Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan

MENGAPA PENDIDIKAN ITU PENTING ?

Oleh

Syaikh Shâlih bin Fauzan al-Fauzan

Islam, agama yang sempurna, sangat memperhatikan pertumbuhan generasi. Untuk itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan kita agar memilih istri shalihah, penuh kasih sayang dan banyak keturunannya. Dari istri-istri yang shalihah ini, diharapkan terlahir anak-anak yang shalih-shalihah, kokoh dalam beragama. Sehingga Islam menjadi kuat dan musuh merasa gentar. Demikianlah, ibu memiliki peran yang dominan dalam membangun pondasi dan mencetak generasi, karena dialah yang akan mendidik anak-anak dalam ketaatan dan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala .

Perhatian Islam lainnya yang terkait dan ikut berpengaruh dengan pendidikan anak, yaitu Rasulullah menganjurkan agar orang tua memberi nama yang baik terhadap anak-anaknya. Suatu nama akan turut memberi pengaruh pada anak. Sehingga banyak riwayat yang menjelaskan Rasululah merubah beberapa nama yang tidak sesuai dengan Islam.

Ketegasan Islam dalam mendidik ini, juga bisa dikaji dari sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , bahwa ketika anak menginjak usia tujuh tahun, hendaklah kedua orang tua mengajarkan dan memerintahkan anak-anaknya untuk melakukan shalat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ

Perintahkanlah anak-anakmu untuk shalat ketika berusia tujuh tahun, dan pukullah jika enggan melakukan shalat bila telah berusia sepuluh tahun, serta pisahkanlah tempat tidur di antara mereka. [HR Abu Dawud, dan dishahîhkan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albâni dalam Shahîh Sunan Abi Dawud, no. 466]

Perintah mengajarkan shalat, berarti juga mencakup hal-hal berkaitan dengan shalat. Misalnya, tata cara shalat, thaharah, dan kewajiban shalat berjama’ah di masjid, sehingga anak bisa lebih dekat dan akrab dengan kaum Muslimin.

Adapun pukulan pada anak, Islam memperbolehkan para orang tua untuk memukul, jika anak malas dan enggan melakukan sholat. Tetapi hendaklah diperhatikan, pukulah tersebut dalam batas-batas tarbiyah (pendidikan), dengan syarat bukan pukulan yang membahayakan, dan bukan pula pukulan mainan, sehingga tidak ada pengaruh apapun. Di antara tujuannya, supaya anak merasakan hukuman bila ia melakukan kemaksiatan meninggalkan shalat.

Namun kita lihat pada masa ini, pukulan, sebagai salah satu wasilah dalam tarbiyyah, banyak ditinggalkan para orang tua. Dalih yang disampaikan, karena rasa sayang kepada anak. Padahal rasa sayang yang sebenarnya harus diwujudkan dengan diberi pendidikan. Dan salah satunya dengan dipukul saat anak melakukan perbuatan maksiat.

Rasulullah juga memerintahkan para orang tua supaya memisahkan tempat tidur anak-anak yang telah memasuki usia sepuluh tahun. Maksud pemisahan ini, ialah untuk menghindari fitnah syahwat.

Oleh karena itu, jika orang tua orang tua bertanggung jawab terhadap anak-anaknya saat mereka tidur, lalu bagaimana saat mereka keluar dari rumah dan bergaul dengan masyarakat? Maka tentu orang tua memiliki tanggung jawab yang lebih besar lagi. Orang tua harus senantiasa mengawasi anak-anaknya, menjauhkannya dari teman dan pergaulan yang buruk lagi menyesatkan. Karena tarbiyah tidak hanya ketika berada rumah saja, namun juga ketika anak-anak berada di luar rumah. Sebagai orang tua harus mengetahui tempat dan dengan siapa anak-anaknya bergaul. Ingatlah, orang tua adalah pemimpin, ia akan diminta tanggung jawabnya.

Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan diminta pertanggungjawaban tentang yang kalian pimpin. [Muttafaqun ‘alaih].

Kebaikan anak menjadi penyebab kebaikan, khususnya bagi orang tua dan keluarganya, dan secara umum untuk kaum Muslimin. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Apabila seseorang telah meninggal dunia, maka terputuslah semua amalannya kecuali tiga perkara: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendoakan kedua orang tuanya [HR at-Tirmidzi].

Oleh karena itu, keberhasilan pendidikan seorang anak dengan kebaikan dan ketaatannya, memiliki manfaat dan pengaruh yang besar bagi para orang tua baik, ketika masih hidup maupun sesudah meninggal dunia. Ketika orang tua masih hidup, sang anak akan menjadi hiburan, kebahagiaan dan qurrata-a’y‎un (penyejuk hati). Dan ketika orang tua sudah meninggal dunia, maka anak-anak yang shalih senantiasa akan mendoakan, beristighfar dan bersadaqah untuk orang tua mereka.

Sebaliknya, betapa malang orang tua yang anaknya tidak shalih dan ia durhaka. Anak yang durhaka tidak bisa memberi manfaat kepada orang tuanya, baik ketika masih hidup maupun saat sudah meninggal. Orang tua tidak akan bisa memetik buahnya, kecuali hanya kerugian dan keburukan. Keadaan seperti ini bisa terjadi jika para orang tua yang tidak memperhatikan pendidikan atau tarbiyyah anak-anaknya.

Salah satu contoh dalam tarbiyah yang benar, yaitu hendaklah para orang tua bersikap adil terhadap semua anak-anaknya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan kita.

فَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْدِلُوا بَيْنَ أَوْلَادِكُمْ

Maka bertakwalah kalian semua kepada Allah dan berbuatlah adil kepada anak-anakmu. [HR Imam al-Bukhâri]

Pernah terjadi, ketika salah seorang sahabat memberi kepada sebagian anak-anaknya, kemudian ia menghadap kepada Rasulullah supaya beliau n bersedia menjadi saksi. Maka beliau n bertanya: “Apakah semua anakmu engkau memberi yang seperti itu?”

Dia menjawab,””Tidak,” kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Carilah saksi selain diriku, karena aku tidak mau menjadi saksi dalam keburukan. Bukankah akan bisa membahagiakanmu, apabila engkau memberikan sesuatu yang sama?”

Dia menjawab :”Ya,” maka kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :” Maka lakukanlah!”

Anehnya, ada sebagian orang tua, manakala dinasihati tentang tarbiyah anak, justru melakukan sanggahan. Orang tua ini mengatakan bahwa kebaikan ada di tangan Allah, atau hidayah terletak di tangan Allah. Memang benar hidayah berada di tangan Allah, sebagaiaman firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk. [al-Qashash/28:56].

Namun yang perlu diperhatikan, faktor yang menjadi penyebab adanya kebaikan dan hidayah, ialah karena peran orang tua. Apabila para orang tua telah berperan secara maksimal dan telah menunaikan kewajibannya dalam tarbiyah, maka hidayah berada di tangan Allah Subhanahu wa Ta’ala . Sedangkan jika orang tua lalai dan mengabaikan tarbiyah, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberikan balasan dengan kedurhakaan dan keburukan kepada anak. Ingatlah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menyebabkan anak menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi [HR Imam al-Bukhâri].

Disinilah kita harus memahami secara benar, betapa besar peran orang tua terhadap anak. Orang tua memiliki tanggung jawab membentuk keimanan dan karakter anak. Dari orang tua itulah akan terwujud sosok kepribadian seorang anak.

Akhirnya, marilah kita menjaga fitrah anak-anak kita. Yaitu fitrah di atas kebenaran dan kebaikan. Karena semua yang kita lakukan atas diri anak, akan diminta pertanggungjawabnya di hadapan Allah Azza wa Jalla .

Perhatian terhadap anak merupakan perkara yang teramat penting dan pertanggungjawaban yang besar di hadapan Allah. Oleh karena itu, para manusia terbaik, yaitu para nabi senantiasa mendoakan kebaikan untuk diri dan anak keturunan mereka.

Nabi Ibrahim Alaihissallam berdoa:

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ

Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih. [ash-Shafât/37:100]

رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

Ya Rabb kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau, dan (jadikanlah) di antara anak-cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau, dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. [al-Baqarah/2:128]

Nabi Zakariya Alaihissallam berdoa:

قَالَ رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً ۖ إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ

Di sanalah Zakariya mendoa kepada Rabbnya seraya berkata, “Ya Rabbku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa”. [‘Ali ‘Imran/3:38].

Begitu juga dengan para salaf pendahulu kita, mereka berdoa:

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. [al-Furqân/25:74].

Demikianlah para nabi, meskipun memiliki kedudukan dan dekat dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala , mereka tetap saja senantiasa berdoa penuh harap, memohon kepada Allah Azza wa Jalla agar dianugerahi keturunan yang shalih dan shalihah, maka bagaimana dengan kita? Tentunya, kita tergerak dan lebih bersemangat melakukannya.

Oleh karena itu, marilah kita berdoa dan selalu berusaha memberikan pendidikan dan tarbiyah kepada anak-anak kita dengan berlandaskan din (agama) yang shahîh dan lurus.

(Diringkas oleh Ustadz Abu Ziyad Agus Santoso, dari al-Khutabul-Minbariyyah, Syaikh Shâlih bin Fauzan al-Fauzan, halaman 148-155)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun XI/1428/2007M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]

Referensi : https://almanhaj.or.id/3508-mengapa-pendidikan-itu-penting.html

KAPAN ANAK MASUK PESANTREN ?

Belum Baligh, Sebaiknya Tidak Full Pondok Pesantren

Bagi para orang tua, mohon dipertimbangkan jika memasukkan anak yang belum usia baligh ke full pondok pesantren misalnya usia anak di sekolah dasar yang umumnya berumur 6-12 tahun. Sebaiknya anak yang masih kecil dan belum baligh TIDAK masuk full pondok pesantren. Artinya terpisah dari orang tuanya terutama ibunya, hanya bertemu ketika liburan akhir semester. Perpisahan ini cukup lama. Dari sisi psikologi anak, juga kurang bijak anak yang masih kecil dan belum baligh terpisah dari orang tuanya.

Anak yang belum baligh sangat butuh perhatian lebih dan kasih sayang. Tentu berbeda dengan kasih sayang dan perhatian yang diberikan oleh para pengajar ustadz dan ustadzah di pondok pesantren. Masa kecil adalah masa berbahagia di mana orang tua perlu sekali membina interaksi dan kenangan yang menyenangkan dengan sang anak agar dekat dengan mereka, sehingga mudah mendidik, membimbing dan memberi nasehat. Salah satu solusi, anak bisa dimasukkan ke sekolah atau pondok pesantren yang tidak program full di pondok pesantren. Misalnya pagi sampai siang masuk sekolah, selebihnya berada dalam pendidikan dan kasih sayang orang tua.

Akan tetapi jika memang ada mashlahat dan kebaikan yang lebih banyak dengan berdasarkan musyawarah dan pertimbangkan yang matang, pada keadaan tertentu bisa saja anak yang belum baligh dimasukan full pondok pesantren, tetapi perlu diingat hukum asalnya anak-anak yang belum baligh sebaiknya bersama kasih sayang orang tua. Demikian juga semisal anak laki-laki yang sudah akan masuk Usia SMP/SLTP mungkin akan menjelang usia baligh (tetapi belum baligh), bisa dipertimbangkan masuk full pondok pesantren.

Mohon diperhatikan beberapa hadits-hadits berikut yang memberikan faidah bahwa ibu (orang tua) tidak diperkenankan berpisah dengan anaknya terutama yang masih belum baligh. Hal ini menunjukkan pentingnya perhatian kasih sayang dan kedekatan orang tua terutama ibu pada anak yang masih belum baligh.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ فَرَّقَ بَيْنَ الْوَالِدَةِ وَوَلَدِهَا فَرَّقَ اللَّهُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَحِبَّتِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barangsiapa memisahkan antara ibu dan anaknya, maka Allah akan memisahkan dia dan orang yang dicintainya kelak di hari kiamat.” [1]

Batas usia tidak boleh dipisahkan adalah sampai usia baligh, sebagaimana dalam hadits berikut. Sahabat Ubadah bin Shamit radhiallahu ‘anhu berkata,

نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم أن يفرق بين الأم وولدها . فقيل : يا رسول الله إلى متى ؟ قال :  حتى يبلغ الغلام ، وتحيض الجارية

“Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam melarang memisahkan antara ibu dan anaknya. Ada yang bertanya pada beliau, ‘Wahai Rasulullah, sampai kapan?’ Beliau menjawab, ‘Sampai mencapai baligh bila laki-laki dan haidh bila perempuan.’”[2]

Besarnya Perhatian dan Kasih Sayang Ibu

Hak pengasuhan anak selama masih belum tamyiz (usia tujuh tahun umumnya) adalah utamanya di tangan istri selama istri tidak menikah lagi. Ingat juga, hak pengasuhan anak (Hadhanah) perlu diputuskan dengan banyak pertimbangan dari hakim/qadhi. Pembahasan ini juga terdapat faidah lain yaitu pentingnya perhatian, kasih sayang dan kedekatan orang tua terutama ibu pada anak yang masih belum baligh.

Ibnul Qayyim menjelaskan,

: ﻓﺈﻧﻪ ﺟﻌﻞ ـ ﻳﻌﻨﻲ ﺍﻟﺸﺎﺭﻉ ـ ﺍﻷﻡ ﺃﺣﻖ ﺑﺎﻟﻮﻟﺪ ﻣﻦ ﺍﻷﺏ، ﻣﻊ ﻗﺮﺏ ﺍﻟﺪﺍﺭ ﻭﺇﻣﻜﺎﻥ ﺍﻟﻠﻘﺎﺀ ﻛﻞ ﻭﻗﺖ ﻟﻮ ﻗﻀﻲ ﺑﻪ ﻟﻸﺏ، ﻭﻗﻀﻰ ﺃﻥ ﻻ ﺗﻮﻟﻪ ﻭﺍﻟﺪﺓ ﻋﻠﻰ ﻭﻟﺪﻫﺎ، ﻭﺃﺧﺒﺮ ﺃﻥ ﻣﻦ ﻓﺮﻕ ﺑﻴﻦ ﻭﺍﻟﺪﺓ ﻭﻭﻟﺪﻫﺎ ﻓﺮﻕ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻴﻨﻪ ﻭﺑﻴﻦ ﺃﺣﺒﺘﻪ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﻘﻴﺎﻣﺔ، ﻭﻣﻨﻊ ﺃﻥ ﺗﺒﺎﻉ ﺍﻷﻡ ﺩﻭﻥ ﻭﻟﺪﻫﺎ ﻭﺍﻟﻮﻟﺪ

“Pembuat syariat (Allah) menjadikan ibu lebih berhak mengasuh anak dari bapak karena dekatnya dan memungkinkan bertemu setiap waktu. Jika qadhi memutuskan hak asuh pada bapaknya, tidak boleh melarang ia bertemu dengan ibunya.”[3]

Ini juga sesuai dengan hadits mengenai ibu lebih berhak mengasuh anak yang masih dari sang bapak. Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, bahwasanya ada seorang wanita pernah mendatangi Rasulullah mengadukan masalahnya. Wanita itu berkata,

ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺇِﻥَّ ﺍﺑْﻨِﻲ ﻫَﺬَﺍ ﻛَﺎﻥَ ﺑَﻄْﻨِﻲ ﻟَﻪُ ﻭِﻋَﺎﺀً ﻭَﺛَﺪْﻳِﻲ ﻟَﻪُ ﺳِﻘَﺎﺀً ﻭَﺣِﺠْﺮِﻱ ﻟَﻪُ ﺣِﻮَﺍﺀً ﻭَﺇِﻥَّ ﺃَﺑَﺎﻩُ ﻃَﻠَّﻘَﻨِﻲ ﻭَﺃَﺭَﺍﺩَ ﺃَﻥْ ﻳَﻨْﺘَﺰِﻋَﻪُ ﻣِﻨِّﻲ

“Wahai Rasulullah. Anakku ini dahulu, akulah yang mengandungnya. Akulah yang menyusui dan memangkunya. Dan sesungguhnya ayahnya telah menceraikan aku dan ingin mengambilnya dariku.”

Mendengar pengaduan wanita itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab,

ﺃَﻧْﺖِ ﺃَﺣَﻖُّ ﺑِﻪِ ﻣَﺎ ﻟَﻢْ ﺗَﻨْﻜِﺤِﻲ

“Engkau lebih berhak mengasuhnya selama engkau belum menikah.” [4]

Terdapat hadits larangan memisahkan anak hewan yaitu burung dari induknya. Silahkan direnungkan, untuk hewan saja, ada larangan jangan sampai anak terpisah dari induknya, apalagi manusia. Ini juga renungkan bagi, ibu yang terlalu sibuk mengejar karir sehingga terpisah dan sangat jarang berjumpa dengan anak-anak yang wajib ia asuh.

Dari Abdullah bin Mas’ud beliau berkata,

ﻛﻨَّﺎ ﻣﻊ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﻲ ﺳﻔﺮ، ﻓﺎﻧﻄﻠﻖ ﻟﺤﺎﺟﺘﻪ ﻓﺮﺃﻳﻨﺎ ﺣُﻤﺮﺓ ﻣﻌﻬﺎ ﻓﺮﺧﺎﻥ، ﻓﺄﺧﺬﻧﺎ ﻓﺮﺧﻴﻬﺎ، ﻓﺠﺎﺀﺕ ﺍﻟﺤُﻤﺮﺓُ ﻓﺠﻌﻠﺖ ﺗﻔﺮِﺵ، ﻓﺠﺎﺀ ﺍﻟﻨَّﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﻘﺎﻝ : ‏ﻣﻦ ﻓﺠﻊ ﻫﺬﻩ ﺑﻮﻟﺪﻫﺎ؟ ﺭﺩُّﻭﺍ ﻭﻟﺪﻫﺎ ﺇﻟﻴﻬﺎ

“Suatu ketika kami bersama dengan Rasulullah dalam sebuah perjalanan. Ketika Nabi pergi untuk buang hajat kami melihat seekor burung bersama dua anaknya yang masih kecil. Kami ambil dua anak burung tersebut. Tak lama setelah itu si induk burung datang mencari anaknya. Ketika Nabi datang dan melihat hal tersebut beliau bersabda, ‘Siapa yang membuat induk burung ini mencemaskan anaknya? Kembalikan anaknya kepada induknya!’” [5]

Demikian semoga bermanfaat

@Yogyakarta Tercinta

Penulis: dr. Raehanul Bahraen

Catatan kaki:

[1] HR. Tirmidzi, hasan gharib
[2] HR. Al Hakim, Shahih
[3] Lihat Zaadul Ma’ad
[4] HR Ahmad & Abu Dawud, Hasan
[5] HR. Abu Daud, Shahih

Sumber: https://muslim.or.id/30959-belum-baligh-sebaiknya-tidak-full-pondok-pesantren.html

Fitrah Seksualitas

Hafidz Qur'an, Tapi HOMO Mungkinkah..?

____

Fakta baru bahwa Banyak anak didik di SDIT yang hafalannya Banyak tapi paling kasar dan jorok dalam bicara, Sulit diatur dan menjadi Trouble Maker di lingkungannya. Ada beberapa santri di Pondok Pesantren yang dikenal sebagai santri yang hafalannya banyak tapi ternyata mereka pesuka sesama jenis.

Dan ini yang paling Update dan menghebohkan yang saya temukan Kemaren Sore, ada seorang pengajar Lulusan sebuah Ma'had di Timur Tengah, yang katanya Hafalan Quran dan Mutun nya banyak tapi terbongkar menyukai Santri nya yang berjenis kelamin Sama.

Kalau Sudah Begini apanya yang salah..?

Apakah Hafalan Quran tidak Berpengaruh terhadap Fitrah Seksualitas?

Maaf, bukannya menggurui atau melecehkan al-Quran, tetapi disinilah letaknya kita harus memahami bahwa Letak Hafalan di Otak manusia tidak sama letaknya dengan Bagian Pengendalian diri dan fitrah seksual. Oleh karena itu Hafalan dengan pengendalian diri adalah 2 mata pisau yang berbeda. Hafalan perlu dihafal dan pengendalian diri perlu dilatih. Hafalan tergantung Kepada Frekwensi Murajaah sedangkan Suka terhadap sesama jenis adalah Penyakit yang bisa disembuhkan.

Berikut ini paparan yang perlu disimak dalam mendidik anak :

Suatu hari ada seorang orang tua yang curhat yang mana curhatan itu mungkin pernah kita rasakan juga dalam mendidik anak.

Beliau berkata :

"Mumpung anak masih kecil, jangan sampai salah seperti saya ya. Anak pertama usia 22 thn hafal 18 juz. Anak kedua dan ketiga semua hafidz dan hafidzah. Tuntas 30 juz.

Tapi ...

saya sedih karena untuk sholat saja mereka masih diingatkan dan disuruh. Saya menangis saat saya baru sadar bahwa ada yg terlewat kala itu.

Fitrah keimanan yang harusnya ditanam di 7 tahun pertama dalam hidup anak-anak kita ternyata lupa saya kawal lebih ketat dan belum tuntas. Dan sekarang kami harus "restart" dari awal untuk mengulang proses yg terlewat".

Didiklah anak sesuai fitrah

Fitrah apa? Ada beberapa fitrah yang harus diarahkan sejak belia, Diantaranya adalah :

1. Fitrah Iman

2. Fitrah Belajar

3. Fitrah Bakat dan

4. Fitrah Seksualitas.

Fitrah seksualitas? Apa Maksudnya?

Mendidik anak sesuai fitrah seksualitas artinya mengenalkan anak bagaimana bersikap, berpikir, dan merasa seperti gendernya.

Jika ia anak perempuan, maka kita bangkitkan fitrah seksulitasnya sbg perempuan.

Jika ia laki-laki maka kita bangunkan fitrah seksualitasnya sebagai laki-laki.

Pertanyaan berikutnya yg muncul, bagaimana teknis membangkitkan fitrah seksualitas ini ?

Ada beberapa tahap yg perlu kita kawal di tiap fasenya.

1. Usia 0 - 2 tahun

Pada usia ini anak harus dekat dengan bundanya.

Pendidikan tauhid pertama adalah menyusui anak sampai 2 tahun.

Menyusui, bukan memberi asi. Langsung disusui tanpa pumping dan tanpa disambi pegang hp.

2. Usia 3 - 6 tahun

Pada usia ini anak harus dekat dengan kedua orang tuanya.

Dekat dengan bundanya, juga dekat dengan ayahnya. Perbanyak aktivitas bersama.

3. Usia 7 - 10 Tahun

Pada usia ini dekatkan anak sesuai gendernya.

Jika anak laki-laki, maka dekatkan dengan ayahnya.

Ajak anak beraktifitas yang menonjolkan sisi ke-maskulin-annya. Nyuci motor, akrab dg alat-alat pertukangan, dsb.

Jika anak perempuan, maka dekatkan dengan bundanya.

Libatkan anak dalam aktifitas yg menonjolkan ke-feminin-annya. Stop katering dan banyak utak atik di dapur bersama anak, melibatkan saat bersih-bersih rumah, menjahit dsb.

4. Usia 11 - 14 tahun

Usia ini sudah masuk tahap pre aqil baligh akhir dan pada usia ini mulailah switch/menukar kedekatan.

Lintas gender.

Jika anak laki-laki maka dekatkan pada bundanya.

Jika anak perempuan, maka dekatkan pada ayahnya.

Ada sebuah riset yg menunjukkan jika seorang anak perempuan tidak dekat dengan ayahnya pada fase ini maka data menunjukkan anak tersebut 6x lebih rentan akan ditiduri oleh laki-laki lain.

Di sebuah artikel parenting dulu, saya juga menemukan hal senada.

Jika tdk dekat dengan ayahnya, maka anak perempuan akan mudah terpikat dengan laki-laki yang menawarkan perhatian dan cinta meski hanya untuk kepuasan dan mengambil keuntungan semata._

Logis juga sih. Saat ada laki-laki yang memuji kecantikannya, mungkin ananda gak gampang silau karena ada ayahnya yg lebih sering memujinya.

Kalau ada laki-laki yang memberikan hadiah, ananda tak akan gampang klepek-klepek karena ada ayahnya yg lebih dulu mencurahkan perhatian dan memberi hadiah.

Pada fase ini jika anak perempuan harus dekat dengan ayahnya, maka sebaliknya, anak laki-laki harus dekat dengan bundanya.

Efek yang sangat mungkin muncul jika tahap ini terlewat, maka anak laki-laki punya potensi lebih besar untuk jadi suami yg kasar, playboy, dan tidak memahami perempuan.

Ada yang tanya, lho kalau ortunya bercerai atau LDR bagaimana?

Hadirkan sosok lain sesuai gender yg dibutuhkan.

Misal saat ia tak punya ayah, maka cari laki-laki lain yg bisa menjadi sosok ayah pengganti. Bisa kakek, atau paman.

Sama dengan Rasulullah. Meskipun tak punya ayah dan ibu, tapi Rasulullah tak pernah kehilangan sosok ayah dan ibu. Ada kakek dan pamannya. Ada nenek, bibi dan ibu susunya.

Fase berikutnya setelah 14 thn bagaimana?

Sudah tuntas. Karena jumhur ulama sepakat usia 15 thn adalah usia aqil baligh.

Artinya anak kita sudah "bukan" anak kita lagi.

Ia telah menjelma menjadi orang lain yg sepadan dengan kita. Maka fokus dan bersabarlah mendampingi anak-amak, karna kita hanya punya waktu 14 tahun saja.

Saling mengingatkan, saling menguatkan, saling mendoakan ya teman-teman.

Moga Allah mampukan dan bisa mempertanggung jawabkan amanah ini kelak di hari penghitungan..

Selamat berkumpul dan merajut cinta bersama keluarga. Apapun keadaannya, jangan lupa bersyukur dan bahagia ya..

______

Disadur dari FBE

Sekolah Inklusi al muttaqin

https://www.facebook.com/796910273974121/posts/947440995587714/

FREE EBOOK : PANDUAN MENDIDIK ANAK SESUAI AL-QUR’AN DAN SUNNAH

🔺 Siapa gerangan dari kita -para orang tua- yang tidak ingin memperoleh anak shalih yang bisa menjadi qurrotu a’yun (penyejuk mata) bagi kita??

🔺 Siapa gerangan dari kita -para orang tua- yang tidak ingin memperoleh anak shalih yang bisa menjadi qurrotu a’yun (penyejuk mata) bagi kita??

🔺 Namun, untuk mencetak anak-anak yang bisa menjadi penyejuk mata, tidak bisa diperoleh hanya dengan berdiam diri, bersantai-santai dan bersikap acuh tak acuh dengan pendidikan anak.

Pendidikan yang paling utama bagi anak adalah pendidikan agamanya, yang akan membawa kebaikan DUNIA dan AKHIRAT. Bukan sekedar pendidikan formal hanya untuk mendapatkan gelar dan ijazah yang takkan dibawa mati.

🔺 Untuk merealisasikan hal ini, maka sebagai orang tua, kita juga harus menjadi orang yang shalih pula, yang bisa menunjukkan qudwah (keteladanan) bagi anak-anak. Dan ini semua bisa diraih dengan ber-ILMU terlebih dahulu, kemudian baru mempraktikkan (AMAL) ilmu tersebut.

🎁 Sebagai bentuk andil kami di dalam menyebarkan ilmu yang bermanfaat, terutama ilmu tentang dunia parenting berbasis Islam, maka sengaja kami menerjemahkan dan mempublikasikan e-Book di bawah ini :

▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬

JUDUL :   PANDUAN MENDIDIK ANAK

Sesuai Al-Qur’an dan Sunnah

PENULIS :  Syaikh ‘Abdussalam as-  Sulayman

TAQDIM :  Syaikh Shalih Fauzan al-Fauzan

JUDUL ASLI : Tarbiyatul Aulaad fii Dhou’il  Kitaabi was Sunnati

INFORMASI EBOOK :

FORMAT : PDF

PAGES  : 223 pg

SIZE   : 7 MB

DOWNLOAD


Sumber: http://abusalma.net/2017/10/31/free-ebook-panduan-mendidik-anak-sesuai-al-quran-dan-sunnah/

KESHOLIHAN ORANG TUA KUNCI KESUKSESAN PENDIDIKAN ANAK [ BAG. 3/ 10 ]

KESHOLIHAN ORANG TUA KUNCI KESUKSESAN PENDIDIKAN ANAK

(Bagian 3/10)

••• ════ ༻💐༺ ════ •••

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang Nashrani,

( وَمِنَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّا نَصَارَىٰ أَخَذْنَا مِيثَاقَهُمْ فَنَسُوا حَظًّا مِمَّا ذُكِّرُوا بِهِ فَأَغْرَيْنَا بَيْنَهُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ )

“Dan diantara orang-orang yang mengatakan, ‘Kami ini orang Nasrani,’ Kami telah mengambil perjanjian mereka, tetapi mereka (sengaja) melupakan sebagian pesan yang telah diperingatkan kepada mereka, maka Kami timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka hingga hari Kiamat”
( QS. Al-Ma’idah: 14 )

Bahkan dosa yang kita perbuat langsung mendapat hukuman dari Allah dengan perubahan sikap istri dan anak-anak kita.

Sebagian ulama berkata,

إن عصیت الله رأیت ذلك في خلق زوجتي وأهلي ودابتي

“Sungguh, ketika bermaksiat kepada Allah, aku mengetahui dampak buruknya ada pada perilaku istriku, keluargaku dan hewan tungganganku.”

Keshalihan orang tua merupakan sebab utama keshalihan anak-anaknya

Kesholehan orang tua sangat bermanfaat kepada anak-anaknya. Dan pengaruh keshalihan orang tua terhadap keshalihan anak-anaknya ada 2 macam:

1. Keshalihan orang tua berpengaruh bagi anak di dunia dengan Allah menjaga anak-anak yang di dunia ketika orang tua masih hidup atau ketika orang tua sudah meninggal dunia. Tidak ada satupun diantara kita yang bisa menjaga anak-anak sampai 24 jam. Bahkan ketika anak keluar rumah karena sekolah atau bermain, maka orang tua sudah tidak bisa menjaga dan mengawasinya.

Maka serahkanlah penjagaan anak-anak kita kepada Dzat yang tidak pernah tidur dan tidak pernah lengah, karena Allah lah tempat berserah diri terbaik untuk diri kita dan keluarga kita.

Dengan ketika kita berjuang untuk menjaga Allah pasti Allah juga akan menjaga kita. Dan ketika kita berusaha untuk bertaqwa kepada Allah maka Allah pun akan dekat kepada kita dan hasilnya Allah akan mencintai kita.

Dan Allah jika sudah mencintai dan menjaga kita, maka Allah juga akan menjaga orang-orang yang kita cintai. Oleh sebab itu orang-orang mukmin, keluarga mereka akan dijaga oleh Allah.

– Bersambung in syaa Allah –

••• ════ ༻💐༺ ════ •••

ℳـ₰✍
✿❁࿐❁✿
@abinyasalma

https://alwasathiyah.com/2019/11/22/kesholihan-orang-tua-kunci-kesuksesan-pendidikan-anak-bag-3-10/

KESHOLIHAN ORANG TUA KUNCI KESUKSESAN PENDIDIKAN ANAK [ BAG. 2/10 ]

KESHOLIHAN ORANG TUA KUNCI KESUKSESAN PENDIDIKAN ANAK

(Bagian 2/10)

••• ════ ༻💐༺ ════ •••

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam ketika diutus maka kaumnya berkata,

« أَمْ آتَيْنَاهُمْ كِتَابًا مِنْ قَبْلِهِ فَهُمْ بِهِ مُسْتَمْسِكُونَ »

Bahkan mereka berkata, “Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu agama, dan kami mendapat petunjuk untuk mengikuti jejak mereka.”
( QS. az Zukhruf: 21 )

Dan semua Nabi yang diutus oleh Allah pasti kaumnya mengingkarinya dengan Hujjah berbeda dengan ajaran nenek moyang.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

( وَكَذَٰلِكَ مَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَذِيرٍ إِلَّا قَالَ مُتْرَفُوهَا إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَىٰ أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَىٰ آثَارِهِمْ مُقْتَدُونَ )

“Dan demikian juga ketika Kami mengutus seorang pemberi peringatan sebelum engkau (Muhammad) dalam suatu negeri, orang-orang yang hidup mewah (di negeri itu) selalu berkata, “Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu (agama) dan sesungguhnya kami sekedar pengikut jejak-jejak mereka.”
( QS. az Zukhruf: 23 )

Pendidikan terbaik adalah suritauladan karena akan membekas dari generasi ke generasi.

Apa yang dikerjakan oleh orang tua akan menjadi suritauladan bagi anak dan keturunannya bahkan bisa menjadi budaya yang mendarah daging sampai generasi ratusan tahun yang akan datang.

Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam bersabda,

« مَنْ سَنَّ فِي الْإسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ. وَمَنْ سَنَّ فِيْ الإسلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْفُصَ مِنْ أوْزَارِهِمْ شـيْءٌ »

“Barangsiapa yang membuat contoh yang baik dalam Islam, maka ia mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya setelahnya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Barangsiapa yang mencontohkan contoh jelek dalam Islam, maka ia mendapat dosanya dan dosa orang yang mengamalkannya setelahnya, tanpa mengurangi dosa-dosa mereka”
( HR. Muslim )

Dosa dan maksiat yang dikerjakan oleh orang tua sangat berpengaruh terhadap kerusakan pendidikan anak-anak. Oleh sebab itu hendaknya orang tua berusaha sekuat mungkin untuk menjauhkan dari dosa dan maksiat. Dosa akan membuat sebuah keluarga berantakan dan bercerai berai.

Setiap manusia pasti berharap rumah sebagai tempat tinggal bagaikan surga yang diliputi dengan Sakinah, Mawaddah, dan Rahmat. Rumah tempat berlabuh ketika kita lelah, letih, sedih, marah, dan stres terhadap permasalah di luar rumah, dan ketika kita pulang ke rumah maka semua masalah akan hilang. Akan tetapi perlu kita ingat bahwa sebuah keluarga bisa berantakan dan bercerai berai bagaikan neraka, suami istri sering bertengkar, anak durhaka kepada orang tua dan orang tua murka kepada anak-anaknya. Keluarga yang telah dicabut sakinah, mawadah, dan rahmat. Hal ini terjadi ketika dosa dan maksiat masuk dalam keluarga tersebut.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menghukum orang Yahudi dan Nashrani dengan permusuhan dan percerai beraian ketika mereka meninggal agama mereka dengan berbuat dosa dan maksiat.

Allah Subhanallahu wa Ta’ala menyebutkan tentang Yahudi,

( وَلَيَزِيدَنَّ كَثِيرًا مِنْهُمْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ طُغْيَانًا وَكُفْرًا ۚ وَأَلْقَيْنَا بَيْنَهُمُ الْعَدَاوَةَوَالْبَغْضَاءَ إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ ۚ )

“Dan (Al-Qur’an) yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu pasti akan menambah kedurhakaan dan kekafiran bagi kebanyakan mereka. Dan Kami timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai hari Kiamat.”
( QS. Al-Maidah: 64 )

Bersambung In syaa Allah …

••• ════ ༻💐༺ ════ •••

ℳـ₰✍
✿❁࿐❁✿
@abinyasalma
__________________

https://alwasathiyah.com/2019/11/22/kesholihan-orang-tua-kunci-kesuksesan-anak-bag-2-10/

KESHOLIHAN ORANG TUA KUNCI KESUKSESAN PENDIDIKAN ANAK [ BAG. 1/10 ]

KESHOLIHAN ORANG TUA KUNCI KESUKSESAN PENDIDIKAN ANAK

(Bagian 1/10)

••• ════ ༻💐༺ ════ •••

Anak adalah cerminan bagi orang tua sehingga anak akan meng-copy paste apa yang dilakukan oleh orang tuanya.

Anak adalah buah hati orang tuanya, sehingga anak akan mewarisi apa yang diperbuat sama orang tuanya karena buah tidak akan jauh dari pohonnya.
Betapa banyak generasi yang rusak dengan kesyirikan, maksiat, Bid’ah, dan Khurofat beralasan karena mengikuti warisan orang tua dan melestarikan budaya nenek moyang mereka.

Allah Subhanahu wa Ta’ala sendiri sudah mengkisahkan banyak cerita dalam al Qur’an ketika para Nabi dan Rasul diutus untuk mendakwahi manusia menuju cahaya Tauhid, Ibadah, Ilmu, Sunnah, dan Akhlak Mulia. Akan tetapi manusia membantah dan mengkufuri dakwah mereka dengan dalil ingin melestarikan warisan dan peninggalan orang tua – orang tua mereka.

Nabi Nuh ketika diutus oleh Allah, kaumnya berkata,

( فَقَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَوْمِهِ مَا هَٰذَا إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُرِيدُ أَنْ يَتَفَضَّلَ عَلَيْكُمْ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَأَنْزَلَ مَلَائِكَةً مَا سَمِعْنَا بِهَٰذَا فِي آبَائِنَا الْأَوَّلِينَ )

“Maka berkatalah para pemuka orang kafir dari kaumnya, ‘Orang ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, yang ingin menjadi orang yang lebih mulia daripada kamu. Dan seandainya Allah menghendaki, tentu Dia mengutus malaikat. Belum pernah kami mendengar (seruan yang seperti) ini pada (masa) nenek moyang kami dahulu”.
( QS. Al-Mu’minun: 24 )

Nabi Ibrahim ketika Allah mengutusnya, kaumnya mengatakan,

( وَلَقَدْ آتَيْنَا إِبْرَاهِيمَ رُشْدَهُ مِنْ قَبْلُ وَكُنَّا بِهِ عَالِمِينَ ۞ إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ مَا هَٰذِهِ التَّمَاثِيلُ الَّتِي أَنْتُمْ لَهَا عَاكِفُونَ )

“Dan sungguh, sebelum dia (Musa dan Harun) telah Kami berikan kepada Ibrahim petunjuk, dan Kami telah mengetahui dia. (Ingatlah), ketika dia (Ibrahim) berkata kepada ayahnya dan kaumnya, “Patung-patung apakah ini yang kamu tekun menyembahnya?”

Mereka menjawab,

( قَالُوا وَجَدْنَا آبَاءَنَا لَهَا عَابِدِينَ )

“Kami mendapati nenek moyang kami menyembahnya.”
( QS. Al-Anbiya: 51 – 53 )

Nabi Musa ketika diutus oleh Allah, kaumnya mengatakan,

( قَالَ مُوسَىٰ أَتَقُولُونَ لِلْحَقِّ لَمَّا جَاءَكُمْ ۖ أَسِحْرٌ هَٰذَا وَلَا يُفْلِحُ السَّاحِرُونَ * قَالُوا أَجِئْتَنَا لِتَلْفِتَنَا عَمَّا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا وَتَكُونَ لَكُمَا الْكِبْرِيَاءُ فِي الْأَرْضِ وَمَا نَحْنُ لَكُمَا بِمُؤْمِنِينَ )

Musa berkata, “Pantaskah kamu mengatakan terhadap kebenaran ketika ia datang kepadamu, ‘sihirkah ini?’ Padahal para pesihir itu tidaklah mendapat kemenangan.” Mereka berkata, “Apakah engkau datang kepada kami untuk memalingkan kami dari apa (kepercayaan) yang kami dapati nenek moyang kami mengerjakannya (menyembah berhala), dan agar kamu berdua mempunyai kekuasaan di bumi (negeri Mesir)? Kami tidak akan mempercayai kamu berdua.”
( QS. Yunus: 77 – 78 )

– Bersambung in syaa Allah –

••• ════ ༻💐༺ ════ •••

ℳـ₰✍
✿❁࿐❁✿
@abinyasalma

ℳـ₰✍
✿❁࿐❁✿
@alwasathiyah
__________________

https://alwasathiyah.com/2019/11/17/kesholihan-orang-tua-kunci-kesuksesan-pendidikan-anak-bag-1-10/

Suami Melihat Isi Hp Istri, Istri Melihat Isi Hp Suami ?

Suami melihat isi hp istri, istri melihat isi hp suami?

Alhamdulillah, saya dan istri termasuk menganut prinsip keterbukaan, kesepakatan, dan saling menjaga amanah di luar sedari awal. Jadi, kami tidak pernah ada masalah apabila dia membuka hp saya, dan saya membuka hp-nya.

Apakah tidak terkena ayat : ?

وَلَا تَجَسَّسُوا

"Dan janganlah kalian memata-matai." [Al-Hujurat : 12]

::. Apabila sudah ada kesepakatan dan izin dari awal, maka ini bukanlah memata-matai.

Bagaimana jika pasangannya marah?

::. Dimaklumi apabila si istri atau si suami merasa kesal karena mungkin tidak ada izin sebelumnya atau diam-diam. Tapi seharusnya marah pun tidak perlu sampai sebegitu marahnya apabila memang "tidak ada apa-apa" didalam hp-nya, baik itu whatsapp, fb, instagram, maupun aplikasi sosial lainnya. Menjadi tidak wajar apabila marah sampai membentak dan mendiamkan pasangannya.

Bagaimana dengan privasi pasangan?

::. Apa yang dinamakan privasi itu? Bagi saya pribadi, privasi saya adalah ketika saya membaca buku, menulis sesuatu di laptop, mengajak jalan si kecil, ataupun ketika mengaji atau kumpul-kumpul bareng teman-teman grup ngaji dengan para asatidz, dan itu pun istri tahu person-personnya. Yang pasti, saya pun juga tahu teman-teman ngajinya istri dan saya tidak akan mengganggunya apabila ia sedang berkegiatan dengan teman-temannya ini. Butuh kepercayaan dan saling menjaga amanah.

Bagaimana bila memang ditemukan tanda-tanda penyimpangan di hp-nya?

::. Jangan pernah mendiamkan hal-hal seperti ini, menyimpan sendirian dalam hati, sedih sendiri, dan sebagainya. Tanya, kroscek, dan tabayyun. Jangan pula takut pada marahnya. Kita mengkroscek hal seperti ini berarti kita mencegah pasangan jatuh ke lembah nista dan ini adalah salah satu bentuk sayang pada pasangan apabila kita mencintainya. Kita cemburu, itu berarti kita masih punya ghirah untuk menjaga keutuhan rumah tangga.

Dan mungkin sudah hukum alam atau sunnatullah, penyimpangan, atau bibit-bibit selingkuh, mau diumpetin serapi apapun niscaya PASTI akan ketahuan, seakan Allah Ta'ala memang tidak ridha dengan "main belakang". Maka, jangan memelihara bara dalam sekam. Penyesalan selalu datang terlambat, ketika rumah tangga sudah hancur berantakan.

Syaikh Wahbah Az-Zuhaili rahimahullah berkata :

التراضي أساس في عقد الزواج

"Sikap saling meridhai itu adalah pokok dalam akad perkawinan."

Wallahu a'lam.

Ia Tetap Bertahan Bersamamu

Jangan sampai
Engkau kehilangan pasangan halal-mu

Yang telah tahu berbagai kekurangan-mu

Tapi ia memilih bertahan bersama-mu

SAMPAI KE SURGA ALLAH SELAMANYA
Ketika engkau terkaget

Setelah menikah, tersingkaplah aib dan kekurangannya

Pasangan-mu pun juga bisa jadi terkaget

Karena engkaupun punya aib dan kekurangan
Tapi janganlah aib dan kekurangan terus yang teringat

Kebaikan pasanganmu sangat banyak

Coba ingat kembali janji dan tekad di awal pernikahan

Susah senang bersama

Baiknya dinikmati bersama dan saling berbagi

kurangnya saling mengisi dan saling menasehati
Mungkin kurangnya komunikasi

Tidak sempat ngobrol sejenak ba’da subuh

Tidak sempat saling berkisah dan bercurhat sebelum tidur

Waktu itu selalu ada

Sebelum mata terpejam dan sebelum tidur menyapa malam

Suami-istri bercengkrama hangat dan bercanda

Kepala istri bersandar nyaman di bahu suami

Lengan suami memeluk hangat bahu

Semua masalah dan penat

Terselesai-lah malam itu juga dengan izin Allah
Menikah adalah seni mengalah

Fokus menunaikan kewajiban masing-masing

Maka hak itu akan mengalir dengan sendirinya
Sudah saatnya intropeksi

Dahulu engkau memilihnya

Apakah utamanya karena Allah dan agama

Atau karena dunia saja (cantik, ganteng, kaya, jabatan)?
Engkau harus memilih ia karena Allah

Jika tidak, segera ber-istigfar dan perbaiki niatmu sekarang

Masih ada waktu memperbaiki dan menjalani dengan indah
Karena …
ما كان لله أبقي
“Apa-apa yang karena Allah maka akan kekal”
Jangan hanya bercita-cita

Cinta berujung terbelah memisah

Ketika maut menjemput,

Tetapi cinta karena Allah

Abadi berdua selamanya di surga
Bagi yang akan memilih, pilihlah ia karena Allah dan sesuai petunjuk syariat, yaitu agama dan akhlak yang utama

@ Di antara langit dan bumi Allah, Pesawat Citilink Jogja-Jakarta
Penyusun: Raehanul Bahraen
Artikel www.muslimafiyah.com

https://muslimafiyah.com/ia-tetap-bertahan-bersama-mu.html

HARUSKAH ANAKKU RANGKING 1 ?

Di kelasnya terdapat 50 orang murid, setiap kali ujian, anak perempuanku tetap mendapat ranking ke-23. Lambat laun membuat dia mendapatkan nama panggilan dengan nomor ini, dia juga menjadi murid kualitas menengah yang sesungguhnya. Sebagai orangtua, kami merasa nama panggilan ini kurang enak didengar,namun ternyata anak kami  menerimanya dengan senang hati.

Suamiku mengeluhkan ke padaku, setiap kali ada kegiatan di perusahaannya atau pertemuan alumni sekolahnya, setiap orang selalu memuji-muji “Superman cilik” di rumah masing-masing, sedangkan dia hanya bisa menjadi pendengar saja. Anak keluarga orang, bukan saja memiliki nilai sekolah yang menonjol, juga memiliki banyak keahlian khusus. Sedangkan anak kami rangking nomor 23 dan tidak memiliki sesuatu pun untuk ditonjolkan. Dari itu, setiap kali suamiku menonton penampilan anak-anak berbakat luar biasa dalam acara televisi, timbul keirian dalam hatinya sampai matanya begitu bersinar-sinar.

Kemudian ketika dia membaca sebuah berita tentang seorang anak berusia 9 tahun yang masuk perguruan tinggi, dia bertanya dengan hati kepada anak kami: “Anakku, kenapa kamu tidak terlahir sebagai anak dengan kepandaian luar biasa?” Anak kami menjawab: “Itu karena ayah juga bukan seorang ayah dengan kepandaian yang luar biasa”. Suamiku menjadi tidak bisa berkata apa-apa lagi, saya tanpa tertahankan tertawa sendiri.

Pada pertengahan musim, semua sanak keluarga berkumpul bersama untuk merayakannya, sehingga memenuhi satu ruangan besar di sebuah restoran. Topik pembicaraan semua orang perlahan-lahan mulai beralih kepada anak masing-masing. Dalam kemeriahan suasana, anak-anak ditanyakan apakah cita-cita mereka di masa mendatang? Ada yang menjawab akan menjadi pemain piano, bintang film atau politikus, tiada seorang pun yang terlihat takut mengutarakannya di depan orang banyak, bahkan anak perempuan berusia 4½ tahun juga menyatakan bahwa kelak akan menjadi seorang pembawa acara di televisi, semua orang bertepuk tangan mendengarnya.

Anak perempuan kami yang berusia 15 tahun terlihat sangat sibuk sekali sedang membantu anak-anak kecil lainnya makan. Semua orang mendadak teringat kalau hanya dia yang belum mengutarakan cita-citanya kelak. Di bawah desakan orang banyak, akhirnya dia menjawab dengan sungguh-sungguh: Kelak ketika aku dewasa, cita-cita pertamaku adalah menjadi seorang guru TK, memandu anak-anak menyanyi, menari lalu bermain-main. Demi menunjukkan kesopanan, semua orang tetap memberikan pujian, kemudian menanyakan akan cita-cita keduanya. Dia menjawab dengan besar hati: “Saya ingin menjadi seorang ibu, mengenakan kain celemek bergambar Doraemon dan memasak di dapur, kemudian membacakan cerita untuk anak-anakku dan membawa mereka ke teras rumah untuk melihat bintang”. Semua sanak keluarga tertegun dibuatnya, saling pandang tanpa tahu akan berkata apa lagi. Raut muka suamiku menjadi canggung sekali.

Sepulangnya kami kembali ke rumah, suamiku mengeluhkan ke padaku, apakah aku akan membiarkan anak perempuan kami kelak menjadi guru TK?

Apakah kami tetap akan membiarkannya menjadi murid kualitas menengah?

Sebetulnya, kami juga telah berusaha banyak. Demi meningkatkan nilai sekolahnya, kami pernah mencarikan guru les pribadi dan mendaftarkannya di tempat bimbingan belajar, juga membelikan berbagai materi belajar untuknya.Anak kami juga sangat penurut, dia tidak lagi membaca komik lagi, tidak ikut kelas origami lagi, tidur bermalas-malasan di akhir minggu tidak dilakukan lagi.Bagai seekor burung kecil yang kelelahan, dia ikut les belajar sambung menyambung, buku pelajaran dan buku latihan dikerjakan terus tanpa henti. Namun biar bagaimana pun dia tetap seorang anak-anak, tubuhnya tidak bisa bertahan lagi dan terserang flu berat. Biar sedang diinfus dan terbaring di ranjang, dia tetap bersikeras mengerjakan tugas pelajaran, akhirnya dia terserang radang paru-paru. Setelah sembuh, wajahnya terlihat semakin kurus. Akan tetapi ternyata hasil ujian semesternya membuat kami tidak tahu mau tertawa atau menangis, tetap saja rangking 23. Kemudian, kami juga mencoba untuk memberikan penambah gizi dan rangsangan hadiah, setelah berulang-ulang menjalaninya, ternyata wajah anak perempuanku kondisinya semakin pucat saja.

Apalagi, setiap kali akan menghadapi ujian, dia mulai tidak bisa makan dan tidak bisa tidur, terus mencucurkan keringat dingin, terakhir hasil ujiannya malah menjadi nomor 33 yang mengejutkan kami. Aku dan suamiku secara diam-diam melepaskan aksi tekanan, dan membantunya tumbuh normal.

Dia kembali pada jam belajar dan istirahatnya yang normal, kami mengembalikan haknya untuk membaca komik, mengijinkannya untuk berlangganan majalah “Humor anak-anak” dan sejenisnya, sehingga rumah kami menjadi tenteram damai kembali. Kami memang sangat sayang pada anak kami ini, namun kami sungguh tidak memahami akan nilai sekolahnya.

Pada akhir minggu, teman-teman sekerja pergi rekreasi bersama. Semua orang mempersiapkan lauk terbaik dari masing-masing, dengan membawa serta suami dan anak untuk piknik. Sepanjang perjalanan penuh dengan tawa dan guyonan, ada anak yang bernyanyi, ada juga yang memperagakan karya seni pendek.

Anak kami tiada keahlian khusus, hanya terus bertepuk tangan dengan sangat gembira.

Dia sering kali lari ke belakang untuk mengawasi bahan makanan. Merapikan kembali kotak makanan yang terlihat sedikit miring, mengetatkan tutup botol yang longgar atau mengelap wadah sayuran yang bocor ke luar. Dia sibuk sekali bagaikan seorang pengurus rumah tangga cilik.

Ketika makan terjadi satu kejadian di luar dugaan. Ada dua orang anak lelaki, satunya adalah bakat matematika, satunya lagi adalah ahli bahasa Inggris. Kedua anak ini secara bersamaan berebut sebuah kue beras yang di atas piring, tiada seorang pun yang mau melepaskannya, juga tidak mau saling membaginya. Walau banyak makanan enak terus dihidangkan, mereka sama sekali tidak mau peduli. Orang dewasa terus membujuk mereka, namun tidak ada hasilnya. Terakhir anak kami yang menyelesaikan masalah sulit ini dengan cara yang sederhana yaitu lempar koin untuk menentukan siapa yang menang.

Ketika pulang, jalanan macet dan anak-anak mulai terlihat gelisah. Anakku membuat guyonan dan terus membuat orang-orang semobil tertawa tanpa henti. Tangannya juga tidak pernah berhenti, dia mengguntingkan banyak bentuk binatang kecil dari kotak bekas tempat makanan, membuat anak-anak ini terus memberi pujian. Sampai ketika turun dari mobil bus, setiap orang mendapatkan guntingan kertas hewan shio-nya masing-masing.

Ketika mendengar anak-anak terus berterima kasih, tanpa tertahankan pada wajah suamiku timbul senyum bangga.

Selepas ujian semester, aku menerima telpon dari wali kelas anakku.

Pertama-tama mendapatkan kabar kalau nilai sekolah anakku tetap kualitas menengah. Namun dia mengatakan ada satu hal aneh yang hendak diberitahukannya, hal yang pertama kali ditemukannya selama lebih dari 30 tahun mengajar.Dalam ujian bahasa ada sebuah soal tambahan, yaitu siapa teman sekelas yang paling kamu kagumi dan alasannya.

Selain anakku, semua teman sekelasnya menuliskan nama anakku.

Alasannya pun sangat beragam : antusias membantu orang, sangat memegang janji, tidak mudah marah, enak berteman, dan lain-lain, paling banyak ditulis adalah optimis dan humoris.

Wali kelasnya mengatakan banyak usul agar dia dijadikan ketua kelas saja.

Dia memberi pujian: “Anak anda ini, walau nilai sekolahnya biasa-biasa saja, namun kalau bertingkah laku terhadap orang, benar-benar nomor satu”.

Saya bercanda pada anakku, kamu sudah mau jadi pahlawan. Anakku yang sedang merajut selendang leher terlebih menundukkan kepalanya dan berpikir sebentar, dia lalu menjawab dengan sungguh-sungguh: “Guru pernah mengatakan sebuah pepatah, ketika pahlawan lewat, harus ada orang yang bertepuk tangan di tepi jalan.”

Dia pun pelan-pelan melanjutkan: “Ibu, aku tidak mau jadi Pahlawan aku mau jadi orang yang bertepuk tangan di tepi jalan.” Aku terkejut mendengarnya dan mengamatinya dengan seksama.
Dia tetap diam sambil merajut benang wolnya, benang warna merah muda dipilinnya bolak balik di jarum, sepertinya waktu yang berjalan di tangannya mengeluarkan kuncup bunga.
Dalam hatiku pun terasa hangat seketika.

Pada ketika itu, hatiku tergugah oleh anak perempuan yang tidak ingin menjadi pahlawan ini. Di dunia ini ada berapa banyak orang yang bercita-cita ingin menjadi seorang pahlawan, namun akhirnya menjadi seorang biasa di dunia fana ini.Jika berada dalam kondisi sehat, jika hidup dengan bahagia, jika tidak ada rasa bersalah dalam hati, mengapa anak-anak kita tidak boleh menjadi seorang biasa yang baik hati dan jujur.

Jika anakku besar nanti, dia pasti menjadi seorang isteri yang berbudi luhur, seorang ibu yang lemah lembut, bahkan menjadi seorang teman kerja yang gemar membantu, tetangga yang ramah dan baik.
Apalagi dia mendapatkan ranking 23 dari 50 orang murid di kelasnya, kenapa kami masih tidak merasa senang dan tidak merasa puas?

Masih ingin dirinya lebih hebat dari orang lain dan lebih menonjol lagi?

Lalu bagaimana dengan sisa 27 orang anak-anak di belakang anakku? Jika kami adalah orangtua mereka, bagaimana perasaan kami?

Sumber: http://abul-jauzaa.blogspot.com/2013/07/haruskah-anakku-rangking-1.html

♥♥♥ MISTERI CINTA ♥♥♥

Duhai cinta......

♥ kisah A'sya

Seorang penyair bernama A'sya Pernah melihat seorang wanita yg dia kagumi kecantikannya di sebuah istana...A'sya pun mencintainya.
Tetapi sayang gadis itu ternyata telah menambatkan panah asmaranya pada seorang laki-laki lain. Apakah berakhir sampai di situ??
Ternyata tidak, sebab laki-itu juga telah melabuhkan bahtera cintanya pada pemudi lain.
Akhirnya A'sya menuliskan isi hatinya dalam sebentuk syair,ia berkata:"

عُلّقْتُهَا عَرَضـاً ، وَعُلّقَـتْ رَجُـلا غَيرِي = وَعُلّقَ  أُخرَى غَيرَهَا الرَّجـل

Aku mencintainya (seorang wanita) Tetapi dia mencintai lelaki lain Dan ternyata laki-laki itu mencintai wanita yang lain pula.

♥ Bertepuk sebelah tangan

Kata orang "alangkah sakitnya cinta yang bertepuk sebelah tangan".
Betapa tidak....bagaimana rasanya hati jika ternyata : gayung kasih yang telah diulurkan tak bersambut.... ketika asa yg telah diukir dan dipatrikan dalam hati untuk mempersunting sang bunga ternyata ditolak.....
Sakit...sakit... Kecewa...kecewa... Bahkan terkadang orang yg dimabuk cinta rela menempuh segala macam cara untuk mencapai tujuannya.
Tak perduli harus mandi kembang tujuh rupa..... Mereguk air dari tujuh perigi.... Memakai jampi dan mantera... Semua nekat dikerjakan jika dapat menemui pujaannya.
tidak peduli walaupun istri orang....istri teman....dia tetap nekat dan jalan.

♥ Ketika harap itu datang, siapkan diri untuk kecewa.

Setiap insan berhak punya harapan, cita cita dan mimpi-mimpi yang ingin ia raih.
Tetapi ibarat kata penyair:
ليس كل ما يتمناه المرء يدركه تجري الرياح بما لا تهوي السفن

"Tidak setiap apa yg diinginkan seserang akan dia capai.... Terkadang angin berhembus ke arah yg tidak diinginkan nahkoda...
Setiap orang telah memiliki garis takdir yang tidak akan dapat dia robah..jika Allah tidak berkendak dengan segudang hikmah dibalik kegagalan tersebut....yakinlah itu yang terbaik untuk anda, wakaupun terkadang terasa begitu pahitnya berusa sabar menerima takdir.

♥ pria idola yang sempurna

Datang seorang wanita kepada Nabi -shalallahu alaihi wa sallam- menyerahkan dirinya untuk dinikahi Nabi. Beliau memperhatikan wanita itu dari atas hingga ke bawah...namun Rasulullah tidak berkata apapun hingga wanita tersebut duduk menunggu.
Melihat Rasulullah tidak berkata apapun tentang tawaran wanita tersebut, maka berdirilah seseorang lelaki dari sahabat dan berkata: "wahai baginda Rasul....jikalah anda tidak tertarik kpd wanita ini maka nikahkanlah saya padanya....singkat cerita Nabipun menikahkan mereka dengan mahar mengajarkan sang istri Alquran.
Ternyata wanita yang tidak menarik hati Nabi untuk menikahinya, begitu anggun dan jelitanya di mata sahabat beliau. Itulah misteri cinta........

♥ misteri cinta mughits

Ada seorang budak bernama Muhgits yang sangat mencintai istrinya Barirah yg juga berstatus budak sepertinya.
Keduanya dipertemukan dalam talian pernikahan yang sebenarnya Barirah sendiri terkesan hanyalah memenuhi perintah tuannya untuk menerima Mughits sebagai suami.
Biduk rumah tangga yang mereka jalani tidaklah sebagaimana yang terjadi antara pasangan suami istri yang saling mencinta.
Betapa besarnya cinta Muhgits kepada Barirah dan betapa besarnya kebencian Barirah pada Mughits, namun subhanallah...ternyata kebenciannya tidak mengurangi baktinya kpd suaminya hingga Barirah melahirkan anak untuknya.
Tatkala Barirah berubah status menjadi merdeka dengan bantuan Aisyah -radhiallahu Anha- yang menebusnya dari tuannya, maka secara otomatis dia punya hak untuk meninggalkan suaminya yg masih berstatus budak.
Barirah memilih meninggalkan Mughits dan menyudahi petualangan rumah tangga keduanya yang kandas terempas badai kebencian Barirah kepada suaminya.
Ibarat memikul beban yang menggunung selama bertahun-tahun, kini Barirah telah melepaskan beban tersebut. Betapa suka citanya Barirah merasakan udara kebebasan dari belenggu Mughits.
Pergilah Barirah dari rumah suaminya menuju rumah Aisyah sebagai teman dekat yang paling memahami isi hatinya, sementara Mughits berjalan mengekorinya dari belakang membujuk rayu agar Barirah sudi mempertahankan pernikahan dengannya.
Sambil menangis Mughits mendatangi Nabi dan memohon pada Beliau untuk menasehati Barirah dan memintakan syafaat beliau agar Barirah tidak meninggalkannya.
Tetapi hati Barirah telah membeku menerima Mughits, sekalipun Mughits meminta Nabi secara langsung untuk bicara padanya.
Mendengarkan anjuran Nabi yang berkata padanya: wahai Barirah ....kembalilah engkau pada mughits!!
Dengan segenap keberanian yang dia kumpulkan Barirah menjawab perkataan Nabi: wahai Rasulullah apakah ini adalah intruksi anda yang tidak boleh saya tentang....atau ini hanyalah syafaat??
Rasullah-shallahu alaihi wasallam menjawab: saya hanyalah sekedar memohonkan baginya syafaat jika kau sudi menerimanya.
Barirah berkata: jika demikian halnya wahai Rasulullah maka ketahuilah bahwa saya tidak pernah mencintai Mughits dan tidak akan pernah kembali padanya.
Dengan gontai Mughits kembali kpd tuannya dengan segala kekecewaan bahwa cintanya ditolak Barirah.
Melihat hal itu Nabi terenyuh dan berkata: betapa takjubnya diriku melihat besarnya cinta Mughits kepada Barirah dan betapa besarnya kebencian Barirah kepada Mughits.

♥ kekasih yang tidak pernah mengecewakan anda

Kepada sahabat yang pernah ditolak cintanya.... Kepada orang-orang yang sedang dilanda kasmaran menunggu jawaban yang tidak pasti.....
Jika cinta anda ditolak... Datangilah pintu kekasih yg tidak pernah mengecewakan anda.... Kekasih yang senantiasa mencintai anda...lebih dari anda mencintai diri anda sendiri...
Kekasih abadi yang tidak akan pernah meninggalkan anda sesaatpun... Kekasih yang senantiasa menjaga anda dikala tidur dan bangun....
Kekasih yang senantiasa memaafkan kekeliruan anda....
Dialah Allah....
Dijamin....anda tidak akan pernah kecewa.

Batam, ba'da isya pulang ta'lim  28 jumada ula 1435 h/29 april 2014
Teruntuk saudara-saudariku yang lagi galau.

Abu fairuz.

Gabung di channel: https://telegram.me/salafiunsri

KEKELIRUAN BUKU PENDIDIKAN YANG MENGHARAMKAN KATA "JANGAN" PADA ANAK

Salah seorang pendidik pernah berkata, "Pintu terbesar yang mudah dimasuki Yahudi ada dua, yaitu dunia psikologi dan dunia pendidikan."

Karena itulah, berangkat dari hal ini. Kita akan mengupas beberapa "kekeliruan" pada buku-buku pendidikan, seminar, teori pendidikan, dll. Yang kadang sudah menjangkiti beberapa pendidik muslim, para ayah dan ibu, yaitu melarang berkata "Jangan" pada Anak. Beberapa waktu lalu, saya sepakat dengan hal ini. Maka dengan tertulisnya artikel ini, saya bertaubat kepada Alloh Subhanahu wa ta'ala dari bahayanya doktrin di atas.

Mari kita lihat, beberapa perkataan 'dalam pendidikan' tentang larangan mengucapkan kata 'jangan' pada anak, misalnya ".. gunakan kata-kata preventif, seperti hati-hati,berhenti, diam di tempat, atau stop. Itu sebabnya kita sebaiknya tidak menggunakan kata 'jangan' karena alam bawah sadar manusia tidak merespons dengan cepat kata "jangan.."

Pada media online detik.com, pernah tertulis artikel, 'Begini Caranya Melarang Anak Tanpa Gunakan Kata 'Tidak' atau 'Jangan', bertuliskan demikian: "..Tak usah bingung, untuk melarang anak tak melulu harus dengan kata jangan atau tidak..." Pada sebuah artikel lain, berjudul, "Mendidik Anak Tanpa Menggunakan Kata JANGAN” tertulis, "Kata 'jangan' akan memberikan nuansa negatif dan larangan dari kita sebagai orangtua, maka dari itu coba untuk mengganti dengan kata yang lebih positif dan berikan alasan yang dapat diterima anak..."

Nah, inilah syubhat (keraguan/kerancuan). Indah nampaknya, tapi di dalamnya terkandung bahaya yang fatal. Mari kita bahas syubhat yang mereka gelontorkan. Sebelumnya, kalau kita mau teliti, mari kita tanyakan kepada mereka yang melarang kata 'jangan', apakah ini punya landasan dalam Al-Qur'an dan hadits? Apakah semua ayat di dalam al-Qur'an tidak menggunakan kata "Laa (jangan)"?

Mereka pun mengatakan jangan terlalu sering mengatakan jangan. Sungguh mereka lupa bahwa lebih dari 500 kalimat dalam ayat Al-Qur’an menggunakan kata “jangan". Allohu Akbar, banyak sekali! Mau dikemanakan kebenaran ini? Apa mau dibuang? Apa mau lebih memilih teori-teori yang dhoif?

Kalau mereka mengatakan kata jangan bukan tindakan preventif (pencegahan), maka kita tanya, apakah Anda mengenal Luqman Al-Hakim? (Surah Luqman ayat 12 sampai 19).

Kisah ini dibuka dengan penekanan Allah bahwa Luqman itu orang yang diberi hikmah, orang arif yang secara tersirat kita diperintahkan untuk meneladaninya (“walaqod ataina luqmanal hikmah….” . dst). Apa bunyi ayat yang kemudian muncul? Ayat 13 lebih tegas menceritakan bahwa Luqman itu berkata kepada anaknya, “Wahai anakku. JANGANLAH engkau menyekutukan Allah. Sesungguhnya syirik itu termasuk kezhaliman yang paling besar”.

Inilah bentuk tindakan preventif yang sangat tegas dalam al-Qur'an. Sampai pada ayat 19, ada 4 kata “laa" (jangan) yang dilontarkan oleh Luqman kepada anaknya, yaitu “laa tusyrik billah”, “fa laa tuthi’humaa”, “Wa laa tusha’ir khaddaka linnaasi”, dan “wa laa tamsyi fil ardli maraha”.
Luqman tidak perlu mengganti kata “jangan menyekutukan Allah” dengan (misalnya) "esakanlah Allah”. Pun demikian dengan “Laa” yang lain, tidak diganti dengan kata-kata kebalikan yang bersifat anjuran.

Mengapa Luqmanul Hakim tidak menganti "jangan" dengan "diam/hati-hati"? Karena ini bimbingan Alloh. Perkataan "jangan" itu mudah dicerna oleh anak, sebagaimana penuturan Luqman Hakim kepada anaknya.

Dan perkataan "jangan" juga positif, tidak negatif. Ini semua bimbingan dari Alloh Subhanahu wa ta'ala, bukan teori pendidikan Yahudi.

Adakah pribadi psikolog atau pakar parenting pencetus aneka teori ‘modern’ yang melebihi kemuliaan dan senioritas Luqman? Tidak ada. Luqman bukan nabi, tetapi namanya diabadikan oleh Allah dalam Kitab suci karena ketinggian ilmunya. Dan tidak satupun ada nama psikolog yang kita temukan dalam kitabullah itu.

Membuang kata “jangan” justru menjadikan anak hanya dimanja oleh pilihan yang serba benar. Ia tidak memukul teman bukan karena mengerti bahwa memukul itu terlarang dalam agama, tetapi karena lebih memilih berdamai. Ia tidak sombong bukan karena kesombongan itu dosa, melainkan hanya karena menganggap rendah hati itu lebih aman baginya.

Dan kelak, ia tidak berzina bukan karena takut adzab Alloh, tetapi karena menganggap bahwa menahan nafsu itu pilihan yang dianjurkan orang tuanya.

Nas alulloha salaman wal afiyah. Anak-anak hasil didikan tanpa “jangan” berisiko tidak punya “sense of syariah” dan keterikatan hukum. Mereka akan sangat tidak peduli melihat kemaksiatan bertebaran, tidak perhatian lagi dengan amar ma'ruf nahi mungkar, tidak ada lagi minat untuk mendakwahi manusia yang dalam kondisi bersalah, karena dalam hatinya berkata “itu pilihan mereka, saya tidak demikian”.

Mereka bungkam melihat penistaan agama karena otaknya berbunyi “mereka memang begitu, yang penting saya tidak melakukannya”. Itulah sebenar-benar paham liberal, yang 'humanis’, toleran, dan menghargai pilihan-pilihan.

Jadi, bila kita yakini dan praktikkan teori parenting barat itu, maka sesungguhnya kita bersiap anak-anak kita tumbuh menjadi generasi liberal. Haruskah kita simpan saja Al-Qur’an di lemari paling dalam, dan kita lebih memilih teori2 yahudi? Astaghfirulloh!

[Rujukan: Al-Qur'an, Akh Budi, Akh Yazid (Abu Hanin)]

 https://www.facebook.com/mita.apriastuti/posts/1519282501685182

Seminggu Lagi Nikah, Lelaki Itu Zinai Calon Istri, Lalu Meninggal Dunia

Mari jadikan kisah berikut ini sebagai pelajaran, untuk tidak bermudah-mudahan dalam berinteraksi dengan lawan jenis. Apapun kondisinya. Bagaimanapun caranya. Terlebih lagi dengan bumbu “ta’aruf syar’i”, “khitbah”, namun tanpa diiringi dengan ilmu yang benar dalam penerapannya? Syaithan begitu bersemangatnya dalam menggelincirkan manusia. Apabila yang berlabel “aktivis dakwah” saja tergelincir dalam tipu muslihatnya, bagaimanatah lagi dengan kami yang sekadar berlabel ‘orang awam”?
 
“Ah, surga masih jauh.”

Setelah bertaburnya kisah kebajikan, izinkan kali ini saya justru mengajak untuk menggumamkan keluh syahdu itu dengan belajar dari jiwa pendosa. Jiwa yang pernah gagal dalam ujian kehidupan dariNya. Mengapa tidak? Bukankah Al Quran juga mengisahkan orang-orang gagal dan pendosa yang berhasil melesatkan dirinya jadi pribadi paling mulia?

Musa pernah membunuh orang. Yunus bahkan sempat lari dari tugas risalah yang seharusnya dia emban. Adam juga. Dia gagal dalam ujian untuk tak mendekat pada pohon yang diharamkan baginya. Tapi doa sesalnya diabadikan Al Quran. Kita membacanya penuh takjub dan khusyu’. “Rabb Pencipta kami, telah kami aniaya diri sendiri. Andai Kau tak sudi mengampuni dan menyayangi, niscaya jadilah kami termasuk mereka yang rugi-rugi.” Mereka pernah menjadi jiwa pendosa, tetapi sikap terbaik memuliakan kelanjutan sejarahnya.

Kini izinkan saya bercerita tentang seorang wanita yang selalu mengatakan bahwa dirinya jiwa pendosa. Kita mafhum, bahwa tiap pendosa yang bertaubat, berhijrah, dan berupaya memperbaiki diri umumnya tersuasanakan untuk membenci apa-apa yang terkait dengan masa lalunya. Hatinya tertuntun untuk tak suka pada tiap hal yang berhubungan dengan dosanya. Tapi bagaimana jika ujian berikut setelah taubat adalah untuk mencintai penanda dosanya?

Dan wanita dengan jubah panjang dan jilbab lebar warna ungu itu memang berjuang untuk mencintai penanda dosanya.

“Saya hanya ingin berbagi dan mohon doa agar dikuatkan”, ujarnya saat kami bertemu di suatu kota selepas sebuah acara yang menghadirkan saya sebagai penyampai madah. Didampingi ibunda dan adik lelakinya, dia mengisahkan lika-liku hidup yang mengharu-birukan hati. Meski sesekali menyeka wajah dan mata dengan sapu tangan, saya insyaf, dia jauh lebih tangguh dari saya.
“Ah, surga masih jauh.”

Kisahnya dimulai dengan cerita indah di semester akhir kuliah. Dia muslimah nan taat, aktivis dakwah yang tangguh, akhwat yang jadi teladan di kampus, dan penuh dengan prestasi yang menyemangati rekan-rekan. Kesyukurannya makin lengkap tatkala prosesnya untuk menikah lancar dan mudah. Dia tinggal menghitung hari. Detik demi detik serasa menyusupkan bahagia di nafasnya.

Ikhwan itu, sang calon suami, seorang lelaki yang mungkin jadi dambaan semua sebayanya. Dia berasal dari keluarga tokoh terpandang dan kaya raya, tapi jelas tak manja. Dikenal juga sebagai ‘pembesar’ di kalangan para aktivis, usaha yang dirintisnya sendiri sejak kuliah telah mengentas banyak kawan dan sungguh membanggakan. Awal-awal, si muslimah nan berasal dari keluarga biasa, seadanya, dan bersahaja itu tak percaya diri. Tapi niat baik dari masing-masing pihak mengatasi semuanya.

Tinggal sepekan lagi. Hari akad dan walimah itu tinggal tujuh hari menjelang, ketika sang ikhwan dengan mobil barunya datang ke rumah yang dikontraknya bersama akhwat-akhwat lain. Sang muslimah agak terkejut ketika si calon suami tampak sendiri. Ya, hari itu mereka berencana meninjau rumah calon tempat tinggal yang akan mereka surgakan bersama. Angkahnya, ibunda si lelaki dan adik perempuannya akan beserta agar batas syari’at tetap terjaga.

“’Afwan Ukhti, ibu dan adik tidak jadi ikut karena mendadak uwak masuk ICU tersebab serangan jantung”, ujar ikhwan berpenampilan eksekutif muda itu dengan wajah sesal dan merasa bersalah. “’Afwan juga, adakah beberapa akhwat teman Anti yang bisa mendampingi agar rencana hari ini tetap berjalan?”
“Sayangnya tidak ada. ‘Afwan, semua sedang ada acara dan keperluan lain. Bisakah ditunda?”
“Masalahnya besok saya harus berangkat keluar kota untuk beberapa hari. Sepertinya tak ada waktu lagi. Bagaimana?”

Akhirnya dengan memaksa dan membujuk, salah seorang kawan kontrakan sang Ukhti berkenan menemani mereka. Tetapi bi-idzniLlah, di tengah jalan sang teman ditelepon rekan lain untuk suatu keperluan yang katanya gawat dan darurat. “Saya menyesal membiarkannya turun di tengah perjalanan”, kata muslimah itu pada saya dengan sedikit isak. “Meskipun kami jaga sebaik-baiknya dengan duduk beda baris, dia di depan dan saya di belakang, saya insyaf, itu awal semua petakanya. Kami terlalu memudah-mudahkan. AstaghfiruLlah.”

Ringkas cerita, mereka akhirnya harus berdua saja meninjau rumah baru tempat kelak surga cinta itu akan dibangun. Rumah itu tak besar. Tapi asri dan nyaman. Tidak megah. Tapi anggun dan teduh.

Saat sang muslimah pamit ke kamar mandi untuk hajatnya, dengan bantuan seekor kecoa yang membuatnya berteriak ketakutan, syaithan bekerja dengan kelihaian menakjubkan. “Di rumah yang seharusnya kami bangun surga dalam ridhaNya, kami jatuh terjerembab ke neraka. Kami melakukan dosa besar terlaknat itu”, dia tersedu. Saya tak tega memandang dia dan sang ibunda yang menggugu. Saya alihkan mata saya pada adik lelakinya di sebalik pintu. Dia tampak menimang seorang anak perempuan kecil.

“Kisahnya tak berhenti sampai di situ”, lanjutnya setelah agak tenang. “Pulang dari sana kami berada dalam gejolak rasa yang sungguh menyiksa. Kami marah. Marah pada diri kami. Marah pada adik dan ibu. Marah pada kawan yang memaksa turun di jalan. Marah pada kecoa itu. Kami kalut. Kami sedih. Merasa kotor. Merasa jijik. Saya terus menangis di jok belakang. Dia menyetir dengan galau. Sesal itu menyakitkan sekali. Kami kacau. Kami merasa hancur.”

Dan kecelakaan itupun terjadi. Mobil mereka menghantam truk pengangkut kayu di tikungan. Tepat sepekan sebelum pernikahan.

“Setelah hampir empat bulan koma”, sambungnya, “Akhirnya saya sadar. Pemulihan yang sungguh memakan waktu itu diperberat oleh kabar yang awalnya saya bingung harus mengucap apa. Saya hamil. Saya mengandung. Perzinaan terdosa itu membuahkan karunia.” Saya takjub pada pilihan katanya. Dia menyebutnya “karunia”. Sungguh tak mudah untuk mengucap itu bagi orang yang terluka oleh dosa.
“Yang lebih membuat saya merasa langit runtuh dan bumi menghimpit adalah”, katanya terisak lagi, “Ternyata calon suami saya, ayah dari anak saya, meninggal di tempat dalam kecelakaan itu.”

“Subhanallah”, saya memekik pelan dengan hati menjerit. Saya pandangi gadis kecil yang kini digendong oleh sang paman itu. Engkaulah rupanya Nak, penanda dosa yang harus dicintai itu. Engkaulah rupanya Nak, karunia yang menyertai kekhilafan orangtuamu. Engkaulah rupanya Nak, ujian yang datang setelah ujian. Seperti perut ikan yang menelan Yunus setelah dia tak sabar menyeru kaumnya.

“Doakan saya kuat Ustadz”, ujarnya. Tiba-tiba, panggilan “Ustadz” itu terasa menyengat saya. Sergapan rasa tak pantas serasa melumuri seluruh tubuh. Bagaimana saya akan berkata-kata di hadapan seorang yang begitu tegar menanggung semua derita, bahkan ketika keluarga almarhum calon suaminya mencampakkannya begitu rupa. Saya masih bingung alangkah teganya mereka, keluarga yang konon kaya dan terhormat itu, mengatakan, “Bagaimana kami bisa percaya bahwa itu cucu kami dan bukan hasil ketaksenonohanmu dengan pria lain yang membuat putra kami tersayang meninggal karena frustrasi?”

“Doakan saya Ustadz”, kembali dia menyentak. “Semoga keteguhan dan kesabaran saya atas ujian ini tak berubah menjadi kekerasan hati dan tak tahu malu. Dan semoga sesal dan taubat ini tak menghalangi saya dari mencintai anak itu sepenuh hati.” Aduhai, surga masih jauh. Bahkan pinta doanya pun menakjubkan.
Allah, sayangilah jiwa-jiwa pendosa yang memperbaiki diri dengan sepenuh hati. Cuci dia dari dosa-dosa masa lalu dengan kesabarannya meniti hari-hari bersama sang buah hati. Allah, balasi tiap kegigihannya mencintai penanda dosa dengan kemuliaan di sisiMu dan di sisi orang-orang beriman. Allah, sebab ayahnya telah Kau panggil, kami titipkan anak manis dan shalihah ini ke dalam pengasuhanMu nan Maha Rahman dan Rahim.

Allah, jangan pula izinkan hati kami sesedikit apapun menghina jiwa-jiwa pendosa. Sebab ada kata-kata Imam Ahmad ibn Hanbal dalam Kitab Az Zuhd yang selalu menginsyafkan kami. “Sejak dulu kami menyepakati”, tulis beliau, “Bahwa jika seseorang menghina saudara mukminnya atas suatu dosa, dia takkan mati sampai Allah mengujinya dengan dosa yang semisal dengannya.” [Akhwatmuslimah.com]

Sumber :  Buku ‘Menyimak Kicau Merajut Makna’ ust. Salim A. Fillah, diceritakan kisah serupa berdasarkan penuturan si perempuan kepada beliau. Judul asli,  ‘Mencintai Penanda Dosa’, Hidayatullah.com, yhougam.wordpress.com

RECENT POSTS

RECENT COMMENTS