufur/ingkar.” Spontan, para shahabat bertanya, “Apakah yang engkau maksud adalah mereka kufur/ingkar kepada Allah?” Beliau menjawab, “Mereka terbiasa ingkar terhadap perilaku baik, dan ingkar terhadap jasa baik. Andai engkau berbuat baik kepada mereka seumur hidupmu, lalu ia mendapatkan suatu hal padamu, niscaya mereka begitu mudah berkata, ‘Aku tidak pernah mendapatkan kebaikan sedikit pun darimu.’” (Muttafaqun ‘alaihi)

Anda mendambakan kebahagian dalam rumah tangga?

Temukanlah bahwa kebahagian hidup dan berumah tangga terletak pada genggaman tangan suami Anda. Pandai-pandailah membawa diri, sehingga suami Anda rela membentangkan kedua telapak tangannya, dan memberikan kebahagian berumah tangga kepada Anda.

Percayalah Saudariku, suami Anda adalah pasangan terbaik untuk Anda.

إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا اُدْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ

“Bila seorang istri telah mendirikan shalat lima waktu, berpuasa bulan Ramadan, menjaga kesucian dirinya, dan taat kepada suaminya, niscaya kelak akan dikatakan kepadanya, ‘Silakan engkau masuk ke surga dari pintu mana pun yang engkau suka.’” (Hr. Ahmad dan lainnya)

Tidakkah Anda mendambakan termasuk orang-orang mukminah yang mendapatkan kebebasan masuk surga dari pintu yang mana pun?

Kunci Keberhasilan Rumah Tangga

Saudaraku, mungkin selama ini Anda bersama pasangan hidup Anda, terus berusaha mencari pola rumah tangga yang dapat mendatangkan kebahagiaan untuk Anda berdua.

Anda berhasil menemukannya?

Bila Anda berhasil, maka saya ucapkan selamat berbahagia. Adapun bila belum, maka segera temukan kunci keberhasilan rumah tangga Anda pada firman Allah berikut,

وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ

“Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. Akan tetapi, para suami mempunyai kelebihan satu tingkat daripada istrinya.” (Qs. al-Baqarah: 228)

Hak pasangan Anda setimpal dengan kewajiban yang ia tunaikan kepada Anda. Semakin banyak Anda menuntut hak Anda, maka semakin banyak pula kewajiban yang harus Anda tunaikan untuknya.
Shahabat Abdullah bin ‘Abbas memberikan contoh nyata dari aplikasi ayat ini dalam rumah tangganya. Pada suatu hari, beliau berkata, “Sesungguhnya, aku senang untuk berdandan demi istriku, sebagaimana aku pun senang bila istriku berdandan demiku, karena Allah Ta’ala telah berfirman,

وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ

‘Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf.’
Aku pun tidak ingin menuntut seluruh hakku atas istriku, karena Allah juga telah berfirman,

وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ

‘Akan tetapi, para suami mempunyai kelebihan satu tingkat daripada istrinya.’” (Hr. Ibnu Abi Syaibah dan ath-Thabari)

Bagaimana dengan dirimu, wahai saudara dan saudariku? Kapankah Anda berdandan? Ketika sedang berada di rumah atau ketika hendak keluar rumah? Selama ini, sejatinya, untuk siapa Anda berdandan? Benarkah Anda berdandan untuk pasangan Anda, ataukah Anda berdandan dan tampil menawan untuk orang lain?
Saudaraku, bahu-membahu, saling melengkapi kekurangan, dan saling pengertian adalah salah satu prinsip dasar dalam membangun rumah tangga. Tidak layak bagi Anda untuk berperan sebagai penonton setia ketika pasangan Anda sedang mengerjakan pekerjaannya. Usahakan sebisa Anda untuk turut menyelesaikan pekerjaannya. Demikianlah, dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mencontohkan dalam rumah tangga beliau.

Aisyah radhiyallahu ‘anha mengisahkan,

كَانَ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ، فَإِذَا سَمِعَ الأَذَانَ خَرَجَ

“Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan sebagian pekerjaan istrinya, dan bila beliau mendengar suara azan dikumandangkan, maka beliau bergegas menuju ke mesjid.” (Hr. Bukhari)

Constance Gager, ketua studi sekaligus asisten profesor di Montclair State University, Montclair, New Jersey, mengadakan penelitian tentang hubungan perilaku suami-istri dengan keromantisan dalam bercinta. Ia mengelompokkan para suami yang menjadi objek penelitiannya ke dalam dua kelompok.

Kelompok pertama adalah suami-suami yang tidak peduli dan jarang membantu pekerjaan istri. Kelompok kedua adalah suami-suami yang sering turut serta dalam mengerjakan pekerjaan rumah tangga istri.
Hasilnya luar biasa! Suami di kelompok kedua, yaitu yang sering membantu pekerjaan istrinya, terbukti lebih romantis dan lebih sering memadu cinta dengan pasangannya. Hubungan yang harmonis dan indah, begitu kental dalam rumah tangga mereka.

Sejatinya, penemuan ini bukanlah hal baru, karena secara logika, suami yang dengan rendah hati membantu pekerjaan istrinya pastilah lebih dicintai oleh istrinya. Tentunya, ini memiliki hubungan erat dengan keromantisan suami-istri dalam bercinta.

Sebaliknya, istri yang peduli dengan pekerjaan suami, pun akan mengalami hal yang sama.

Nah, bagaimana dengan diri Anda, wahai Saudaraku?

Selamat membuktikan resep manjur ini! Semoga berbahagia, dan hubungan Anda berdua semakin romantis dan harmonis.

Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat bagi Anda. Mohon maaf bila ada kata-kata yang kurang berkenan.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Penulis: Ustadz Arifin Badri, Lc., M.A.
===
catatan kaki:
[1] Para ulama pensyarah hadits menjelaskan bahwa bubur daging adalah makanan paling istimewa di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, terlebih-lebih bubur daging mudah pembuatannya dan selanjutnya mudah pula menelannya.

Sumber:

KISAH SUAMI KECANDUAN "DUNIA MAYA"

Suami Tak Bernurani

Oleh : Akhi Ibnu Abdul Bari el-‘Afifi

Berdasarkan curhat seorang istri kepada Ustadz Imtihan asy Syafi’I

Pada tanggal 04 September 2010 pukul 6.52 melalui web seluler,status beliau berisi,

“Di pagi buta, seorang perempuang mengadukan suaminya yang berzina dengan seseorang yang dikenalnya lewat facebook… jaga aku, ya Allah…”begitu juga dengan kami ya Allah….,

Kutulis catatan ini bukan untuk mengata-ngatai atau membuka aib saudara sendiri. Bukan. Sama sekali bukan. Karena aku sadar, dan yakin dengan nasehat salaf yang pernah disebutkan oleh Imam Ahmad dalam bukunya, az Zuhd, “Seolah menjadi ijma’ salaf bahwa orang yang memaki-caci saudaranya yang diuji maksiat oleh Allah Ta’ala, ia akan diuji dengan maksiat yang serupa sebelum ajal menjemputnya.” Dan aku menghawatirkan itu terjadi padaku.Nas’alullahal ‘afiyah. Sekali lagi, ini bukan untuk membuka aib saudara sendiri tetapi ini justru sebagai bentuk ishlah, usaha melakukan perbaikan, dan wujud saling nasehat-menasehati.

Jujur, ada selaksa rasa berkecamuk dalam jiwa ketika menuliskan kisah ini. Malu. Sedih. Sesal. Terpukul. Semua rasa bersatu-padu. Hingga terbesit dalam hati, “Betapa teganya, lantas dimanakah nuraninya? Betapa kejamnya ia membuat derai airmata istrinya tertumpah-ruah, demi mengikuti hawa nafsunya….., untuk mencicipi seorang perempuan yang tidak halal baginya. Padahal, ia sadar dan faham bahwa zina adalah haram hukumnya. Ia telah mengkhianati istri yang dengan setia menemani dan membersamainya, dalam suka dan duka. Lebih menyedihkan lagi, ia adalah saudara seislam. Yang faham. Yang sering ikut kajian, dan mengikuti halaqah-halaqah untuk menimba ilmu keislaman.

Hati mukmin mana yang tidak sedih….,

hati mukmin mana yang tidak tersakiti…,

hati mukmin mana yang tidak tersiksa…,

hati mukmin mana yang tidak terkoyak….,

hati mukmin mana yang tidak tercabik…..,

hati mukmin mana yang tidak menjerit…,

hati mukmin mana yang tidak menangis….,

ketika mendengar saudara seiman yang dahulu akrab dan aktif dalam kajian keislaman, melakukan perbuatan nista; berzina dengan teman facebooknya…., Allah, Allah….allahumma habbil ilainal iman wa zayyinhu fi qulubina wa karrih ilainal kufra wal fusuqa wal ishyan… Amin, amin ya Allah…,jadikanlah iman sebagai sesuatu yang paling kami cinta, dan hiaskanlah pada hati-hati kami, dan jadikanlah kekufuran, kefasikan dan kemaksiatan sebagai sesuatu yang kami benci hingga kami bersua dengan-Mu, nanti…

Dari sini semua bermula…,

Sebagaimana ikhwah pada umumnya, keinginan awal berkecimpung dalam dunia maya, terkhusus lagi facebook yang menjadi sebuah fenomena yang menghipnotis semua usia, adalah untuk mereguk ilmu dan hikmah dengan seefektif dan seefisien mungkin. Mendapat banyak manfaat tanpa perlu berpindah-pindah tempat mendatangi pengajian. Cukup duduk di depan internet. Semua catatan yang berisi nasehat dan siraman ruhani bisa dengan mudah didapatkan, dan dibaca sesukanya. Itu niatan awalnya….,

Namun, sebagaimana yang kita tahu bersama, facebook kurang terasa sempurna tanpa memiliki banyak teman. Sehingga ia add teman-teman yang ia kenal, dan tidak ia kenal. Awalnya mungkin hanya lelaki saja. Namun setelah berlalu beberapa bulan, ia jenuh. Kurang lengkap rasanya bila facebooknya tidak ada teman perempuan. Ia add teman perempuan, sebanyak-banyaknya…., dan di kemudian hari, ia tertarik dengan salah satu dari mereka.

Ia saling berkirim jawab-tanya dengan status-statusnya…, dan berkirim pesan rahasia via inbox. Akhirnya, ia pun jatuh cinta. Cinta yang membutakan hatinya, dan membuatnya jauh dari Allah Ta’ala.

Syetan berhasil, dan tertawa karena mampu menjerumuskan anak adam ke lembah dosa, tidak hanya di dunia nyata tetapi juga dunia maya. Lahan garapan syetan semakin luas sementara anak adam tidak menyadarinya kecuali orang-orang yang dijaga oleh Allah Ta’ala. Semoga kita termasuk bagian dari mereka. Amin.

Tidak puas, ia saling chat…, saling tanya alamat rumah, pendidikan, pekerjaan dan lain sebagainya. Hingga berlanjut dengan curhat. Hatinya melayang mengangkasa, dan pikiran nakal mulai memenuhi otaknya. Ia dan teman perempuannya pun mengadakan kesepakatan bersama…..,

Hingga pada suatu ketika…

Mereka bersepakat untuk bertemu-tatap muka. Ikhwah ini mendatangi rumah teman facebooknya yang perempuan, yang ternyata berjarak ratusan kilo dari rumahnya. Gila. Tetapi begitulah, ikhwah ini merasakan jarak yang sedemikian jauh terasa dekat karena ingin berasikmasyuk dengan teman perempuan yang membuatnya seringkali tidak bisa tidur. Yang seringkali, bayangan fotonya menggangu istirahatnya. Benar kata Nabi, “Hubbuka lisy syai’ yu’mi wa yushimmu, cintamu kepada sesuatu bisa membutakan dan membuatmu tuli.”

Ketika bertemu, mata mereka saling beradu pandang. Masing-masing mendekat seolah ada magnet yang menggerakkan mereka berdua, dan syetan lagi-lagi tertawa. Beradu pandang, lalu berjabat tangan mesra, dilanjutkan dengan menumpahkan kerinduan terlarang .....dia telah berzina dengan sebenar-benarnya zina…., melakukan perbuatan nista. Akumulusi dosa yang bertumpuk hingga zina ini merupakan rangkaian dari akibat buruk dosa itu sendiri. Ibnu Qayyim al Jauziyyah menjelaskan, “Inna min uqubatis sayyi’ah as Sayyi’atu ba’daha…,sesungguhnya akibat dari berbuat kemaksiatan adalah melakukan kemaksiatan setelahnya.” Artinya, kemaksiatan memiliki magnet bagi kemaksiatan yang lainnya. Dan, zina kemaluan ini tidak mungkin terjadi kecuali ia merupakan maksiat ke-sekian yang didahului maksiat beraneka rupa.

Padahal ia seharusnya sadar…..,

Pada saat ia melakukan semuanya; saat ia mencumbui perempuan yang tidak halal baginya, saat ia menikmati semua lekak-lekuk tubuh perempuan yang dizinainya…..,

Di sana ada malaikat hafazhah, yang akan mencatatkan semua perbuatannya…

Di sana ada bumi yang akan merekam semua jejak amalnya …

Di sana juga ada anggota badan yang membersamainya, yang kelak akan menggugat dirinya sendiri; tangan akan bicara dan kaki akan menjadi saksi atas semua yang pernah terjadi; atas lezatnya maksiat yang pernah ia cicipi, besar-kecilnya, samar-jelasnya, tersembunyi-nyatanya….

Lebih dari itu, Allah Maha Melihat dan Maha Mengetahui segalanya. Dzat yang telah memberikan berbagai karunia dan nikmat tak terhingga itu ia khianati, dan ia maksiati…, sedang Allah masih bersabar karena masih memberikan kesempatan bertaubat kepadanya. Padahal Allah Maha Kuasa memberikan balasan setimpal seketika itu juga….., Demi Allah, Dia Maha Kuasa memberikan balasan setimpal seketika itu juga….,

Ia pun mengaku…

Seminggu pergi meninggalkan istri di rumah sendirian ternyata disalahgunakan oleh ikhwah ini. Ia khianati keshalihan istrinya yang selalu menanti datangnya penuh harap, yang merindui pelukan hangatnya, yang selalu memohon kebaikan baginya di setiap bait-bait doanya, dan melaksanakan kewajibannya sebagai seorang istri semampu yang ia bisa.

Beberapa hari berada di rumah, ikhwah ini dihantui rasa bersalahnya. Dihantui dosa yang zina yang dilakukannya. Sehingga ia berinisiatif untuk berterus terang kepada istrinya. Ia mendatangi istrinya, sedang kepalanya tidak berani tertegak, karena ia merasa harga dirinya jatuh di mata Allah, dan juga di mata manusia.

Di hadapan istrinya itu, ia mengaku dengan muka malu dan rasa hati yang tidak karuan, “Mi, bagaimana kalau abi meninggalkan umi dalam jangka waktu yang lama?.” dan perpisahan yang dimaksud ikhwah ini adalah ia siap hidup berpisah bila istrinya mengajukan khulu’ kepadanya. Ia siap dengan konsekwensi pengakuannya, agar dosa zina yang selalu menghantuinya diketahui istrinya dan tidak ada yang ia tutup-tutupi .

Istrinya menimpali dengan jawaban yang menunjukkan kepribadiannya yang shalihah, dan dengan tersenyum manis, ia menjawab, “Kalau untuk berjihad, tidak apa-apa bi…umi ikhlash.”

Jawaban, yang dalam kondisi normal, membuat suami manapun tersenyum bangga, namun bagi ikhwah ini, jawaban ini malah menjadi pukulan mematikan baginya. Ia serasa dihujam tombak, atau dihujani peluru yang memberondong tubuhnya. Ia lemas. Terkulai. Serasa tak mampu ia menyangga tubuhnya. Dalam hati, ia berkata kepada diri sendiri,“Mi, abi sudah tidak pantas beristrikan kamu lagi mi…., tidak pantas jiwa yang kotor ini membersamai dirimu yang shalihah. Diri ini tidak pantas mi…. tidak pantas.”

Dengan memeramkan mata, dan menahan nafas berat ia ucapkan kata pengakuan semampunya, sekalipun dengan suara lemah, “Mi, abi telah BERZINA dengan teman facebook mi…. maafkan abi, mi…..maafkan abi…., abi khilaf.., abi salah mi….”

Bumi serasa terbalik. Istrinya lebih terpukul. Lebih dahsyat dan lebih hebat. Ia serasa dijatuhi bebatuan besar seberat ratusan kilo. Wajahnya pucat dan matanya berkunang. Dan akhirnya, ia ambruk tak sadarkan diri. Ia tidak sanggup mendengar pengakuan yang barusan terlontar dari mulut suaminya. Suami, yang beberapa tahun lalu meminangnya, sekarang berbalik mengkhianati ikatan suci pernikahannya. Suami, yang memberikan sejuta kenangan indah sekarang memberikan pil pahit yang merusak semuanya. Ah, malangnya….

Istrinya pun menangis…

Hanya menangis. Dia tidak tahu harus berkata dan berbuat apa. Dia tidak tahu harus bagaimana. Beberapa malam kemudian, bersama suami yang duduk di sampingnya, diteleponnya seorang ustadz yang dianggapnya dapat memberikan pencerahan dan solusi atas peristiwa terberat yang pernah ia lalui dalam rumah tangganya. Peristiwa yang mungkin tidak akan pernah dilupakannya, bahkan mungkin sampai ajal menjemputnya kelak.
Dengan suasana hati yang masih berkelindan duka dan tangis yang tertahan, ia tunggu respon panggilannya. Telepon tak diangkat. Redial dilakukannya. Namun telepon tak juga diangkat. Selang beberapa waktu, nada penanda pesan berbunyi.

Pesan tertampilkan, “Siapa ini?”
Segera di-dialnya dan ia pun beruluk salam, “Assalamu’alaikum.”
Dari seberang telepon, terdengar jawab salamnya, “Wa’alaikumussalamu wa rahmatullahi wa barakatuh.”
Ditelepon pada jam sahur, apalagi oleh seorang perempuan bukanlah sesuatu yang biasa. Ustadz itu menyelidiki identitas peneleponnya, “Maaf, saya tidak kenal dengan Anda. Siapa Anda?”
“Saya fulanah, Ustadz, istrinya Fulan.” Jawabnya memperkenalkan diri seperlunya saja. Nama yang barusan disebut tidaklah asing bagi sang ustadz. Dia kenal dengan laki-laki suami perempuan itu.

“Ada yang bisa saya bantu?”

“Begini, Ustadz,” dan perempuan itu pun menceritakan badai yang tengah mengamuk di rumahnya. Semua dibeberkannya dengan gamblang. Tak ada yang ditutupinya. Dia benar-benar ingin mendapatkan jawaban atas prahara yang menderanya.
Bagi sang ustadz, curhat itu terasa lama. Sangat lama bahkan. Karena mengkhawatirkan terjadinya fitnah, sang ustadz langsung mengingatkan, “Maaf, kita bukan mahram jadi tidak baik ngobrol di telepon sepertiini.”

Kemudian beliau melanjutkan tanya, “Di mana suamimu?”

“Suami saya duduk di samping saya, Ustadz,” jawabnya dengan suara terbata.

“Biarkan saya berbicara langsung dengan suamimu saja,”pinta sang ustadz.

“Dia tidak sanggup, Ustadz. Dia tidak sanggup dan tidak berani berbicara dengan Ustadz. Dia malu.”Tangis perempuan itu tak tertahankan lagi.
Perempuan itu memungkasi kisah pedihnya dengan pertanyaan, “Ustadz, apa yang harus kami lakukan?”

“Saya belum bisa menjawab,” jawab ustadz itu.

Selang beberapa hari kemudian, perempuan itu mendapatkan pesan elektronik dari ustadz yang beberapa hari lalu diteleponnya. “Status pernikahan kalian masih tetap, namun jika Anti mengajukan khulu’ (gugat cerai), syariat membolehkannya.”

Saudaraku….,
Ini fakta. Dan betul-betul terjadi. Seorang ikhwah berbuat nista dan melakukan perbuatan keji dengan teman facebooknya. Catatan ini berdasarkan kisah yang dipaparkan oleh ustadz yang dicurhati istri ikhwah di atas, dan penulisan ini pun berdasarkan izinnya. Semoga menjadi pelajaran bagi kita semuanya, betapa kita harus menjaga masing-masing diri kita. Ila aina nahnu, ila naarin au ila jannatin, kemana langkah ini kita ayunkan…., ke neraka ataukah ke surga? Semua tergantung pada pilihan kita. Semoga Allah senantiasa memberikan taufik agar kita mudah beramal shalih dan meninggalkan maksiat, hingga akhir hayat kita. Amin.

Himbauan kami, bila ada pesan moral yang tersampaikan dalam tulisan ini, sangat dipersilahkan bagi para pembaca untuk menyebarluaskannya. Agar manfaatnya bisa dinikmati oleh teman-teman yang
lainnya. Semoga usaha kita dalam nasehat-menasehati dicatat oleh Allah sebagai kebaikan di sisi-Nya.

copas abu ali diding assunah cirebon

https://www.facebook.com/lov3aisy4h/posts/10204219102659659?fref=nf

Baca juga:

KISAH ISTRI KECANDUAN "DUNIA MAYA" [http://salafiunsri.blogspot.com/2011/03/kisah-istri-kecanduan-chating.html]

RECENT POSTS

RECENT COMMENTS